Easter Trip 2015: Paris

Suami gw udah bikin draft ga kelar (ternyata ada di Bahasa Belanda – klaar, artinya siap -, red) juga nih, jadi gw posting duluan lagi aja ya #kodenyuruhposting. Sudah 3 bulan sejak winter trip kami ke Jerman akhir tahun lalu, karena Easter ini ada libur nasionalnya 2 hari jadi kami putuskan untuk pergi liburan dengan Paris sebagai destinasi terpilih. Kenapa Paris? Karena kebetulan ada 2 sahabat gw dari kantor lama (suami-istri) yang tinggal di sana dalam rangka sekolah, plus janjian sama seorang anggota genggong kuliah dari Milan. Menurut Suami, liburan sambil ngunjungin orang lebih meaningful dan setelah menjalaninya gw super sepakat!

FullSizeRender

Tourist spots yang kami tuju hanya yang mainstream aja, karena ternyata (buat kami ya) kota Paris itu kurang baby-friendly. Jadi di sini gw mau cerita soal traveling ke Paris dengan bayi yang masih MPASI, plus beberapa tempat makan halal yang recommended. Kalo tempat-tempat wisata mah udah banyak yang cerita, pasti lebih lengkap.

Jadwal harian standar kami adalah berangkat dari hotel sekitar 9.30 pagi, dan sudah kembali hotel sekitar pukul 18.00 dengan detail sbb:

Day 1: Perjalanan Groningen – Amsterdam (mobil), Amsterdam – Paris (Thalys Train), bertamu ke rumah ex-relasi kantor Suami di La Defense
Day 2: Jalan-jalan sekitaran Seine River, Notre Dame, The Louvre
Day 3: Versailles (rumah teman & Versailles palace)
Day 4: Eiffel dan sekitarnya, Seine River Cruise, Galeries Lafayette
Day 5: Eiffel, Arc de Triomphe de l’Étoile, Champs-Élysées (harusnya ke Sacre Coeur tapi gw jompo banget gendong bayi)
Day 6: Perjalanan pulang

Transportasi & mobilisasi Paris ini lebih tepatnya sih GAK stroller-friendly. Metro stations-nya mostly tidak ber-lift dan tangga-nya tinggi-tinggi. Jadilah udah bawa stroller pun penggunaannya hanya 15% dan selebihnya kami menggunakan baby carrier (encok pegel linu sering lemah letih lesu deh). Pilihan lainnya yang banyak dilakukan juga menggotong stroller yang sedang diduduki si anak, kalau yang ini langsung dicoret dari opsi oleh Suami dan mungkin kebanyakan karyawan O&G lainnya (kan safety 1st, in case you didn’t get my point). Lain cerita kalau anaknya sudah bisa jalan ya, harusnya sih lebih gampang. Oh iya, tapi kalo kemana-mananya naik bis gampang aja sih (katanya) ber-stroller ria. Kekurangannya satu,  mempelajari rute bis kan lebih lelah ya.

Akomodasi Karena meisje-H masih belum makan makanan keluarga, kami harus nyari tempat yang bisa masak (aparthotel) atau bawa slow cooker di hotel biasa. Sebagai pencinta Accor hotels, pilihan tempat menginap jatuh ke Adagio Access La Defense Leonardo Da Vinci di kawasan SCBD-nya Paris, La Defense. Adagio Access adalah 2nd line dari Adagio aparthotel (semacam Ibis Budget). Ibis yang lebih di tengah kota rata-rata fully booked dan (tentunya) lebih mahal. Adagio La Defense ini memang tidak di pusat kota, tapi lokasinya dekat dengan Metro station M1 La Defense yang merupakan jalur “utama”. Ketersediaan fully equipped kitchen di kamar juga memudahkan kami untuk tidak membawa alat masak buat meisje-H.

Baby food a.k.a MPASI Bukan, bukan karena gw mamak ideal yang harus homemade selalu kok bukan :p Pengen juga sih bisa langsung ngasi instant meal dalam pouch yang tinggal lep, tapi eh tapi kan kalau ber-daging ndak halal. Keluarga kami sejauh ini masih nyari resto halal (thanks to Zabihah) atau makan seafood. Tapi kalau dijamu sih kami gak nanya halal-nya kok. Don’t ask me why 😀 puanjaaang.

Bekal yang gw bawa untuk 6 hari makan meisje-H adalah:

  1. Carbo: sekantong oatmeal, karena cepat dimasaknya
  2. Protein: minced beef matang favorit meisje-H (dengan bawang & wortel alias bahan tumisan untuk Bolognese sebelum diberi tomat) dalam cup 2 porsian, dan tahu sutra.
  3. Sayur: zucchini & cherry tomatoes, karena gak ribet bentuknya untuk dipacking :p Bisa diganti puree sayuran siap saji dalam pouch (kalo dalam beling kan berat).
  4. Buah: frozen prunes & pear dalam cup porsian untuk sarapan dicampur oatmeal. Yang ini bisa diganti puree buah siap saji juga, tapi karena meisje-H suka susah ke belakang jadi setiap pagi “wajib” gw kasih prunes.
  5. Pelengkap: unsalted butter  porsian & keju
  6. Camilan: sugar free baby biscuit, pisang, dan puree sayuran siap saji dalam pouch.
  7. Hand blender, bisa diganti manual baby food maker untuk bejek-bejek makanan

Semua bahan bisa dibeli di supermarket di Paris sih, tapi gw males keribetan nyarinya lagi jadi mending dibekal, apalagi harus masak daging kan males ya. Ritual pagi gw adalah membuat oatmeal untuk campuran buah sarapan, dan memasak makan siang yang sekaligus makan malam-nya. Makan siang dan makan malam-nya tinggal campur oatmeal, pilihan protein & sayur. Masaknya di panci yang tersedia di sana aja, trus dibagi ke dua porsi (lunch & dinner). Porsi dinner tinggal ditaro kulkas untuk malamnya dihangatkan di microwave.

Berikut adalah perlengkapan makan yang gw bawa jalan-jalan setiap hari: air mineral, totseat (portable high chair), makan siang, trio snack (puree sayuran, sugar free baby biscuit, very ripe banana). Snack-nya ada 3 macam untuk memfasilitasi keinginan meisje-H. Nah untuk makan siang tentu saja tidak pernah habis, tapi biasanya di restoran meisje-H sambil makan baguette yang disajikan gratis. Doyan roti dia, lagi masa-masanya juga suka makan sendiri kan.

FullSizeRender2

Restoran Halal Semua restoran ini gw temuin di Zabihah, disesuaikan dengan lokasi yang gw kunjungi di hari tersebut. Untuk tidak memilih restoran halal pun sebetulnya cukup aman, karena by law semua restoran harus menyebutkan bahan-bahan yang digunakan di daftar menu. Jadi bisa pilih seafood yang tidak dimasak dengan alkohol 🙂

  1. Le Wok Saint German, walking distance dari daerah Notre Dame. Makanan Thailand & Vietnam, 12-15EUR untuk main course, porsi makanan yang tidak berkuah gede banget. Tidak ada logo halalnya karena konon mengurangi minat orang yang gak suka dengan populernya makanan halal, tetapi ada logo AVS di daftar menunya. AVS ini organisasi independen yang memonitor daging halal.
  2. Le Petite Gourmet, walking distance dari Galeries Lafayette Haussmann. Kalau penasaran dengan authentic French food tapi pengen yang halal bisa mencoba ini, kisaran harganya 15-20 EUR untuk main course.
  3. Di sekitar aparthotel kami di La Defense banyak (banget) tempat makan halal, yang sudah kami coba Lal’s Café (burger dan sebangsanya), Toast & Pizz (Pizza), dan Grill Dehliz (Turkish). Ada resto sushi juga tapi kami ga jadi nyoba, karena udah makan (alcohol free) sushi delivery di Versailles.
  4. Karena kabita, gw nyoba juga Leon de Bruxelles di Champs-Élysées (edited: kelupaan, ini bukan resto halal). Pilih-pilih aja menunya ya, soalnya beberapa dimasak pakai wine 🙂

Pikir-pikir kata Suami juga liburan ini banyaknya “cuma” absen, tapi beneran deh jadi lebih berkesan karena ada yang dikunjungi. Ngunjungi siapa lagi ya abis ini? 😉

Iklan

8 thoughts on “Easter Trip 2015: Paris

  1. Duh Sanya, Dimas..maafkan ya ga jadi bertemu 😦 smoga ada kesempatan lain ya.
    Sanya meuni hebat itu nyiapin mpasinya Hafsah, saya mah beli instan terus kalo travel (jadinya Iris makan ikan terus hahaha).

    • Iya Mba Mia, insyaAllah pengen ke sana lagi kok (kalo anaknya udah bisa jalan lah :p)
      Aku sempet browsing2 juga makanan instan yang ikan, tapi di tokonya malah ga pernah lihat, euy… curiga kurang populer

      • Di sini banyak San yg pake ikan. di sana ga ada ya? Noted, bawa perbekalan buat minggu depan..kalian ga ada rencana ke ams ya? Hehehe

  2. thanks for sharing nya mama hafsah, awal baca gue kira itu zabihah nama orang 😉 asik nih kalo ada ulasan tempat makan halal, jadi ndak puyeng kalo kesana 😀

  3. Pariis, ngilernyaa… Kebayang encok gendong2 meisje-H, I feel you bangeeet.
    Hehehe sama kaya jaman Raya awal-awal makan, kalau jalan-jalan andelannya oatmeal yg udah diblender, pisang, pear, apel & alat bejekan manual yang gampil dibawa2. Cemilannya biskuit gerber rasa apel & stroberi andalan. Pengen pake yg instan2 tapi wassalam Raya ngga pernah doyan karena emang rasanya gurih banget… Tapi semua sudah berlalu, sekarang udah bisa makan bareng jd ngga terlalu repot kalo jalan-jalan 😀 *Ibupemalas*

    • Iya San, kalo di sini justru ga ada yang model instan bubuk trus dicairkan… adanya yang puree ready to eat gitu (ada juga kali ya di Indo? Ga pernah lihat). Sebenernya secara rasa sama aja sama fresh puree karena emang ga pake tambahan apa2 (aku pernahnya icip yang sayur :))) Tapi ya itu, untuk proteinnya kan ga jelas statusnya kecuali ikan.
      Asik ya kalo udah > 1 tahun? Hihihi ga sabar 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s