Being a Father: Persalinan

Semenjak mengetahui istri hamil, gua memang sudah membooking 2 minggu cuti untuk bisa menjadi suami siaga + mengurus bayi di hari-hari pertamanya. Semenjak berencana resign, gua tambah rencana cuti tersebut menjadi 2,5 minggu karena cuti tersisa kurang terasa kalau diuangkan, mending jadi hari libur ajah. Hari-hari tersisa di Balikpapan gua jalani dengan resah dan gelisah khawatir kalau malam-malam istri udah kontraksi atau kalau-kalau si anak udah mau lahir sebelum gua sampai di Jakarta. Istri pun punya kekhawatiran demikian, makanya dia sering bicara ke dalam perutnya supaya si anak menunggu bapaknya pulang dulu baru keluar. Ternyata terbukti sukses, si anak menanti bapaknya ke Jakarta. Sekitar 10 hari sebelum HPL gua udah stay tune di Jakarta. Sebelum ke Jakarta, gua udah ngasih tau ke kantor bahwa gua akan resign dan udah ngasih surat resign yang sekaligus menjadi one month notice. Intinya sih, pas gua cuti gua udah sama sekali nggak mikirin kerjaan lagi dan beneran cuma fokus ke masalah persalinan.

Setelah gua di Jakarta, tentunya tak ada lagi yang dikhawatirkan. Kita pun mulai melakukan hal-hal yang dianjurkan dokter untuk merangsang kontraksi. Rute jalan kaki pagi kita ambil di sekitaran rumah, sedangkan rute jalan kaki sore kita ambil di mall dekat rumah. Di hari sabtu, istri pun ikut senam ibu hamil di RS tempat kita berencana melakukan persalinan. Kontraksi-kontraksi kecil pun mulai terasa walaupun order of magnitudenya belum seperti kontraksi di film-film. Tidak cukup besar untuk membuat kita merasa harus langsung ke RS. Ketika kita mendatangi dokter (sesuai jadwal kontrol aja), beliau mengatakan bahwa kelahiran bisa terjadi 6-48 jam ke depan. Oke, gua dan istri pun menyiapkan barang-barang yang perlu di bawa kalau-kalau seketika kita harus ke RS.

Lebih dari 48 jam pun berlalu tanpa ada tanda-tanda istri mau melahirkan. Kita pun mendatangi ke dokter 3 hari dari kunjungan terakhir. Dokter pun menyiapkan deadline due date, kalau sampai tanggal tersebut belum ada indikasi, maka istri harus diinduksi dan apabila induksi gagal maka harus dioperasi. Menurut dokter, kontraksi-kontraksi kecil ini tidak baik untuk kandungan. Selain itu, air ketuban juga bisa jadi udah berubah menjadi jelek kalau sudah terlalu lama. Gua ga gitu ngerti, tapi untuk pertama kalinya selama istri hamil, opsi operasi dibahas. It was not easy to be heard. Selama belasan kali kita ke dokter, dan mendatangi dokter yang berbeda-beda pula, selalu dikatakan bahwa istri akan bisa melahirkan dengan normal. I have nothing against the procedure, tapi gua tidak menyiapkan mental untuk ini. Karena dari awal istri selalu sehat dan nggak aneh-aneh, gua berharap di hari H dia cuma akan datang, ngeden-ngeden dikit dan kemudian si anak lahir dengan selamat istri pun langsung sehat. Manusia emang cuma bisa berencana.

Keesokan harinya yang ditunggu-tunggu tiba: istri pendarahan. Pendarahan ini didapati di malam hari sebelum kita mau tidur. Gua pun segera membangunkan orang tua gua yang memang minta dibangunkan kalau ada apa-apa dan bergerak menuju RS. Istri kemudian diperiksa dulu di UGD sementara ruang persalinan disiapkan dan dokter dihubungi. The moment of truth, cek bukaan. Suster jaga memeriksa lantas berkata, “belum ada bukaan”. Okay, no need to panic. Tinggal ditunggu aja kah, toh udah malem juga. Paling istri tidur dulu aja besoknya udah bukaan banyak. Kita pun dipindahkan ke ruang bersalin. Orangtua istri yang udah standby di rumah kakak ipar gua tak lama tiba. Malam itu gua dan mertua menginap di ruang bersalin sambil menemani istri yang berusaha istirahat sambil menunggu bukaan.

Beberapa kali cek bukaan dilakukan malam itu. Dan di pagi harinya kata-kata yang gua denger berulang kali di malam hari terulang, “bukaan satu”. Mau nggak mau, istri pun harus diinduksi. It turns out to be one of the most difficult thing I’ve ever seen. Di awal-awal induksi, istri terlihat tenang dan kuat. Mulesnya ada, tapi sepertinya ambang batas nyeri istri emang cukup tinggi sehingga dia nggak terlalu kesakitan. Di saat itulah gua menyadari betapa kuatnya perempuan yang gua nikahi ini. Sementara gua liat jarum suntik aja kadang masih ketar-ketir. Induksi di mulai dari pagi hari. Namun, sampai beberapa jam pembukaan yang dinanti-nanti tak kunjung tiba. Dosis induksi pun harus ditingkatkan. Istri yang tadinya kuat mulai kesakitan. Awalnya kesakitan tersebut intervalnya cukup panjang sehinggan di antara interval istri masih bisa tenang. Semakin lama, intervalnya semakin dekat. Istri pun mulai ketar-ketir. Gua dan orangtua cuma bisa menenangkan dan menyuruh istri istigfar. I wish I could do more, tapi ya apa yang bisa gua lakukan juga kan? Kesakitan itu emang nyata terlihat, tapi yang paling menyakitkan adalah fakta bahwa kemajuan bukaan yang seharusnya terjadi tidak kunjung tiba. Sampai botol infus induksi habis, bukaan yang tercapai baru sampai bukaan dua. Dosis induksi pun tidak mungkin ditambah, yang bisa dilakukan hanya menunggu semalam lagi sambil berdoa besok pagi bukaan yang diperlukan tercapai.

Salah satu malam terpanjang yang bisa gua ingat dalam hidup adalah malam sebelum pelantikan Himatek. Tapi malam ini jauh kalah terasa panjang dibanding apa yang gua rasakan di malam sebelum anak gua lahir. Infus induksi memang sudah dihentikan, tapi efek kesakitan yang dibuatnya bertahan. Di situ gua merasa diuji sebagai manusia dan sebagai suami, di saat istri kesakitan dan gua tidak bisa melakukan apa pun untuk menghilangkan kesakitannya. At some point, mata istri gua cuma terlihat putihnya karena sakitnya yang tidak bisa ditahan-ditahan dan tidak mau pergi. Pikiran gua udah lari ke mana-mana. Gua sedih karena istri sakit dan sejujurnya gua juga takut istri kenapa-kenapa karena sakitnya itu. Frustasi terus bertambah karena setiap suster datang dan cek bukaan, progresnya hampir tidak ada.

Malam itu gua belajar banyak. Gua belajar ikhlas, gua belajar pasrah, dan gua belajar kalau manusia cuma bisa berencana. Semua hal yang gua sebutkan mungkin terdengar klise, tapi gua orang yang selalu percaya kalau dengan usaha dan ikhtiar kita bisa mendapatkan hal yang kita mau. Mungkin gua sedikit jumawa, dan ini adalah semacam bentuk peringatan buat gua. Malam itu gua menerima kenyataan bahwa istri mungkin tidak bisa lahiran normal. Setelah sedikit sekali tidur dan semalaman penuh kesakitan, paginya dokter datang dan kita memutuskan untuk melakukan operasi. Istri gua, yang walaupun sempat meminta untuk operasi aja di tengah malam, menangis dan meminta maaf. Gua pun juga menangis. Gua yang nggak bisa apa-apa untuk membantu istri gua dengan kesakitannya dan dia yang meminta maaf karena nggak bisa lahiran normal. Gua ikhlas istri operasi, yang terpenting adalah kesehatan anak gua dan tentunya hilangnya kesakitan yang istri rasakan.

Istri pun masuk ke ruang operasi. Sementara operasi disiapkan, gua menunggu di luar sampai diperbolehkan masuk. Gua berdoa “hasbunallah wa ni’mal wakil” sambil sesekali menitikkan air mata. Perasaan lega karena istri akan operasi berganti perasaan cemas karena, well, istri akan operasi. Tak lama menunggu, gua pun dibolehkan masuk. Istri udah di meja operasi. Gua pun duduk di samping kepala dia. Bagian perut tertupi oleh kain yang jg menutup pandangan istri. Alhamdulillah, kalau gua harus liat operasi dari jarak dekat bisa-bisa gua pingsan. Gua pun menemani istri yang terlihat lelah dan pasrah perutnya ditindak oleh segenap tim dokter-dokter dan suster-suster. Setelah bunyi ceklak ceklik yang sedikit tertutupi suara radio (you heard me right, ada radio di ruang operasi) dokter pun berkata ke istri gua, “kita dorong ya bu”. Beberapa detik kemudian sesosok bayi merah pun muncul diiringi tangisan yang juga tertutupi suara radio.

Gua menangis. Ga pake setitik dua titik, air mata gua mengalir. Ada perasaan lega karena istri akhirnya melahirkan juga dan ada perasaan yang nggak bisa gua gambarkan setelah gua resmi menjadi seorang bapak. Gua tidak langsung mendatangi si bayi, gua tetep duduk di samping istri dan menceritakan apa yang gua lihat ke istri. Sampai dokter anak memanggil gua. Menunjukkan anak gua yang sehat, menimbangnya dan mengukur panjangnya. Dia pun menyuruh gua adzan di telinga si bayi. Well, this is awkward. Kayanya ruang operasi bukan waktu yang tepat buat membahas tentang status hadits adzan di telinga bayi yang baru lahir. But anyway, gua anggap ini sebagai bagian dari mengambil fadilah dan gua pun adzan di telinga anak gua. Lahirnya anak gua mengakhiri dua malam panjang melihat istri gua dalam kesakitan dan mengawali sebuah babak baru dalam hidup.

Oh, and did I mention? It was her birthday. Yes, both of them.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s