The Journal Effect

What do you think when the word “notebook” is mentioned? Kalau kita mencoba googling kata tersebut maka ada 3 hasil utama pencarian yang muncul ke permukaan: buku tulis, sebuah laptop, dan .. oh you guess it.. the movie..

Anyway, gua tidak bermaksud untuk membahas sedikit pun tentang film, tapi yang akan gua bahas adalah tentang buku tulis. Benda ini tentunya sangat identik dengan sekolah. Buku catatan adalah sarana yang kita gunakan untuk mencatat pelajaran yang kita dapatkan dalam kelas atau menahan kantuk. Selama ini gua selalu berpikir bahwa tidak ada yang bisa menggantikan buku tulis sebagai media penampungan pelajaran dalam kelas. Akan tetapi, ketika gua mengambil MSc 2-3 tahun yang lalu gua mendapati banyak mahasiswa yang lebih muda dari gua lebih banyak mengutilisasi ipad mereka yang memang diberikan oleh kampus. Mereka menggunakan apps untuk menganotasikan slide kuliah dan juga foto untuk hal-hal yang dosen tuliskan di papan tulis. Usia dosen bisa ditebak dari kalimat sebelum ini.

Lain kuliah, lain dunia kerja. Di dunia kerja modern saat ini, hampir semua karyawan memiliki komputer. It’s safe to say kalau karyawan dunia modern sulit bekerja tanpa komputer. Di kantor lama, setiap tahun kita diberi agenda tahunan, tetapi gua perhatikan tidak terlalu banyak yang menggunakannya. Buku yang lebih banyak digunakan malah buku folio bergaris yang seringnya digunakan sebagai buku untuk menulis/menggambar ala kadarnya. Kalau di masa SD, buku sejenis ini adalah buku kasta terendah, di bawah buku ulangan, buku latihan/PR, dan buku catatan, yaitu buku corat-coret. Di kantor baru, setiap karyawan diberi laptop instead of dekstop PC, yang membuat orang lebih banyak terlihat membawa laptop ke mana-mana. Penggunaan tablet dan smartphone sebagai sarana pencatat/agenda juga terlihat lebih umum, yang membuat keberadaan buku catatan/agenda semakin jarang.

Di antara gemerlapnya dunia gadget, beberapa orang tetap mempertahankan tradisi lama. Di antaranya adalah line manager gua saat ini. Dia sudah cukup berumur, anak tunggalnya hampir seusia gua. Sebelum bekerja di dunia perminyakan, dia pernah menjadi tentara untuk beberapa tahun. Dia hampir selalu memakai brogue, membawa swiss knife, dan menggunakan sepeda ke kantor. Simply put, he’s a proper Dutch man. And guess what? He still uses a notebook. Ini adalah salah satu hal yang gua sadari dari pertemuan pertama gua dengan dia. Dia mencatat hasil percakapan kita dalam sebuah notebook bersampul kulit hitam berukuran A5 berlambang kerang di sudutnya. Pemandangan yang cukup langka.

Moleskine

Di tengah liburan musim panas tahun ini, gua berusaha mencari ide untuk meningkatkan produtivitas gua, dalam pekerjaan dan di luar pekerjaan. Dengan ritme hidup gua sekarang ini, waktu terasa sangat cepat berlalu dan terkadang sulit untuk menambah value atau membuat perubahan yang berarti dalam hidup. Di sebuah mall di Jakarta (oh the irony..), ketika sedang mencari buku untuk Hafshah, gua melihat beberapa notebook Moleskine warna-warni terpajang. Gua pun berpikir, apakah sebuah notebook berkualitas bisa meningkatkan produktivitas. Apa bedanya dengan “notes” di iphone/ipad gua? Apa bedanya dengan paper pad murahan yang tersedia gratis di kantor?

Niat membeli notebook Moleskine pun gua urungkan. Gua berpikir bahwa kalau pun nanti gua mau membelinya, lebih baik gua membeli dari Amazon saja karena lebih murah. Tapi takdir pun menyatukan kami. Di perjalanan pulang dari Jakarta – Amsterdam, kami harus transit di Singapura karena… yah, karena maskapainya mengharuskan demikian. Ternyata, di Singapura kami diberi voucher belanja senilai 30 dollar. Istri pun mengajak untuk melihat buku di Times. Di situlah benda manis itu teronggok. Sebuah notebook Moleskine pocket size edisi lego yang memang sudah gua incar di Amazon, seharga 30 dollar. Tanpa pikir panjang, gua pun membelinya. And it turns out to be an amazing investment.

Sebuah notebook berkualitas sangat berbeda dengan paperpad murahan. Yang pertama, you’ll love to write in it. Menulis di paperpad murahan adalah pengalaman yang tidak berkesan dengan hasil tulisan yang buruk, cenderung tidak tajam, dan tembus ke mana-mana. Yang kedua, hasil tulisan pun menjadi lebih berharga untuk disimpan dan dibaca ulang. There is only one end for a paperpad: recycle bin. Menulis di sebuah buku pun tidak sama dengan mencatat di smartphone. Ada sebuah proses yang tidak tergantikan ketika kita berpikir dan menggunakan pena untuk menuangkan isi pikiran kita. Mungkin hal ini pun terkait dengan proses pembelajaran kita yang sejak kecil dilakukan dengan menulis di kertas.

Gua menggunakan notebook kecil tersebut sebagai jurnal pribadi gua di luar kehidupan kerja, untuk menulis hal-hal yang gua rasa terlalu pribadi atau tidak menarik untuk ditulis sebagai blog, dan juga untuk “proyek-proyek” yang ingin gua capai. Sejauh ini hal-hal yang ditulis tersebut sangat sederhana, sangat realistis, dan sangat terimplementasikan. Gua dan istri sudah berhasil membuat list belanja mingguan yang berawal dari rencana gua untuk menurunkan berat badan (I hope I can write another blog post about that in a few months), daftar furniture wishlist (dan menyingkirkan yang tidak diperlukan), daftar Dutch phrases yang gua rasa menarik untuk gua hapalkan, jadwal pakaian gua sehari-hari (yes, I need it), dan perkara-perkara kecil lainnya yang surprisingly sangat bermanfaat untuk dituliskan. Pada akhirnya gua pun memutuskan untuk membeli satu jurnal berukuran A5 khusus untuk kerja dan juga membelikan istri satu notebook pocket size berwarna merah. Gua menggunakan jurnal tersebut untuk memulai hari dengan menuliskan target harian dan mengakhirinya dengan hal yang tercapai. Kalau gua mendapatkan ide di rumah pun gua akan langsung menuliskannya agar tidak lupa.

Akhir kata, gua merasa bahwa notebook adalah bagian yang tidak tergantikan oleh gadget. Di tengah dunia digital, kertas dan pena tetap menjadi sarana utama yang paling dekat untuk menyalurkan pikiran kita melalu jari-jemari. Dunia digital memang sudah sedemikian dekat dan intuitif. Tapi tidak ada ide yang tidak bisa dijembatani oleh sebuah kertas kosong dan pena. Dan kehadiran sebuah notebook bisa menjadi penghubung yang paling dekat antara kita dan dunia digital. Just give it a try!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s