Driving (and Buying) a Car in The Netherlands: The Good, The Bad and The Ugly

HW WM
Highway di Belanda – image courtesy of our friend

Belanda adalah negara yang budaya bersepedanya infamous. Menurut informasi yang gua ga bisa rujuk dengan baik, ada lebih banyak sepeda dibandingkan dengan manusia di Belanda ini. Selain bersepeda, public transportation juga sangat memadai. Di kota besar seperti Amsterdam berbagai sarana transportasi seperti trem, bus, metro, dan kereta tersedia untuk mejangkau segala sudut kota. Di Groningen yang merupakan ujungnya Belanda, bus pun tersedia, tapi Groningen tidak sebesar itu dan sangat terjangkau dengan menggunakan sepeda. Di awal-awal kepindahan gua di Belanda, gua menggunakan kereta untuk commuting dari tempat tingal ke kantor di Assen. It works just fine. Kalau gua ingin ke kota, gua bisa berjalan kaki sekitar 1.5 km (20-25 menit). Namun demikian, tentunya memiliki mobil mempermudah banyak hal terutama dengan adanya bayi tidak terlalu kecil di rumah tangga gua. Kebetulan, di kantor pusat ada rekan yang menjual mobil yang cukup bagus dengan harga yang reasonable. Oleh karena itu, sekitar sebulan setelah kedatangan gua di negara ini, gua putuskan untuk membeli mobil.

Membeli mobil di Belanda bukanlah sesuatu yang sulit. Tidak ada larangan untuk warga negara asing untuk membeli mobil. Dokumen yang dibutuhkan dari sisi pembeli hanya paspor, SIM (tidak perlu SIM belanda atau pun sim internasional, kecuali SIMnya tertulis dalam huruf non latin), residence card dan surat keterangan tinggal dari Gemeente (dengan no. BSN tertera) tempat kita terdaftar sebagai warga. Dari sisi penjual, mereka perlu menyiapkan certificate of ownership dan transfer certificate. Kemudian, karena gua dan penjual adalah warga asing, kita perlu melakukan serah terima di kantor RDW. Jikalau pembeli dan penjual adalah warga Belanda, mereka bisa melakukan serah terima di kantor pos. Setelah melakukan serah terima, pembeli yang telah menjadi pemilik mobil wajib memenuhi kewajibannya sebagai pemilik mobil: membayar pajak jalan (bisa tahunan atau quarterly), memiliki asuransi mobil, dan tentunya mengisi bensin supaya mobilnya bisa jalan.  Dalam beberapa hari RDW akan mengirimkan kartu Kentekenbewijs (STNK) yang bentuknya mirip dengan kartu kredit.

kentekenbewijs-415x260
Kentekenbewijs, STNK Belanda (image from here)

Tentunya menyetir di Belanda harus dengan menggunakan SIM atau rijbewijs. Sebagai informasi, SIM Indonesia berlaku di Belanda selama 6 bulan sejak kedatangan. SIM Internasioanal yang diterbitkan di Indonesia tidak memiliki kekuatan hukum tanpa SIM aslinya karena hanya dianggap sebagai terjemahan dari SIM asli. Banyak yang tidak mengetahui hal ini dan menyangka bahwa SIM internasional yang diterbitkan di Indonesia memang diperlukan dan berlaku sampai 1 tahun. Tentunya saya tidak bertanggungjawab atas info ini dan kalau tidak percaya atauapun kalau percaya silakan ditanyakan sendiri ke pihak berwenang. Gua pindah ke Belanda dengan status sebagai kennismigrant  dan dengan skema “30 percent ruling”. Salah satu keuntungan dari skema tersebut adalah bolehnya menukar SIM tanpa melalui tes. Prosedur penukaran SIM juga cukup mudah. Dokumen yang dibutuhkan adalah SIM lama, paspor, residence card, 30 percent ruling letter dari departemen pajak, pas foto dan health declaration yang bisa diisi online di cbr.nl. Lead time proses penukaran adalah sekitar 4 minggu (tapi gua cuma dalam 2 minggu saja!) dan biaya sekitar 38 euro, gua lupa pastinya. Permintaan penukaran dan pengambilan SIM bisa dilakukan di kantor gemeente. Penukaran bisa dilakukan dengan membuat appointment, sedangkan pengambilan tidak memerlukan appointment. Untuk pas foto, gua sempat membawa foto dari Indonesia yang tidak memenuhi syarat. Di dekat Gemeente Groningen tentunya ada studio foto instan yang sudah mengetahui secara pasti persyaratan foto untuk SIM. Rijbewijs yang gua dapatkan adalah penukaran, yang berarti SIM Indonesia gua dikembalikan ke pihak yang berwenang. Sampai detik tulisan ini dibuat, gua belum berhasil menyelamatkan SIM Indonesia. Disinyalir gua mungkin bisa menyelematkannya dalam 2 bulan ke depan.

Lantas, bagaimanakah kondisi setir menyetir di Belanda? Tentunya berbeda dari di Indonesia. Hal yang paling mendasar adalah posisi setir dan posisi mobil di jalan. Sudah merupakan hal yang masyhur bahwa di sini, setir mobil ada di kiri dan mobil berjalan di sisi kanan sesuai sunnah. Menyalip mobil yang umum dilakukan di highway (gratis, tidak seperti jalan tol Indonesia) dilakukan dari kiri.  Hal ini tentunya masalah perbedaan saja dan tidak bisa dikatakan bahwa menyetir dengan setir kiri/kanan lebih baik yang satu daripada yang lainnya. Di Belanda, perempatan seringkali diganti dengan bundaran. Butuh waktu untuk membiasakan ini, tapi intinya, memasuki bundaran harus menunggu mobil yang sudah ada di dalam, dan keluar dari bundaran harus memberikan sen kanan. Ada mobil yang ketika memasuki bundaran memberikan sen kiri (which is a bit awkward for me initially tapi setelah dipikir-pikir berputarnya memang berlawanan arah jarum jam) dan ada pula yang tidak.

Tetapi ada beberapa hal yang gua rasakan lebih baik dari di Indonesia. Kualitas jalan di Belanda sangat baik. Gua belum pernah menemui jalan yang berlubang. Kualitas jalan di highway juga exceptional (walaupun gua bilang gratis, tapi sebenernya kita bayar pajak jalan, jadi mungkin tidak gratis, tapi kita tidak membayar pajak mobil seperti di Indonesia..well, silakan simpulkan sendiri). Dengan kualitas jalan yang  baik ini, di highway mobil diijinkan untuk memacu kecepatan hingga 100, 120, atau 130 km/jam (berbeda-beda tergantung situasi). Dengan jalan yang lurus dan berkualitas, menyetir hingga 130 km/jam tidak terasa cepat bila dibandingkan dengan menyetir 130 km/jam di Indonesia (which is of course against the law..). Jalanan juga menjangkau setiap kota di Belanda. Tentunya bukan merupakan hal yang aneh karena dari Groningen (ujung Utara) ke Den Haag (hampir ujung Barat) saja hanya membutuhkan waktu 2,5 jam. Tidak bisa dibandingkan dengan Indonesia.

Menyetir di Belanda juga tak selalu indah. Satu-satunya hal yang bisa dibilang buruk, adalah jalanan dalam kota Belanda yang relatif sempit. Tapi ini merupakan konsekuensi dari digunakannya sebagian dari jalan itu untuk jalur sepeda. Yang buruk untuk mobil, tapi tidak buruk secara keselurahan. Di kota seperti Amsterdam dan Den Haag, situasi diperparah dengan adanya jalur trem yang tidak terpisah dengan jalur mobil. Tapi lagi-lagi ini adalah konsekuensi dari adanya public transportation, yang agak buruk buat pengemudi mobil tapi secara keseluruhan sama sekali tidak buruk. Hal lain yang gua rasa cukup menyulitkan adalah sangat banyaknya garis-garis dan rambu-rambu di Belanda. Mungkin karena gua tidak terbiasa, tapi menurut gua garis-garis dan rambu-rambu di Belanda agak too much dan malah membingungkan (atau mungkin di Indonesia yang terlalu sembarang?).

Selain hal yang bisa gua kategorikan sebagai baik dan buruk, ada hal-hal lain yang tidak bisa gua bilang buruk, tapi bisa gua bilang.. well, ugly. Dan ini banyak terkait dengan kebiasaan-kebiasaan menyetir orang Belanda. Hal yang gua perhatikan pertama adalah bagaimana orang Belanda selalu tancap gas begitu lampu hijau. Tentunya tidak ada yang salah dan tak ada hukum yang dilanggar, tapi sebagai orang Indonesia yang cenderung smooth ketika ada lampu hijau, I find this quite annoying and unnecessary. Perilaku lain yang cukup mengganggu dan agak berbahaya adalah kebiasaan mereka ketika berpindah jalur di highway. Seringkali mereka pindah tiba-tiba (terutama dari kanan ke kiri untuk menyalip) tanpa melihat jarak aman dari mobil yang sedang melaju di kiri dan dengan aba-aba lampu sen yang cukup tiba-tiba. Yang terakhir terkait dengan kebiasaan parkir mereka. Di Belanda, area parkir per mobil tidak seluas di Indonesia sehingga cukup penting untuk memarkir mobil dengan baik, tapi sepertinya mereka kurang perhatian terhadap ini sehingga seringkali ada area parkir yang tidak bisa dipakai karena satu mobil yang parkir melebih garis area parkirnya.

Demikian yang bisa gua ceritakan tentang menyetir di Belanda. Satu tips yang bisa gua bagi dalam peralihan setir kanan ke kiri, selalu lebihkan ke arah kiri di awal-awal menyetir. Kita terbiasa menganggap sisi kanan kita sebagai sisi dekat sehingga seringkali kelebihan jarak di kanan overestimated. Gua beberapa kali menyenggol trotoar di sisi kanan jalan (pelek kanan mobil gua menjadi saksinya) di awal-awal menyetir karena masalah estimasi jarak ini. After a while, you’ll be fine and enjoying the ride!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s