I for Introvert

Apakah Kamu seorang introvert, extrovert, atau ambivert?

Beberapa online test yang gw ikuti menunjukkan bahwa gw adalah seorang introvert. Tes yang lebih detail menunjukkan bahwa gw seorang ambivert yang memiliki sedikit kecenderungan untuk lebih introvert daripada extrovert.

Berdasarkan beberapa pengalaman hidup yang cukup terkenang (ceileh), gw sempat menduga bahwa gw adalah seorang extrovert. Kalau bertanya pada teman-teman dekat gw di Indonesia, gw yakin mereka akan menebak hal yang sama karena gw terbilang talkactive, alias bawel. Tinggal di Groningen membuat gw disadarkan kembali bahwa gw adalah seorang ambivert yang cenderung introvert. I don’t hang out except with my family. Mungkin orang-orang akan mengenal gw sebagai seorang pendiam, itu juga kalau pada tau nama gw.

IMG_4473Quiet – Susan Cain (Goodreads 4.02/5, from 189,000++ ratings)

Buku Quiet ini sempat muncul di feed instagram Teh Ninit Yunita beberapa bulan yang lalu. Gw langsung tertarik. Setelah berkontemplasi beberapa minggu karena harganya masih di atas 10 Euro, akhirnya gw membeli buku tersebut dan gw tidak menyesal😀 Gw merasa lebih mengerti sisi introvert dalam diri gw. Bonusnya adalah Bab terakhir yang membahas mengenai pengasuhan anak introvert. Ya, gw merasa meisje-H adalah seorang anak yang introvert. Tidak heran sih, kedua orang tuanya adalah ambivert yang cenderung introvert.

Gw tidak akan me-review buku Quiet pada tulisan ini, tapi gw akan mencoba mengambil beberapa poin yang relevan dalam kehidupan gw dengan bahasa gw sendiri. Continue reading

Tentang Buku Anak-anak

Postingan ini dibuat dalam rangka World Book Day yang jatuh setiap tanggal 23 April (kecuali di UK dan Irlandia). Deeuh alesan aja sih, soalnya kalo enggak gw gak bakal posting-posting.  Gw mau coba membahas sedikit (atau banyak?) tentang kisah dibalik buku-bukunya meisje-H, me-review beberapa di antaranya yang saat ini menjadi favorit si anak, dan tak lupa favorit emaknya.

IMG_3474

The Beginning
Ada quote yang mengatakan, if you don’t like to read you haven’t found the right book. Kalau menterjemahkan dari quote tersebut, artinya meisje-H pertama kali menemukan “the right book” di usia 7 bulan saat gw belikan touch and feel board book berjudul That’s Not My Kitten (terinspirasi dari buku versi penguin di rumah Tante Intan). Sebelumnya dia punya 2 buah soft books yang rada-rada dicuekin. Lucunya, setelah lewat 1 tahun dia malah tertarik lagi pada kedua buku bayi tersebut.

Current Habit
Sebelum tidur, meisje-H biasa dibacakan kurang lebih 3 buku, termasuk saat traveling. Dalam kesehariannya, pada waktu yang random juga selalu ada saat di mana dia meminta dipangku dan dibacakan buku pilihannya dengan jumlah yang beragam.

The Story Behind Her Books
Beberapa hari yang lalu, gw merapikan ulang pojok bermain meisje-H termasuk rak buku mini-nya. Gw mendapati baik mainan dan buku meisje-H jumlahnya relatif sedikit. Mengenai bukunya yang relatif sedikit (i.e lemari mini-nya masih banyak space kosong), gw cukup concern kemudian berpikir… lebih banyak punya buku itu lebih bagus, gak sih? Continue reading

Mommy’s Side: The Sleep Training Story

Sebelum menginjak usia 6 bulan, meisje-H adalah seorang ‘penidur yang baik’ (apa dong good sleeper dalam bahasa Indonesia?). Dia bisa ditidurkan di crib-nya setelah menyusu sekitar jam 8-9 malam, dibangunkan/terbangun sekitar pukul 11-12 malam, kemudian bangun lagi pukul 4 pagi, dan terakhir betul-betul bangun jam 7 pagi. Tidur siang-nya sampai 1 tahun juga masih 2 kali, walaupun sama-sama masih lewat proses menyusu.

Setelah melewati usia 6 bulan, herannya meisje-H malah lebih sering terbangun. Apalagi setelah lebih aktif, bisa duduk dan berdiri, bangunnya sampai 4-5 kali setiap malamnya. Gw yang sangat mencintai tidur ini pun memutuskan untuk kembali co-sleeping setelah bangun malam-nya yang pertama (alias setelah orang tuanya bersiap tidur), biar tinggal lep, beres deh, tidur gw tidak terganggu setiap malamnya.

Bobo jaman sebelum pakai slaapzak

Bobo di zaman pra-slaapzak

Co-sleeping merupakan common practice di Indonesia, tapi tidak dengan di sini. Seandainya kami bilang ke dokter atau suster di Posyandu sini, kami pasti dinasehati. Jadi kami selalu bilang meisje-H tidur di crib-nya (gak boong dong? Kan iya sampe jam 11 :p ) tetapi masih harus menyusu untuk tidur. Untuk masalah menyusu sebagai sleep association, si suster tidak bisa menyarankan apa-apa. Mereka bilang, itu masalah budaya. Di Belanda (atau barat? Kecuali yang mengikuti ajarannya Dr. Sears), di awal sleep training anak akan dibiarkan menangis sampai tertidur sendiri (cry-it-out) dan pada akhirnya akan mengerti untuk tertidur sendiri tanpa menangis atau hanya menangis sedikit. Yah mungkin juga itu alasannya sebagian orang tua di sini memberi anaknya pacifier, ya sebagai pengganti sleep association itu lah.

Menginjak usia 1 tahun dan menjelang gw kuliah lagi, gw berpikir untuk mengajari meisje-H tidur tanpa disusui terlebih dahulu agar dia terbiasa melakukannya di daycare. Kegiatan menyusu tetap ada, tetapi dilakukan di luar kamar, bukan sebagai kegiatan terakhir pengantar tidur. Mengikuti saran dari artikel-artikel mengenai sleep training, kami pun membuat bedtime routine untuk meisje-H. Continue reading

Sekolah Lagi: Semester 1

I wasn’t a fan of school. Bahkan sewaktu kelas 5 atau 6 SD, gw pernah punya pikiran “Kenapa sih harus ada ibu ‘K’? Jadi aja perempuan Indonesia harus sekolah. Kan enakan juga di rumah aja.” Jangan dihujat ya, sampai sekarang gw juga bingung, kok bisa ya anak piyik punya pikiran semacam itu.

Untungnya, ketidaksukaan gw pada sekolah gak berdampak buruk pada prestasi akademis gw. Dengan effort yang menurut gw biasa-biasa saja (SKS garis keras yang selalu tidur < jam 10 malam), seringkali gw beruntung dengan mendapati bagian-bagian yang gw pelajari muncul di soal ujian.

Gw pun gak pernah berpikir untuk melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi setelah S1. Kalaupun ada, itu hanya karena ingin jalan-jalan (ke luar negeri). Not to mention izin S2 gak mungkin turun dari orang tua, dan gw sangat bahagia bekerja di ‘T’. Bekerja di sana adalah periode hidup favorit gw sebelum menikah.

Atas dasar beberapa pertimbangan yang sudah gw bahas sebelumnya, gw malah ditakdirkan melanjutkan studi setelah menikah dan pindah ke Belanda. Kemarin gw baru saja menyelesaikan ujian terakhir gw untuk Semester pertama. Rasa-rasanya jadi ingin menulis testimoni tentang sekolah di sini deh😀 Pengalaman selama Semester pertama gak disangka bisa membuat gw bisa menyukai sekolah.

Buku kuliah selama satu tahun (minus buku statistika yang sedang dipinjam), sedikit kan? Tidak semua mata kuliah juga butuh buku, ada yang referensinya jurnal-jurnal ilmiah saja

Buku kuliah selama satu tahun (minus buku statistika yang sedang dipinjam), sedikit kan? Tidak semua mata kuliah juga butuh buku, ada yang referensinya jurnal-jurnal ilmiah saja

Pre-Master di Faculty of Economics and Business (FEB) RUG adalah program bridging satu tahun yang berlaku untuk mahasiswa lulusan HBO (setara politeknik D4 di Indonesia), atau mahasiswa lulusan bachelor dari jurusan tidak terkait yang ingin mengambil gelar Master (TI ke marketing dalam kasus gw). Selama tahun Pre-Master, kami mendapat beberapa mata kuliah terkait jurusan (marketing, kalau gw), satu kelas bersama anak-anak S1 business administration tingkat akhir. No wonder teman-teman gw rata-rata dedek-dedek kelahiran 93-95 ya, hihihi. Makanya gw lebih suka menyebut Pre-Master sebagai kuliah S1 tingkat akhir, karena di semester 2 juga kami harus menyusun research paper secara individu. Continue reading

The Diet Story

Alkisah, pertengahan tahun lalu terjadi sebuah unfortunate event, yaitu masuknya gua pada usia 30 tahun. Sebenernya gua cukup bahagia akhirnya gua memasuki dekade baru ini, for a couple of years, gua merasa usia mental gua sedikit lebih tua daripada usia gua. Being 30 actually fits me just fine.

Usia 20an tentunya gua lewati dengan turbulen dan naik-turun, seperti semestinya. Dari mulai menyelesaikan studi, mencari pekerjaan, mencari studi lagi, berpindah kota, menikah, menjadi bapak, semuanya diwarnai dengan naik-turun. Gua menikmati proses naik-turun tersebut. Akan tetapi, ada satu naik-turun yang tidak gua sukai, yaitu naik-turun berat badan.

Di awal usia 20an berat gua stabil di 77 kg. Pola makan dan tidur gua tidak selalu baik, tapi mostly latihan basket berkali-kali seminggu cukup untuk menjaga berat badan gua. Di usia 22 gua mulai bekerja, berat badan gua pun sempat naik cukup tinggi. Namun, keberadaan kompetisi bola basket dunia perkantoran kembali menjadi jangkar untuk berat badan gua. Akan tetapi, seiring bertambahnya usia gua, sepertinya semakin tidak mampu pula basket menjadi kontrol berat badan gua. Di usia 26, berat gua sempat mencapai 90 kg. Ketika gua melanjutkan studi, gua kembali ke kompetisi bola basket perkuliahan, dan efeknya pun positif karena berat gua sempat turun ke 83 kg. Hal ini bisa terjadi juga dibantu dengan tren lari di Indonesia yang sampai juga pada diri gua. Namun, di penghujung usia 20an gua mendapati lagi berat badan gua mendekat ke 89 kg.

phonto (1)Foto-foto di semua postingan gua tentunya hasil editan istri

Maka, tahun lalu ketika gua mencapai usia 30 pun gua bertekad bahwa salah satu hal pertama yang harus gua ubah adalah pola timbangan gua yang terus naik turun. Motivasinya sederhana, gua ingin menjadi suami dan bapak yang sehat untuk waktu yang lama kalau Allah memberi umur.  Continue reading

Mommy’s Side: Untuk Diingat

 

IMG_1783

Mami & Meisje-H di Barcelona, seperti biasa foto sok-sok misterius

Saat lelah menghadapi meisje-H yang pilih-pilih makanan,
lihatlah diri sendiri yang baru mau makan daging sapi setelah kenal steak tanpa lemak, dan baru rutin makan sayur setelah bekerja.

Saat lelah menghadapi meisje-H yang belum bisa sleep through the night,
ingatlah diri sendiri yang ketika SD sesekali masih terbangun di tengah malam kemudian pindah ke kamar orang tua.

Saat khawatir menghadapi meisje-H yang tidak suka bermain pasir (padahal main pasir bagus buat melatih sensory anak, kan?),
lihatlah diri sendiri yang bukan penggemar pantai, salah satunya karena pasirnya.

Saat khawatir menghadapi meisje-H yang tidak segemuk anak lainnya,
ingatlah diri sendiri yang seumur hidup kurus, bahkan saat hamil.

Saat sempat khawatir menghadapi meisje-H yang lama beradaptasi di daycare,
lihatlah diri sendiri yang belakangan ini tidak begitu nyaman menjadi bagian baru dari komunitas pertemanan yang sudah established.

Saat khawatir menghadapi meisje-H yang tidak nyaman di tempat yang terlalu ramai
ingatlah diri sendiri yang sering memilih diam jika keadaan sudah terlalu ramai, dan hanya bisa all-out di depan keluarga atau teman terdekat.

Karena buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya (walaupun muka 99% mirip Abi-nya).

Update sedikit (postingan ini idenya sudah lama, tapi baru terealisasi jadi ada bagian yang lupa). Suatu malam di tengah hari-hari GTM-nya meisje-H, gw berkata kepada Suami, “Harusnya ga usah sedih ya meisje-H ga mau makan, sedih tuh kalau udah gede dia ga mau sholat”. Iya sih, kadang-kadang emang gw kebanyakan khawatir sama hal yang gak esensial, padahal namanya juga anak-anak😀 (halah, pasti masih akan berulang juga kok khawatirnya si Mami :p).

Two years down the road: the view so far

IMG_0627

Gua janji untuk diri sendiri dan istri bahwa gua akan menulis sesuatu di ulang tahun kedua pernikahan gua. Sudah 6 minggu sejak hari-H tersebut, tetapi gua belum juga memenuhi janji tersebut, I’ve been so busy.. Beberapa hari yang lalu, dalam sebuah percakapan di grup whatsapp teman-teman kuliah, gua menulis pendapat gua tentang kesibukan. Jaman sekarang hampir semua orang sibuk. Waktu yang ada tidak akan cukup untuk melakukan semua hal yang perlu atau ingin dilakukan. It’s all about priorities. Kalau emang penting, you will make time for it. Lantas gua pun teringat dengan janji gua ini, and so I’m making time for it.

Semenjak bekerja di perusahaan baru, gua mempelajari banyak hal yang sifatnya non-teknikal. Salah satunya adalah STARR method. Kepanjangan dari STARR adalah Situation, Task, Action, Result, dan Reflection. Metode ini sangat berguna untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan sulit dalam interview. Dan di kantor gua sekarang, reflection adalah catch phrase yang sangat sering didengar untuk membahas peristiwa-peristiwa lampau. Dus.. gua akan sedikit membuat reflection tentang 2 tahun ke belakang (gua harus menggunakan kata reflection karena kalau gua menggunakan refleksi maka yang terbayang adalah pijat refleksi..).

Dua tahun yang telah gua jalani bersama istri adalah dua tahun yang singkat tapi banyak sekali perubahan. In a way, it’s a like a mini journey of a lifetime. Continue reading

Identitas

Tahun ini adalah tahun ke-17 gw mengenakan jilbab. Kenapa gw mengenakan jilbab sudah selama itu (dari 1 SMP, tepatnya)? Tentunya kalo dari sebocah itu sih berawal dari permintaan orang tua, yang mana seiring berjalannya waktu gw tau kenapa itu harus gw lakukan. Tapi bukan alasan dan perjalanan itu yang akan gw bahas, lagipula memang tidak ada hal yang menarik atau menantang-menantang amat. Kalau mau dicari-cari mungkin tantangan yang gw alami adalah berkenalan dengan teman baru saat kuliah ini, karena mungkin (mungkin lho) teman-teman kuliah gw yang kebanyakan kelahiran 1994 ini belum pernah mengenal gadis wanita berjilbab sebelumnya. Jadi ya wajar kalau merasa asing dan ragu untuk berkomunikasi. Gw lah yang harus lebih aktif kalo mau “kenal”. Tapi bukan tantangan yang spesifik untuk wanita berjilbab sih ya itu, sepertinya akan sama aja untuk murid asing yang “sendirian” dari negaranya. Yah untuk sementara masih lebih menantang meninggalkan skinny jeans lah :p

Nah, kalau kalimat ini tentu sudah tidak asing: “Jilbab adalah identitas muslimah”.

Identity ʌɪˈdɛntɪti/
noun
The fact of being who or what a person or thing is

OK, dengan identitas ini dengan mudah orang mengenali kita sebagai siapa, yaitu sebagai Muslimah. Saat beberapa tahun lalu gw ke Singapura, seorang pelayan restoran pernah berbaik hati “menolak” gw karena restorannya tidak Halal. Sebuah keuntungan yang sangat gw syukuri, tapi ya udah gitu aja. Toh gw masih merasa cukup proaktif untuk bertanya dan riset terlebih dahulu kalo soal beli makanan.

Hidup di Eropa sebagai minoritas tak disangka membawa gw menemui pengalaman-pengalaman yang menghangatkan hati. Mungkin justru karena minoritas ini-lah semuanya terasa lebih mengharukan. Tapi yang pasti, semua tidak akan terjadi tanpa identitas yang gw kenakan ini. Tanpa identitas ini, siapa yang tahu gw Muslim coba (tanpa bertanya)?

Gw teringat lagi dengan topik ini waktu kemarin kami sekeluarga jalan-jalan ke Centrum. Kemarin adalah hari raya Idul Adha sehingga Suami cuti, dan kami memanfaatkan kesempatan langka untuk jalan-jalan santai di hari kerja. Saat keluar dari sebuah toko, ada seorang anak laki-laki muda keturunan Turki (mungkin usia SMP atau SMA) berteriak ke arah kami, “Eid Mubarak!”, katanya. Kami tentu senang dan menjawabnya. Suami sih udah aja…sudah jelas gw-lah yang terharu lebay, kenapa coba dia tau kami merayakan Idul Adha?🙂

Kejadian kemarin pun membawa ingatan gw kembali ke hal-hal hangat yang terjadi sebelumnya. Bukan cuma sekali-dua kali gw bertemu dengan ibu-ibu berjilbab membawa stroller dan mulut kami sama-sama mengatupkan kata “Salam” sambil tersenyum. Termasuk saat kami ke Paris, yang mana cukup wajar karena Paris adalah kota di EU Union dengan penduduk Muslim terbanyak. Trus baru-baru ini ada gadis berjilbab di bis yang menyapa gw dengan kata “Sister” a.k.a panggilan khas sesama saudari Muslim. Dilihat dari umurnya dan cara dia memanggil sepertinya itu karena gw pakai setelan kuliah anak gadis. Sederhana, tapi selalu terasa istimewa🙂

Ada lagi satu cerita sewaktu ngantri super panjang di Ladurée di mana kami tiba-tiba dikasih potong antrian untuk langsung memesan di bagian dalam café oleh salah seorang pegawai yang gw asumsikan Muslim. Ini murni asumsi, karena bisa jadi dapat dispensasi karena bawa baby sih. Tapi gw jadi ge-er karena yang bawa anak waktu itu bukan cuma gw kok. Yah, untuk cerita yang ini buat nyeneng-nyenengin hati aja, anggaplah bagian dari berprasangka baik. Tapi kalo betul demikian gw jadi semakin bersyukur. Di saat mungkin banyak kejadian orang dipersulit karena identitas ini (semacam pemeriksaan di bandara), sebetulnya masih banyak cerita indah yang dialami kalau kita ketemu dengan sesama saudara/i Muslim sebagai minoritas di perantauan.

Being a Father: The Separation Anxiety

Seperti yang istri sudah ceritakan, dia baru saja kembali ke bangku sekolah. Konsekuensi logis dari peristiwa ini adalah babak baru dalam kehidupan anak kecil: daycare. Universitas tempat istri sekolah memiliki calendar generator yang luar biasa sehingga gua sudah tahu bahwa kuliahnya tidak berlangsung setiap hari, bahkan sebelum hari-H. Yang berlanjut ke konsekuensi logis berikutnya, si anak kecil tidak perlu ke daycare setiap hari. Hal ini gua nilai ideal karena kita tidak akan overwhelmed karena perubahan drastis melepas anak setiap hari dan si anak pun akan memiliki waktu bermain dengan teman sebayanya di daycare. Situasi win-win solution buat orangtua, anak, dan daycare (yang akan mendapat klien baru..). Gua cukup antusias meyambut babak baru dalam hidup kami.

Seminggu sebelum istri resmi memulai kuliah pun, meisje-H diberi waktu untuk gladi resik dengan bermain 3 jam di TKP. Hasilnya? Spektakuler, si anak tidak menangis sama sekali ketika ditinggal dan langsung asyik bermain. Si ibu yang ingin berdadah-dadah sedih pun tidak digubris. Ketika dijemput si anak sedang bermain dengan ceria dan langsung menunjuk-nunjuk ibunya. Optimisme gua semakin membuncah.

Tetapi melihat dari judul postingan ini pun sudah tersirat bahwa tidak semua hal akan berlangsung lancar. Kunjungan berikutnya ke daycare lebih tricky karena melibatkan tidur siang. Gua sedikit lebih khawatir, tapi tetap optimis mengingat hasil gladi resik yang melebihi ekspektasi gua. Toh, durasinya hanya 4 jam. Hari itu hari Jum’at, dan seperti seringnya hari Jum’at gua langsung pulang ke rumah setelah Jum’atan dan lantas melanjutkan kerja dari rumah. Namun, ada perasaan yang sangat aneh karena gua hanya sendirian di apartemen. It was way too quiet. Dan gua pun cukup kepikiran dengan keberadaan anak kecil yang sudah hampir 4 jam tak gua dengar kabarnya. Akhirnya gua pun memutuskan untuk menjemputnya sedikit lebih awal. Setelah sedikit kesulitan memasuki daycare (don’t ask..just don’t), gua pun mencari si anak kecil. Gua berekspektasi akan mendapati dia sedang bermain dan kemudian menunjuk-nunjuk dengan bangga untuk memamerkan bapaknya di depan teman-teman toddler bulenya. Continue reading

The Journal Effect

What do you think when the word “notebook” is mentioned? Kalau kita mencoba googling kata tersebut maka ada 3 hasil utama pencarian yang muncul ke permukaan: buku tulis, sebuah laptop, dan .. oh you guess it.. the movie..

Anyway, gua tidak bermaksud untuk membahas sedikit pun tentang film, tapi yang akan gua bahas adalah tentang buku tulis. Benda ini tentunya sangat identik dengan sekolah. Buku catatan adalah sarana yang kita gunakan untuk mencatat pelajaran yang kita dapatkan dalam kelas atau menahan kantuk. Selama ini gua selalu berpikir bahwa tidak ada yang bisa menggantikan buku tulis sebagai media penampungan pelajaran dalam kelas. Akan tetapi, ketika gua mengambil MSc 2-3 tahun yang lalu gua mendapati banyak mahasiswa yang lebih muda dari gua lebih banyak mengutilisasi ipad mereka yang memang diberikan oleh kampus. Mereka menggunakan apps untuk menganotasikan slide kuliah dan juga foto untuk hal-hal yang dosen tuliskan di papan tulis. Usia dosen bisa ditebak dari kalimat sebelum ini.

Lain kuliah, lain dunia kerja. Di dunia kerja modern saat ini, hampir semua karyawan memiliki komputer. It’s safe to say kalau karyawan dunia modern sulit bekerja tanpa komputer. Di kantor lama, setiap tahun kita diberi agenda tahunan, tetapi gua perhatikan tidak terlalu banyak yang menggunakannya. Buku yang lebih banyak digunakan malah buku folio bergaris yang seringnya digunakan sebagai buku untuk menulis/menggambar ala kadarnya. Kalau di masa SD, buku sejenis ini adalah buku kasta terendah, di bawah buku ulangan, buku latihan/PR, dan buku catatan, yaitu buku corat-coret. Di kantor baru, setiap karyawan diberi laptop instead of dekstop PC, yang membuat orang lebih banyak terlihat membawa laptop ke mana-mana. Penggunaan tablet dan smartphone sebagai sarana pencatat/agenda juga terlihat lebih umum, yang membuat keberadaan buku catatan/agenda semakin jarang.

Di antara gemerlapnya dunia gadget, beberapa orang tetap mempertahankan tradisi lama. Di antaranya adalah line manager gua saat ini. Dia sudah cukup berumur, anak tunggalnya hampir seusia gua. Sebelum bekerja di dunia perminyakan, dia pernah menjadi tentara untuk beberapa tahun. Dia hampir selalu memakai brogue, membawa swiss knife, dan menggunakan sepeda ke kantor. Simply put, he’s a proper Dutch man. And guess what? He still uses a notebook. Ini adalah salah satu hal yang gua sadari dari pertemuan pertama gua dengan dia. Dia mencatat hasil percakapan kita dalam sebuah notebook bersampul kulit hitam berukuran A5 berlambang kerang di sudutnya. Pemandangan yang cukup langka.

Moleskine Continue reading