Pindahan Apartemen: Suka Duka Bulan Pertama

Awal bulan ini kami sekeluarga resmi pindah ke tempat baru yang proses pencariannya sudah diceritakan oleh Suami. Prosesnya secara keseluruhan lumayan ribet karena:

  • Suami harus bolak-balik dengan Mario (nama mobil kami #penting), mengangkut barang dari temporary accommodation ke tempat baru.
  • Apartemen kami unfurnished sehingga kami harus bebelian perangkat elektronik besar dan furniture primer
  • Bebelian furniture yang terjangkau tentunya dari IKEA sehingga harus dirakit sendiri
  • Banyaknya kardus yang harus kami buang, mulai dari kardus cargo dari Indonesia sampai kardus-kardus furniture yang ga bisa dibuang semua sekaligus (bikin penuh tempat sampah bersama :)))

Di masa-masa awal pindahan, kami tidur bersama-sama di ruang tengah karena frame tempat tidur adalah benda paling ribet untuk dirakit sehingga selesai terakhir. Saat-saat itu adalah saat di mana gw dan Suami paling kangen sama Indonesia, well… lebih tepatnya kangen sama dua asisten favorit kami: Mbak Nia, ART di Balikpapan yang datang membantu seminggu tiga kali dan Mas Amin, handy man langganan tetangga townhouse di Jakarta yang selalu laporan hasil kerjanya lewat kiriman foto di whatsapp :))

Tapi toh ya dilewati aja dan setelah dua minggu kami sudah bisa hidup ‘normal’. Normal di sini termasuk kembalinya keinginan gw buat masak, di mana asalnya gw masih belum akrab dengan kompor induksi. Sedikit KZL juga karena beberapa alat masak termasuk wajan-kaleng-beli-di-pasar yang dibawa dari Indo jadi ga bisa dipake. Yawis beli yang kompatibel dan paling murah aja yang penting bisa masak. Alhamdulillah tanggal 13 kami berkesempatan buat jadi tuan rumah pengajian mingguan dari komunitas Muslim di Groningen, jadi itung-itung sekalian syukuran. Gw dan Suami pun super semangat mengisi dan menghias apartemen ini, karena boleh dibilang inilah tempat tinggal bersama pertama yang kami urus dari awal. Ngisi rumah ini bikin ngayal babu bangun rumah pensiun *jauhnya sejauh mikir meisje-H dilamar aja :)))

IMG_7222Home for a few years ahead (yang cuma rapi kalo si kesayangan tidur :)))

Baik-baik aja kan ya, normal-normal-normal-terlalu hepi sampai…

Minggu lalu gw dan meisje-H ikut Suami training ke Den Haag, berangkat siangnya dan nginep semalem aja di hotel yang lokasinya enak di pusat kota. Namapun anak desa Groningen ya gw, heboh lihat mall di sebrang hotel. Pas Suami dinner malamnya sempet lah cuci mata sedikit bareng meisje-H. But that’s not the point tentunyaaa…

Besoknya pas hari training, Suami menitipkan gw dan meisje-H di rumah sahabatnya di Den Haag. Istrinya baik banget dan jago masak, jadi ceritanya hari itu gw sekalian mau minta tips-tips lah. Pas lagi ngobrol di dapur, Suami nelpon ngabarin kalo tetangga tepat di bawah apartemen kami rumahnya kebocoran dari apartemen kami, bahkan kebocorannya merembet sampai ke parkiran basement.

Akhirnya gw mutusin untuk pulang duluan naik kereta dari Den Haag, karena suami masih training dan cuma sehari (yamasa cabut juga cuma sehari?). Untungnya istri teman suami memang mau ke Rotterdam dan kami bisa naik kereta yang sama sampai Rotterdam. Kalo gak ada dia gw hanyalah remah-remah rempeyek, Sis. Gw belum pernah naik kereta antar kota di sini, sendirian, dan bawa bayi pula. Sungguhlah ribet ternyata karena naik ke atas kereta ada tangganya, stroller juga harus diangkut dan dilipat di dalam kereta kecuali gw mau duduk bersabar di ruang gerbong sepeda. Untungnya meisje-H super manis selama 3 jam perjalanan, tidur sedikit, nyusu, dan baca buku sambil jerit-jerit kecil kegirangan. Sampe-sampe mungkin orang jadi mikir gw udah biasa jadi pas turun gada yang bantuin kerempongan gw dengan stroller -____-“ untung YOYO ya malih.

Masih Alhamdulillah tentunya sampe rumah gak banjir, jadi memang airnya merembes lewat lantai dan membuat beberapa titik kebocoran di apartemen bawah. Penghuninya seorang nenek yang tinggal sendiri (di sini konon orang tua lah yang lebih suka tinggal di apartemen). Kebocoran ternyata berasal dari komponen boiler yang harus diganti, Alhamdulillah lagi langsung selesai besoknya walaupun deg-degan nunggu bill-nya dikirim lewat pos. Awkward moment sedikit terjadi pas si nenek semacam minta ganti rugi atas karpetnya yang harus diganti (di laundry room beliau ada karpetnya dong masaaa T_T).

Suami juga sampai Groningen membawa kabar kurang baik yaitu ditilang sebesar 60 Euro karena parkir lebih lama dari waktu yang diizinkan. Mahal amat yak :(. It wasn’t our best day, di situ gw langsung mikir mungkin ini alarm karena belakangan kami terlalu hepi dengan urusan kepindahan. Yang jelas jadi pelajaran, hidup di negara orang harus lebih hati-hati karena melanggar peraturan itu ‘mahal’, dan harus lebih perhatian dengan masalah dan kerusakan yang ada di rumah karena semua harus diurus sendiri.

Iklan

2 thoughts on “Pindahan Apartemen: Suka Duka Bulan Pertama

  1. Mudah cari tukang :))) agak ribet (dan mihil) deh ini kalo ada yang rusak-rusak 😦
    Tapi seru kok Nyra, sini2 mau cari S2 kan? *menyimpulkan dikit dr blog* :)))

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s