Asisten-asisten Rumah Tangga

Di dalam hidup banyak keluarga Indonesia, asisten rumah tangga adalah bagian yang teramat penting. Selama gua tinggal di Cikampek dan Bandung, jumlah asisten rumah tangga yang pernah menjadi bagian keluarga gua cukup banyak. Jikalau mereka memiliki email, niscaya bisa dibuat sebuah milis dengan jumlah puluhan orang. Most of them stay 2-3 years, some only last months, several stay longer, and a few of them simply don’t leave. Ketika di Balikpapan pun gua sempat memiliki satu asisten yang datang 3 hari seminggu selama lebih kurang 6 tahun. Sebut saja Mbak Nia, nama sebenarnya. Buat gua Mbak Nia adalah salah satu pembeda kualitas hidup gua di Balikpapan. Gua sempat mengalami periode di mana beliau tidak bekerja untuk gua, periode tersebut adalah periode tersulit hidup gua di Balikpapan.

Anyway, gua tidak bermaksud untuk menceritakan tentang asisten gua dahulu di Cikampek, Bandung, atau pun Mbak Nia. Semenjak pindah ke Groningen, tentunya gua tidak mendapatkan privilege untuk mempekerjakan asisten rumah tangga. Kalau mau diupayakan kami mungkin bisa memperkerjakan seseorang dengan peran seperti Mbak Nia, tetapi mempertimbangkan: situasi ekonomi dan turunnya harga minyak, apartemen yang relatif tidak terlalu luas, kemungkinan adanya orang asing dengan bahasa dan wajah asing. Maka kami bahkan tidak berusaha untuk mencari kemungkinan itu.

Pun demikian, di era kemajuan teknologi di mana mobil Tesla sudah memasuki pasaran, banyak benda-benda yang bisa kita manfaatkan untuk menggantikan peran asisten manusiawi. Gua jadi sedikit teringat dengan ted talk nya Hans Rosling yang berjudul The Magic Washing Machine. Di akhir ted talk-nya, beliau menceritakan bagaimana mesin cuci datang dalam kehidupan manusia, mempermudah ibu-ibu di seluruh dunia, dan memberikan waktu bebas untuk anak bermain dan belajar bersama ibunya. Dengan spirit untuk tidak terhabiskan waktu dengan bebersih rumah, kami pun menambah “asisten-asisten” di rumah tangga kami. In particular, ada dua benda yang kami tidak miliki di Balikpapan dan sangat berkesan sampai gua merasa perlu menulis postingan ini.

phontoMeisje-H & the assistants

Vacuum cleaner robot (Dirt Devil Spider M607)

Gua pertama melihat benda ini ketika sedang browsing wireless vacuum cleaner. Teknologi ini sudah ada lebih dari satu dekade, tapi tentunya di awal munculnya harganya sangat mahal. Gua pun berpikiran bahwa benda seperti ini masih merupakan benda yang mewah. Ternyata saat ini vacuum cleaner robot sudah tidak semewah itu. Harganya relatif masih mahal, sekitar 200-300 euro. Maka, ketika mendapati merk Dirt devil seharga 90 euro ini, gua pun sangat amat luar biasa antusias. Nyata dalam bayangan gua bagaiman benda ini bisa menggantikan tugas gua mem-vacuum apartemen di akhir pekan.

Tapi tentunya tidak mudah untuk meyakinkan diri untuk membeli online. Harganya yang jauh di bawah rata-rata membuat gua tidak yakin. Harganya memang relatif tidak mahal, tapi 90 euro untuk sebuah produk yang tidak bekerja pun tetap sebuah kesia-siaan. Maka gua pun pergi ke Media Markt untuk mencarinya. Sayang sekali di toko yang gua datangi benda yang dimaksud tidak tersedia. Hanya produk dengan harga rata-rata yang ada. Akhirnya gua pun berkontemplasi untuk membelinya secara online atau tidak. Di Belanda sebenarnya memungkinkan saja untuk mengembalikan barang jikalau dirasa tidak cocok, tetapi gua si pemalas ini merasa yang demikian pun merupakan sebuah hassle yang teramat berat.

Akhirnya setelah melalui tahapan-tahapan evaluasi dan pertimbangan resiko, gua merasa 90 euro untuk membebaskan sekitar 1 jam waktu gua di akhir pekan, di tambah upside berupa frekuensi mem-vacuum rumah yang bisa ditingkatkan, merupakan sebuah investasi yang resikonya rendah. Gua pun memesannya secara online di http://www.mediamarkt.nl dan menunggunya dengan harap-harap cemas.

Selang 2-3 hari, benda yang ditunggu pun datang. Gua tidak menunggu lama untuk membongkar kemasan, men-charge si alat, dan mencobanya. Bagaimana hasilnya? Tidak mengecewakan, tapi tidak teramat istimewa. Gua merasa value yang diberikan sebanding dengan investasi yang dikeluarkan. Alat ini tidak bisa membersihkan 100% dan gua masih harus menghabiskan sedikit waktu agar lantai benar-benar bersih. Pola gerakan yang dibuat cukup random dan tidak mencover sepenuhnya area apartemen. Konon kabarnya, alat-alat sejenis yang lebih mahal bisa diprogram sesuai dengan denah rumah. Ada pun Dirt Devil Spider M607 hanya menyusuri pinggiran tembok, kemudian setelah beberapa waktu membuat gerakan melingkar. Lingkaran kecil.. lingkaran kecil.., liiingkaran besar.. kurang lebih seperti itu gerakan yang dia buat. Dia memang tidak sempurna, tapi setidaknya 60-70% pekerjaan mem-vacuum gua berkurang. Frekuensi mem-vacuum pun bisa ditingkatkan dari mingguan menjadi harian. Intinya, gua cukup puas. Atas perannya tersebut, kami pun menamai dia dengan nama kehormatan: Mbak Nia.

Mesin cuci piring

Benda ini sudah lama muncul dalam kehidupan umat manusia. Menurut info yang secara malas gua cari dari wikipedia, benda ini sudah ada as early as 1850 dan edisi tahun 1924 sudah mencakup elemen-elemen yang bisa kita temui di mesin cuci piring modern. Akan tetapi, benda ini tidak seumum itu untuk ditemui di rumah-rumah di Indonesia, ya kan? Setidaknya tidak di rumah yang gua pernah tinggali. Pengalaman pertama gua berkenalan dengan mesin cuci piring adalah tahun 2010 di Adagio Aparthotel Paris. Akan tetapi, pengalaman tersebut tidaklah terlalu berkesan. Gua yang cukup awam mencoba-coba untuk mengoperasikan mesin cuci piring tersebut tapi somehow hasilnya tidak bersih. Maka gua pun menganggap bahwa mesin cuci piring tidak bisa menggantikan gosokan tangan manusia.

Akibat pengalaman yang kurang berkesan ini, di awal kepindahan gua di Belanda pun gua tidak menggunakan mesin cuci piring. Toh, gua pun tidak banyak memasak sehingga jumlah cucian piring/alat masak relatif sedikit. Akibat keskeptisan gua ini pun, istri juga skeptis di awal kedatangannya di Belanda. Gua berhasil menanamkan pikiran bahwa mesin cuci piring tidak sepenuhnya bersih, tetapi standar bersih orang Belanda berbeda dan mereka tidak butuh piring yang sepenuhnya bersih. Akan tetapi, akhirnya istri pun bertobat dari pikiran sesat yang gua tanamkan. Masa iya semua rumah di sini memiliki mesin cuci piring kalau hasilnya tidak bagus. Maka dia pun mencoba untuk menggunakan mesin cuci piring. Percobaan pertama tidak berhasil karena kami tidak menggunakan sabun (ya iyalah..). Percobaan kedua gagal karena kami menggunakan sabun cair dan busanya membanjiri bagian dalam mesin cuci piring. Di percobaan kedua ini, kami pun mengulanginya tanpa sabun dengan tujuan untuk menghilangkan banjir busa. Ajaibnya, semua benda yang kami masukkan pun menjadi bersih.

Lambat laun, kami mulai menggunakan mesin cuci piring secara rutin, dengan sabun yang benar, dan dengan mode yang benar. Semenjak pindah ke apartemen baru kami pun berusaha mempelajari lebih jauh penggunaan yang benar, termasuk penambahan rutin dishwasher salt yang berguna untuk “melembutkan” air. Setiap hari kami menggunakan mesin cuci piring sekali di malam hari. Cucian pagi, siang, dan malam kami tumpuk dan kami biarkan tercuci oleh si mesin cuci piring yang juga penarik perhatian Meisje-H  untuk kemudian sudah bisa digunakan lagi keesokan harinya. Waktu cuci mesin ini cukup lama, sekitar 2-3 jam, tapi hasilnya sangat bersih bahkan untuk piring-piring yang cukup berminyak. Menurut studi yang dilakukan electrolux, mesin cuci piring juga lebih hemat air dibanding mencuci manual. Mungkin bila kita pulang ke Indonesia suatu saat nanti, teknologi ini akan kami adaptasikan pula di rumah. That’s how strong I feel about dishwasher now.

Advertisements

3 thoughts on “Asisten-asisten Rumah Tangga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s