Being a Father: The Early Days

Gua sempet mengikuti TV Series Parenthood. Di awal season 5, Crosby, salah satu tokoh mereka untuk pertama kalinya mendampingi istrinya dalam kelahiran anaknya. Hubungan dia dan istrinya cukup rumit karena mereka sudah punya anak di luar nikah dan begni dan begitu dan begini dan begitu. Anyway, gua tidak berniat membahas serial ini. Hal yang menarik bagi gua adalah ketika si Crosby di hari-hari awal kehadiran anaknya merasa mengalami kesulitan untuk merasakan sesuatu dengan anaknya. Dia melihat bagaimana istrinya langsung memiliki instant connection sementara dia selalu bingung dengan apa yang harus dia rasakan saat dia bersama anaknya. Crosby pun memanggil kakaknya, Adam si family man sejati, untuk meminta nasihat. Adam, bukan istrinya Inul, pun memberi nasihat agar Crosby take-it-easy sembari menerangkan kalau dalam kasus si Adam sendiri dia langsung memiliki koneksi dengan anaknya semenjak lahir.

Awal-awal kelahiran bayi memang hari-hari yang cukup unik buat seorang bapak. Seorang ibu biasanya memiliki rasa terhubung yang sangat kuat dengan anaknya karena, well, bayinya tumbuh di dalam perutnya dan begitu lahir bayinya menyambung hidup dengan menyusui dari si Ibu. Agak aneh kalau aktivitas-aktivitas itu tidak menjamin hubungan perasaan yang kuat antara ibu dan anak (baby blues aside).

Lalau bagaimana dengan hubungan bapak dan anak?

Gua baru punya satu anak dan belum lama menjalani pengalaman sebagai bapak, tapi gua bisa tebak kalau setiap bapak pasti memiliki kondisi yang berbeda. Jika seorang bapak ditanya apakah dia sayang/tidak dengan anaknya, jawabannya tentu jelas. Tapi sayang bukan berarti seorang Bapak sudah merasa terkoneksi dengan anaknya. Waktu istri mulai mengandung, perasaan kebapakan gua belum terlalu muncul. Perasaan yang dominan hanyalah perasaan sebagai seorang suami yang merasa harus lebih perhatian  dan menjaga istri yang sedang hamil. Kalau di film-film, sering digambarkan sepasang suami (dan istri) yang begitu terharu melihat sonogram janin yang akan menjadi anak mereka. Gua tidak begitu. Pertama kali istri di-USG, reaksi gua cuma: oh. Berikutnya gua pun cuma berusaha fokus dengan bagian dari gambar yang harus gua lihat dan bertanya pada dokter apakah semua normal. Anak gua yang pemalu pun selalu memalingkan wajahnya setiap akan diambil foto atau direkam, maka tidak pernah ada momen di mana gua terharu melihat gambar sonogram.

Selain, ketika istri di-USG, momen lain yang biasa digambarkan sebagai momen mengharukan adalah ketika bayi menendang dan suami memegang istrinya. Anak gua cukup aktif dalam kandungan dan gua pun sering memegang perut istri ketika itu terjadi. Tapi lagi-lagi, momen tersebut pun tidak terlalu gimana-gimana buat gua. Cuma momen yang cukup menenangkan karena tahu janin sehat. Ada beberapa laki-laki yang diberkahi dengan kemampuan untuk berdialog (more like monolog I should say) dengan janin perut dalam istri, gua bukan termasuk golongan itu. Gua ga tau topik apa yang harus gua bicarakan dengan janin, dan terlebih gua merasa awkward karena apa pun yang gua bicarakan sebenernya istri yang mendengar. Membacakan ayat kursi dan tiga surat terakhir buat gua adalah aktivitas yang pas karena tidak menuntut kreativitas dalam berbicara dengan janin.

Seiring dengan membesarnya kandungan istri dan makin dekatnya HPL, perasaan kebapakan akhirnya muncul dan terus menguat. Apalagi setelah aktivitas berbelanja buat bayi dimulai. Bayangan-bayangan akan hadirnya seorang anak di tengah-tengah gua dan istri pun mulai terasa nyata. Perasaan itu terus meningkat, dan mungkin terasa sangat kuat begitu istri dinyatakan oleh dokter bisa melahirkan kapan saja. Ketika istri mengalami pendarahan di rumah dan kita pergi bersama ke RS, perasaan kebapakan gua langsung melonjak.

Lalu segala drama persalinan pun dimulai. Di situ perasaan kebapakan gua jujur saja menurun. Fokus gua kembali menjadi seorang suami. Suami yang nggak bisa apa-apa melihat istrinya menahan sakit. Well, I’ve already told the story. Intinya selama dua hari itu perasaan kebapakan gua berkurang.

Perasaan kebapakan itu kembali meningkat begitu memasuki ruang operasi. Perasaan itu memasuki yang sangat tinggi begitu anak gua lahir. How can I not feel connected to her? She looks just like me. Rambutnya lebat, bentuk wajahnya dan bentuk alisnya pun mirip gua. I know it sounds funny, tapi fakta bahwa anak itu mirip gua membuat gua merasa lebih mudah terkonek dengan dia (walaupun mungkin kalau dia mirip istri gua pun gua akan sama mudahnya untuk terkonek dengan dia). Dan setelah itu apa pun yang gua lakukan dengan dia membuat gua merasa lebih terkonek: gendong, ganti popok, dipipisin, cukur rambut, ngeliat dia disuntik, pertama kali jalan ke mall, dan favorit gua gendong sendawa. Kegiatan apa pun yang gua jalani dengan dia membuat gua merasa semakin dekat dengan anak gua. Dan gua harus bilang, it’s unprecedented. One of the best feeling I ever have. Perasaan sayang yang dimiliki oleh orang tua terhadap anak berbeda dengan perasaan sayang yang dimiliki suami/istri terhadap pasangannya. Rasa sayang antara suami dan istri masih memiliki pamrih dan terkadang diwarnai keculasan atau keinginan menang sendiri. Dengan anak, perasaan sayang tersebut jauh lebih tulus. You would do anything to make them happy, even if they don’t understand and won’t remember it anyway. And it grows day by day.

Deviden Sayang

Terkait dengan perasaan kebapakan vs kesuamian, istri pernah bilang bahwa dia melihat fenomena bahwa ketika anak lahir banyak pasangan suami istri yang langsung berubah peran menjadi orangtua. Sejujurnya, gua sekarang bisa mengerti fenomena itu karena perasaan sayang sebagai orangtua memang lebih alami daripada perasaan sayang sebagai pasangan. Dan mungkin tidak semua orang memiliki kapasitas rasa sayang yang cukup untuk menjalani peran ganda sebagai orangtua dan pasangan dengan sama baiknya. Gua pun sempat mengalami fenomena ini menjelang persalinan di mana perasaan kesuamian meningkat sementara perasaan kebapakan menurun. Tapi gua berharap bahwa ke depannya gua punya cukup ruang untuk memiliki perasaan sayang yang berimbang antara peran sebagai suami bapak. Gua cukup yakin hal ini tidak mudah dan membutuhkan banyak usaha.

Di saat gua menulis ini, istri dan anak sedang tidur di Jakarta, sementara gua di Groningen. Gua udah di sini selama seminggu dan masih ada sekitar 7 minggu sampe, insya Allah, keluarga kecil kami berkumpul kembali. Dua bulan adalah waktu yang cukup lama untuk tidak bertemu istri dan anak yang baru aja sebulan lahir. Dan terpisah jauh dari keluarga untuk waktu yang relatif lama sesungguhnya adalah cara yang tepat untuk mengetahui seberapa besar rasa sayang kita terhadap mereka.

Advertisements

2 thoughts on “Being a Father: The Early Days

  1. dr kmaren blogwalking blognya teh sanya. seruuu! dr smp aku idola bgt sama teh sanya (sama genggongnya 2 lagi teh tina sama teh mona), seneng bs ktmu di groni.
    eh ga nyangka kang dimas jg bisaan nulisnya, terutama bagian adam suaminya inul, aku ngakak. anw aku jg suka parenthood!!
    dan hafsah emg mirip bapaknya banggeedd!

    • Yaampun Monik inget wae sama geng itu. Iya sampe kaget waktu pertama ketemu pas Idul Adha 😉
      Kalau Bapaknya Hafshah mah emang doyan nulis (bahkan puisi), sementara aku mah ngeblognya curhat ala ibu-ibu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s