Balikpapan Might be The Best

Di pertengahan tahun 2000, gua pindah ke Bandung demi mengenyam pendidikan di SMA 3 Bandung. Hari pertama di sekolah tentunya diisi dengan perkenalan. SMA 3 Bandung merupakan SMA favorit di kota favorit pula, oleh karena itu penduduknya pun tidak hanya dari Bandung melainkan dari seluruh Indonesia. Salah satu SMP luar Bandung yang memberikan kontribusi cukup signifikan (signifikan > 5 orang siswa baru) adalah SMP KPS Balikpapan dengan anak-anaknya yang gemar menambakah “naah” atau “itu/anu naah” dalam percakapan sehari-hari. Boleh jadi melalui teman-teman gua dari SMP inilah pertama kali gua mengenal Balikpapan. Little do I know that 6 years of my life will be spent here.

Enam tahun kemudian, gua menginjakkan kaki pertama kali di Balikpapan untuk menjalani Kerja Praktek selama 2 bulan di kilang. Selama periode ini gua mulai mengenal Balikpapan walaupun hanya sebatas Gunung Dubbs, Lapangan Merdeka, Kantor Besar, Kebun Sayur, BC, dan tentunya, Kilang. Kesan selama 2 bulan di Balikpapan: menyenangkan, mahal, overall nothing special.

Setahun kemudian, di tengah kesibukan penelitian dan persiapan ujian komprehensif, gua menjalani proses rekrutmen Total. Long recruitment-process-story short, setelah berulangkali wawancara di Bandung-Jakarta-Balikpapan, gua diterima di perusahaan ini dan sebuah babak baru dalam hidup gua di mulai. Kamis, 1 November 2007, dengan mengambil first flight dari Jakarta, bersama beberapa rekan yang baru sama-sama diwisuda 4 hari sebelumnya dan beberapa rekan yang entah kapan diwisudanya, dengan diantar Papa dan Mama (yang tentunya selalu menangis setiap mengantar gua berpindah ke kota baru), gua memulai karir gua yang relatif singkat di Total.

Balikpapan Selatan-20120810-00123Namirah

Tapi gua bukan ingin bercerita dengan karir yang singkat itu, melainkan tentang Balikpapan. Kota yang sering dihina oleh banyak orang karena mati listrik dan airnya, tapi di sisi lain sering pula dirindukan. Buat sebagian orang yang pernah kerja di Balikpapan, pindah kerja ke Jakarta is simply impossible karena macetnya. Gua seringkali berkata, Balikpapan is the definition of comfort zone. Apalagi kalau kita bekerja di Total atau Pertamina. Gua cukup yakin work-life balance, if you are up for that, adalah sesuatu yang sangat bisa diupayakan. Ketidakadaan macet, kecuali macet di depan komputer di dalam komputer, berarti kita bisa dengan efisien menempuh perjalanan rumah-kantor-rumah dalam kurang dari sejam setiap harinya.

Buat gua, boleh jadi Balikpapan adalah kota terbaik yang pernah gua tinggali. Why? and why, on-the-contrary, gua malah pindah dari kota ini?

First of all, life is simple in Balikpapan. Waktu gua pertama kali ke Balikpapan, belum ada mall relatif besar seperti E-walk dan belum ada pula bioskop 21 seperti sekarang. Bisa kita sebut ini sebagai periode pre-bioskop. Technically, sebenernya ada bioskop bernama Teater Gelora Balikpapan. Tapi rasanya terlalu baik untuk menyebutnya bioskop. Gua sekali mendatangi tempat ini, ketika itu disinyalir walikota ingin menonton Ayat-ayat Cinta cinta sehingga bioskop ini sedikit dibersihkan dan menjadi lebih layak dari biasanya. Hiburan gua selama periode ini tentunya adalah: basket. Hidup sebagai bujang berarti gua punya banyak energi untuk disalurkan, dan apalagi yang lebih menyenangkan selain olahraga. Gua main basket di hari selasa-kamis-sabtu-minggu. Selain itu tentunya gua juga bermain futsal di minggu pagi dan ad-hoc di senin/rabu malam. Ketiadaan mall-mall besar dan/atau bioskop justru membuat gua merasa memiliki banyak waktu untuk olahraga dan hal-hal lain yang lebih penting, seperti bermain football manager. Selain itu, kunjungan rutin ke mall-mall dan bioskop Ibukota juga terasa menjadi lebih istimewa karena banyak didapati hal-hal yang tidak ada di Balikpapan. Some things are better when they are not accessible in a daily basis. Sekitar tahun 2009, bioskop dan e-walk mulai ada di Balikpapan dan itu pun menambah variasi aktivitas yang bisa dilakukan.

Bukan rahasia bahwa kalau kita merantau kita akan mendapatkan keluarga baru. Ada sebuah sya’ir terkenal dari Imam Syafi’i tentang merantau yang bisa dilihat di sini. Dan salah satu penggalannya adalah, “Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari orang-orang yang engkau tinggalkan”. Di perusahaan tempat gua bekerja, sesama karyawan menjadi teman, dan teman-teman terdekat menjadi keluarga. Comfortably enough, banyak dari teman-teman gua di Balikpapan sudah gua kenal di Bandung, dan sama-sama hidup di Balikpapan mengeskalasi hubungan pertemanan yang sudah ada sebelumnya.

Dan yang paling gua syukuri sampai sekarang adalah bagaimana Balikpapan kota beriman telah mengubah kehidupan beragama gua. Balikpapan memang sungguh beriman dan masjid-masjid di kota ini selalu penuh dengan kajian. Di kota inilah gua mengetahui bahwa shalat 5 waktu itu sejatinya dilakukan di mesjid, di awal waktu, dan berjamaah. Di sini pula gua memperbaiki bacaan Al-Qur’an yang sedari SD tidak pernah diupgrade. Dan di sini pula gua sedikit menambah pengetahuan agama gua yang tadinya sangat minim menjadi minim. Mudah-mudahan yang minim itu bisa menjadi fondasi untuk sesuatu yang lebih baik. Dari semua yang gua pelajari selama hidup gua di Balikpapan, bagian ini yang paling berharga.

Seperti gua bilang, Balikpapan adalah comfort zone. Rutinitas sehari-hari yang dibangun sangat nyaman. Memulai pagi dengan subuh di mesjid, tiba di kantor pukul sekitar 07.30 – 08.00, kerja sampai Dzuhur, Dzuhur di mesjid, makan siang bersama teman-teman kantor, kerja lagi, break ashar di mesjid lagi, jogging/olahraga sore, dan seterusnya dan seterusnya. Kalau ada orang yang bosan hidup di Balikpapan karena tidak ada kegiatan, mungkin orang tersebut kurang bisa memanfaatkan waktunya di Balikpapan. Banyak waktu dan tidak adanya macet membuat banyak sekali yang bisa dilakukan di Balikpapan. Selama di Balikpapan, yang lebih lama gua habiskan dengan status bujang, gua sangat sibuk. Ketika sudah menikah pun, istri gua harus merelakan senin dan rabu malam ditinggal suaminya kajian. I was that busy.

Ada sebuah quote entah dari mana asalnya yang berbunyi, “there is no growth in comfort zone and there is no comfort in growth zone”. Quote yang cukup bagus untuk memotivasi resign, tetapi gua tidak bisa sepenuhnya setuju. In comfort zone things happen in timely manner and even possibly on semi-auto pilot. Karena itu, di comfort zone kita tidak selalu terburu-buru dan memiliki waktu untuk mengevaluasi dan merefleksikan hal-hal yang telah dan/atau ingin kita pelajari/kerjakan. Di comfort zone kita memiliki waktu untuk berpikir dan sedikit merenung. Selama kita memiliki keinginan belajar/berkembang, you can easily grow in your comfort zone.

Then why did I move?

Yah, all good things most come to an end. Work wise, gua agak sulit membayangkan gua menghabiskan sepanjang karir gua di satu tempat (blame the oil and gas industry for that!). Gua percaya bahwa untuk berkembang lebih jauh, gua harus bekerja dan melihat lapangan-lapangan hidrokarbon yang berbeda. Dan gua merasa dengan situasi yang berkembang sekarang, hal yang demikian sulit gua dapatkan dengan terus bekerja di Balikpapan selain tentunya ada perusahaan lain yang menawarkan karir yang bisa berpindah-pindah. Life wise, kurang lebih seperti itu juga. Balikpapan adalah kota kecil dan 6 tahun di kota ini membuat gua menyadari bahwa tidak banyak yang terlalu berubah di kota ini. Setahun gua sempat tinggalkan kota ini, dan hampir tidak ada yang berubah. The comfort zone has changed into the lazy zone. Nothing good happens in the lazy zone. And even though life in Balikpapan is the best version of life I will probably have, it will not last and so I’ve moved.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s