The Story of Our First Dutch Makelaar

Tak terasa sudah memasuki bulan ke-5 sejak gua pindah ke Groningen. Tak terasa pula waktu gua dan keluarga untuk menempati akomodasi transit dari perusahaan akan segera habis. Oleh karena gua direkrut dari negara di sisi dunia yang berbeda, perusahaan memberikan beberapa fasilitas untuk mempermudah adaptasi gua. Salah satunya adalah tempat tinggal berupa apartemen untuk ditempati selama 6 bulan. Hal ini tentunya penting karena butuh waktu untuk mencari tempat tinggal di suatu negara yang  belum kita kenali kondisinya. Berhubung waktu 6 bulan itu akan segera tiba, maka gua dan istri pun mulai bergerak untuk mencari tempat tinggal baru kami di Groningen.

Banyak sekali hal yang perlu dipertimbangkan dalam mencari tempat tinggal baru. Waktu memilih rumah di Balikpapan, karena gua masih bujang, gua banyak dibantu oleh Ibu tercinta. Di Jakarta, gua dan istri sempat mencari properti bersama, tetapi tidak kami tempati. Praktis, inilah kali pertama kita mencari tempat tinggal bersama untuk kita tempati. Mencari tempat tinggal di Belanda dengan di Indonesia pun tentunya berbeda problematikanya. Di Indonesia, memiliki rumah tidak begitu repot karena tukang kebun, asisten rumah tangga, dan tukang bangunan bertebaran apabila dibutuhkan. Di Belanda, cukup umum orang mengurus rumahnya sendiri, termasuk melakukan perbaikan-perbaikan kecil seperti memasang laminat, mengecat, dan memperbaiki retak-retak di dinding atau pun plafon. Selain ketersediaan poin-poin yang gua sebutkan terbatas, harganya juga sangat mahal.

Salah satu hal yang sangat membantu dalam pencarian tempat tinggal di Belanda adalah terdokumentasinya rumah-rumah yang dijual/disewakan melalu website www.funda.nl. Sepertinya tidak ada rumah yang dijual/disewakan tanpa mengiklankan diri melalu website ini sehingga gua pun bisa mulai mencari informasi dan mempelajari situasi, Selain melalui website funda, orang Belanda pun sangat umum menggunakan jasa makelar (atau lebih tepatnya makelaar, dengan dua a) dalam menjembatani pencarian tempat tinggal mereka. Jasa yang ditawarkan makelaar juga cukup bervariasi, mulai dari mencari tempat tinggal, survei, negosiasi harga, sampai mencarikan notaris yang bisa membantu dengan kontrak atau perjanjian jual beli. Gua dan istri sepakat untuk mencari sendiri apartemen karena kami malas mengurus rumah yang rata-rata bertingkat di funda sebelum mulai menggunakan jasa makelaar untuk membantu urusan-urusan lanjutan.

Pencarian pun sudah kami mulai sejak November. Kami membuat janji untuk melihat dua apartemen yang terlihat cukup menarik di funda. Salah satunya benar-benar menarik. Ada beberapa isu yang sepertinya perlu diurus tetapi tidak menjadi killing factor, and so we thought. Karena merasa sudah menemukan apartemen yang pas, kami pun menghubungi makelaar yang dirujuk oleh kolega gua di kantor. Karena gua tidak suka menelpon, gua menghubungi kantor makelaar tersebut melalui email yang segera direspon oleh tim administrasinya. Tentunya di Belanda tak ada pertemuan tanpa appointment (not even Bank..) dan kami pun mendapatkan janji untuk bertemu dengan Johan, makelaar yang dirujuk, dalam beberapa hari.

Dengan optimisme tinggi bahwa semua akan berjalan lancar, gua, istri, dan Hafshah pun berangkat bersama menuju kantor makelaar yang berada di tengah kota. Kami pun bertemu dengan Johan, atau lebih pantas disebut Opa Johan, untuk pertama kalinya. Opa Johan adalah opa-opa tipikal Belanda dengan usia mungkin di pertengahan atau bahkan late enampuluhan. Tinggi, gagah, rambut putih klimis, dan cukup efisien serta straight forward dalam berkata-kata. Gaya berpakaiannya cukup necis dan beliau selalu menggunakan mobil sedan 2 pintu yang sepertinya cukup tua, walaupun tidak setua dia (atau bahkan gua, in that matter)Opa Johan menjelaskan servis yang bisa dia berikan serta hal-hal yang perlu kami pertimbangkan dalam memilih tempat tinggal. Gua yang sudah bolak balik mencari di google dan membaca forum-forum merasa sudah mengerti hal-hal yang dia jelaskan. Kami pun mengatur untuk melihat apartemen yang kami incar berasa Opa Johan.

Hari itu gua izin bekerja dari rumah (yes, I can do that) karena di pagi harinya gua harus melihat apartemen dan di siang harinya gua harus shalat Jumat. Makelaar yang mewakili pemilik properti sudah menunggu, kami sudah bertemu dia seminggu sebelumnya dalam kunjungan pertama. Kami datang sebelum Opa Johan dan menyapa si makelaar lawan yang jauh lebih muda dari Opa. Tak lama, Opa Johan pun datang. Dia langsung menyapa makelaar, memperkenalkan diri, dan bertanya-tanya menggunakan Bahasa Belanda. Memasuki apartemen, Opa Johan terlihat sangat cool, dan terlihat sedikit uninterested. Dia mengetok dinding-dinding, melihat sisa pipa bocor, dan mempertanyakan retak di plafon kamar mandi yang sebelumnya tak kami lihat. Kunjungan tersebut berlangsung tidak terlalu lama. Kami pun siap mendengar pendapat Opa Johan tentang apartemen tersebut dan kami pikir seharusnya tidak ada masalah serius. Tapi yang kami dapatkan justru sebaliknya. Opa bilang kalau apartemen tersebut butuh banyak pekerjaan yang bisa memakan waktu 2-3 bulan. Opa juga bilang banyak kelemahan dari apartemen tersebut. Intinya dia tidak menyarankan tempat itu dan bertanya apakah kami sudah meilihat tempat lain. Gua dan istri pun agak kecewa. Kami menyukai apartemen tersebut dan berpikir seharusnya tidak akan ada masalah. Tetapi, bagaimana pun Opa Johan terlihat cukup meyakinkan dan sangat berpengalaman. So we took his advice dan kembali membuka daftar apartemen yang masuk shortlist kami

Kami pun kembali membuat janji dengan Opa Johan untuk membahas apartemen-apartemen mana saja yang sebaiknya kami datangi. Satu hal yang gua sadari, Opa Johan sangat perhatian terhadap detail-detail kecil. Hal-hal yang gua pikir bukan merupakan killing factor ternyata tidak berlaku buat Opa. Beberapa apartemen dia anggap tak layak huni karena: tidak ada balkon, dekat dengan air dalam, pencahayaan kurang bagus, terletak di lantai dasar, tidak ada taman bersama, dan lain-lain dan lain-lain. Gua sempat cukup annoyed karena sepertinya Opa lebih ribet dari gua dan istri yang akan menjadi penghuni. Setelah pembicaraan panjang, kami pun membuat janji untuk melihat 2 apartemen lain. Sama seperti sebelumnya, kami akan melihatnya tanpa Opa, memilih yang kami suka, dan melihatnya kembali bersama Opa. Dua apartemen yang kami lihat, yang pertama cukup dekat dengan lokasi tinggal kami sekarang, sedangkan yang kedua dekat dari stasiun kereta. Gua dan istri lebih menyukai apartemen yang pertama karena terasa lebih “rumah” dan areanya sudah kami kenali dengan baik.

Kami pun melihat apartemen yang pertama bersama Opa. Everything seems going well, tidak ada kerusakan di apartemen tersebut walau pun ia lebih tua dari apartemen yang kami lihat sebelumnya. Tata ruang  apartemen tersebut pun cukup bagus dan cukup mudah untuk kami membayangkan diri kami di situ karena pemiliknya juga merupakan keluarga beranak satu. Looks like this is the one. Kunjungan tersebut pun tak berlangsung lama dan makelaar lawan pamit duluan untuk memberi kami waktu berbincang. Kami pun menunggu kata-kata  baik dari Opa. Ternyata bukan itu yang kami dapati. Opa mengajak gua berjalan ke samping apartemen yang berada di lantai dasar tersebut dan menunjukkan botol minuman keras yang tergeletak. Kemudian Opa mengutarakan kekhawatiran dia karena seluruh jendela kamar dan ruangan ada di sisi yang bisa diakses oleh orang dari luar. Dia juga bilang bahwa bagian atas apartemen yang menjorok keluar bisa jadi digunakan orang sebagai tempat berteduh, hence botol minuman tersebut. Dan kami pun mentah kembali. Seperti biasa Opa selalu menyerahkan keputusan pada kami walaupun dengan nada yang sangat mengintimidasi dan memberi kami waktu untuk berpikir.

Sepanjang jalan pulang pun gua dan istri berdiskusi. Concern Opa Johan cukup valid, apalagi istri dan Hafshah biasanya hanya berdua di jam-jam kerja. Kami cukup yakin bahwa apartemen yang satu lagi akan lolos dari seleksi Opa, karena memang dari awal dia yang menyarankan apartemen tersebut yang bahkan tidak masuk shortlist kami. Dan kami juga merasa apartemen tersebut sangat bagus, probably even too good. Tapi buat gua, safety first apalagi kalau itu melibatkan keluarga gua. Lantas kami pun menghubungi kantor makelaar, dan surprisingly bisa mendapatkan jadwal untuk melihat apartemen berikutnya kembali bersama Opa di sore harinya. Singkat cerita, selang beberapa jam kami sudah bersama Opa lagi dan makelaar lawan tentunya untuk melihat properti yang terletak di dekat stasiun. Dan without surprise Opa Johan merekomendasikan apartamen ini karena gedungnya sangat terawat, lokasinya sangat bagus, dan lain dan lain. Ada perasaan campur aduk di situ. Mungkin ada sedikit ego yang terganggu karena sebagai klien kami merasa makelaar kami lebih “sulit” dan pada akhirnya pilihan yang layak adalah pilihan makelaar dan bukan pilihan kami. Tapi harus kami akui bahwa semua argumen yang Opa keluarkan adalah valid dan untuk kebaikan kami. He does have like more than 30 years of experience as Makelaar..

Keesokan harinya we pushed the button dan meminta Opa memulai proses negosiasi. Gua cukup cemas karena gua cuma punya 1,5 bulan sampai akomodasi transit gua habis. Gua pikir negosiasi tidak akan berlangsung lebih dari sehari. Well I was wrong, dan sialnya hari itu adalah hari Jumat sehingga gua pun harus menunggu sampai Senin untuk mendapatkan kabar. Tentunya bisnis begini tidak umum berjalan di akhir pekan di Belanda ini. Senin pun tiba. Tanpa kabar. Pun demikian dengan Selasa. Tapi gua masih bersabar dan tidak menghubungi kantor makelar, hal-hal seperti ini tentunya butuh waktu. I had enough on Wednesday Gua pun mengirim email ke kantor, tentunya karena gua tidak suka telepon dan menunggu dengan cemas. Tak berapa lama, gua menerima email balasan. Tapi betapa terkejutnya gua karena kabar yang gua dapatkan adalah justru tentang meninggalnya Opa Johan secara tiba-tiba sehari sebelumnya.

It was a sad news indeed. Walaupun baru bertemu beberapa kali, dan walaupun Opa Johan termasuk makelaar bisa terkesankan sebagai makelaar yang “sulit”, semua yang dia lakukan sangat membantu bagi kita pasangan suami-istri-sembarang-di-negara-ini. At some point, kami berpikir bahwa sepertinya Opa Johan lebih mengetahui hal-hal yang mempengaruhi keamanan Hafshah dibanding kami (refer to: dekat dengan air dalam). Kematiannya pun terasa sangat tiba-tiba karena baru berselang beberapa hari di mana kita melihat apartemen bersama dan beliau terlihat sangat gagah untuk ukuran orang seusianya. I guess that’s life, kita benar-benar tidak bisa memprediksi kapan dan bagaimana kematian akan menjemput kita (but I guess if we’re already above 60 it’s not that far away..).

Tim makelaar bersifat sangat profesional dan kolega Opa Johan langsung mengambilalih proses negosiasi yang sebelumnya dilakukan oleh Opa. Sampai detik ini, gua belum tahu persisnya apa yang menjadi penyebab kematian Opa Johan. But it doesn’t matter anyway. So, that’s the story of our first Dutch Makelaar yang sudah membantu kita dalam mencari tempat tinggal permanen di Groningen. Terima kasih Opa Johan.

Advertisements

5 thoughts on “The Story of Our First Dutch Makelaar

    • Sempet bikin ngelamun beberapa saat pas denger 😥

      OOT: Trus ini krn temen2 gw yg komen manggilnya ke gw aja kan padahal suami gw yg nulis *halah*

  1. Pingback: Pindahan Apartemen: Suka Duka Bulan Pertama | Masanya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s