Being a Father: Kehamilan

Menikah mengubah banyak hal. Tentunya hal ini umum diketahui sebagian besar orang yang sudah maupun yang belum menjalaninya. Sebelum menikah, gua pun sudah menyiapkan mental untuk menjalani perubahan-perubahan yang mungkin terjadi, mulai dari masalah membuat keputusan sampai masalah jadwal kehidupan sehari-hari. Salah satu perubahan terpenting adalah perubahan prioritas. Sebelum menikah, main basket adalah hal yang sangat penting buat gua dan sejujurnya gua pikir tidak akan gua tinggalkan. Setelah menikah, karena jadwal yang kurang cocok antara jadwal pulang kantor dan jemput istri   dan main basket maka gua harus meninggalkan prioritas yang lebih tidak utama, yaitu main basket. Yes, you heard me right, main basket kalah penting dibanding jadwal pulang ke rumah tepat waktu.

Kalau menikah saja telah mengubah prioritas gua, maka menikah dan mengetahui bahwa istri hamil meningkatkannya ke level yang berbeda. Kita mengetahui bahwa si kecil is on the way waktu kita lagi di rumah mertua di Bandung. Istri yang tadinya cuma mikir telat ajah karena stress LDR membeli test pack di apotek deket rumahnya di tengah acara lari pagi tak serius. Hasil tes menunjukkan positif. Sayangnya, kita nggak bisa langsung ke dokter untuk konfirmasi karena gua harus ke Balikpapan. Minggu depannya kita pergi ke dokter kandungan untuk cek. Hasilnya? Ya positif lah, baca aja judul postingannya. Kunjungan ke dokter ini memakan korban berupa partisipasi kita di Jakarta Marathon 2013 yang sudah dibayar (fyi, gua dan istri tidak daftar untuk kategori marathon.. biar ga ada fitnah aja ya :P). Mungkin buat sebagian orang, it’s an obvious decision. Tapi buat gua dan istri yang agak banci tampil di acara-acara lari ibukota, keputusan ini juga merupakan sebuah keputusan yang menunjukkan betapa prioritas kita telah bergeser.

Setelah tau istri hamil, LDR yang sempat dijalani makin terasa berat. Kalau pas nikah mostly berasa kangen dan kesepian, ketika istri sudah hamil ada perasaan bersalah karena nggak bisa ngurus istri dan nemenin dia di awal-awal kehamilan. Alhamdulillah istri di trimester pertama nggak terlalu heboh dengan morning sickness, atau lebih parah suami sickness. Dan alhamdulillah juga LDR itu tak berlangsung lama karena per November tahun 2013 istri pindah ke Balikpapan. Sempat ketar-ketir juga karena tinggal berdua lebih sulit daripada tinggal sendiri. Waktu masih sendiri, rumah berantakan, piring nggak dicuci, tikus di halaman belakang, dll resikonya cuma untuk diri sendiri. Terketarketiran juga sangat terasa karena di awal pindah kita belum menemukan asisten untuk beres-beres rumah dan cuci baju. Istri yang hamil muda dan juga sambil kerja sepertinya energinya cukup terkuras juga untuk urusan rumah. Lagi-lagi alhamdulillah karena gua bisa rujuk dengan asisten rumah gua periode 2008-2012. Kedatangan beliau 3x seminggu ke rumah benar-benar meningkatkan kualitas hidup kita. Nggak, gua nggak lebay kok ini.

Setelah settle dengan rumah, yang tak kalah penting tentunya adalah mengontrol kehamilan istri. Pada dasarnya, istri gua cukup kuat. Selama trimester pertama dia nggak pernah mabok atau mual yang terlalu heboh, nggak juga muntah-muntah. Malahan kita sempet jalan-jalan ke UK dengan alibi wisuda master gua di Edinburgh. Selama jalan-jalan ke UK juga istri kuat-kuat aja jalan kaki asalkan malamnya istirahat dan cukup makan. Kembali ke pengontrolan, berdasarkan referensi dari beberapa rekan, kita memilih seorang dokter perempuan yang disinyalir banyak menangani akhwat-akhwat salafi dan PKS di Balikpapan (nah kok jadi bawa-bawa salafi dan PKS :P). Dokter tersebut praktek di beberapa tempat dan sebagian besar tempat tersebut tercover dengan kartu berobat dari perusahaan tempat gua bekerja (past tense). Kesannya dengan dokter ini? Well, sejujurnya tidak terlalu berkesan. Dokternya selalu bilang baik-baik aja dan sekian kali pertemuan dengan beliau, tak sekalipun dia ingat kita siapa. Tapi, gua berpikir positif aja bahwa tidak memorable kita mungkin karena istri normal banget dan tidak ada sesuatu apa pun.

Setelah beberapa bulan di Balikpapan dan berkunjung ke dokter rutin, gua dan istri mulai memikirkan salah satu hal yang cukup penting: lahiran di mana? Karena selama periksa istri selalu normal maka keputusan untuk tempat lahiran lebih ke masalah kepraktisan hidup gua dan istri, serta sarana untuk mengurus anak di awal kelahiran. Pilihan tentunya antara Balikpapan dan Jakarta, dengan Bandung sebagai alternatif lain. Jakarta terlihat sebagai alternatif yang baik karena cukup accessible buat gua yang harus di Balikpapan dan orangtua istri yang ada di Bandung. Namun, kita sepakat bahwa LDR lagi sepertinya too much dan lahiran di Balikpapan aja tidak masalah, orangtua bisa kita terbangkan aja. That is until gua dapet offering kerja di sebuah tempat nun jauh di Belanda. Offering ini gua dapatkan di akhir Februari, dan sempat diminta untuk kerja mulai bulan Mei di sana. Lahiran di Belanda dong?? dengan time window yang sepertinya sempit banget antara aplikasi visa dan batas boleh terbangnya istri, sepertinya terlalu ambisius. Gua pun meminta untuk memundurkan tanggal mulai kerja di sana sampai Agustus di mana kalau sesuai dengan rencana, maka si bayi akan udah lahir sedikit lebih dari sebulan. Tanpa banyak ba bi bu, si orang HR dari Belanda beserta calon bos gua, juga dari Belanda, mengiyakan. Rencana lahiran di Balikpapan pun dibatalkan dan kita pindahkan ke Jakarta karena gua berencana untuk resign tak lama setelah lahiran.

Kita pun mulai mencari referensi RS dan dokter kandungan di Jakarta dan tentunya mendatanginya. Di sini lah kita merasakan perbedaan yang teramat jauh. Dokter kandungan kita di Balikpapan baik aja kok, tapi dokter kandungan kita di Jakarta jauh lebih informatif dan tak butuh banyak kunjungan untuk bisa mengingat kita. Pelayanan di RS juga jauh lebih komprehensif dan menenangkan. Kita sempet mencoba dua dokter kandungan di Jakarta dan memilih yang terakhir karena lokasi RS yang deket sekali dengan rumah orangtua gua di Jakarta. Terlepas dari masalah dokter dan RS, yang terpenting buat gua adalah istri gua sehat-sehat aja dan diprediksi bisa melahirkan dengan normal di setiap kunjungan ke dokter mana pun.

Pertengahan bulan Mei pun, dengan curi-curi batas izin terbang perempuan hamil, istri kembali ke Jakarta dan mulai cuti melahirkan. LDR pun kembali kita jalani. Kali ini terasa lebih berat lagi karena gua udah terbiasa tinggal bareng istri. LDR pun terasa makin berat setelah minggu 36. Macam mana istri hamil tua suami malah di Balikpapan kerja dengan tidak serius karena udah mau resign. Untungnya LDR ini tak perlu terlalu lama karena hari cuti tersisa gua masih lumayan banyak dan sekitar 1,5 minggu menjelang due date, gua udah bisa cuti. Maka gua pun mulai dengan proper bisa menjalani tugas yang teramat penting: suami siaga.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s