Being a Father: The Separation Anxiety

Seperti yang istri sudah ceritakan, dia baru saja kembali ke bangku sekolah. Konsekuensi logis dari peristiwa ini adalah babak baru dalam kehidupan anak kecil: daycare. Universitas tempat istri sekolah memiliki calendar generator yang luar biasa sehingga gua sudah tahu bahwa kuliahnya tidak berlangsung setiap hari, bahkan sebelum hari-H. Yang berlanjut ke konsekuensi logis berikutnya, si anak kecil tidak perlu ke daycare setiap hari. Hal ini gua nilai ideal karena kita tidak akan overwhelmed karena perubahan drastis melepas anak setiap hari dan si anak pun akan memiliki waktu bermain dengan teman sebayanya di daycare. Situasi win-win solution buat orangtua, anak, dan daycare (yang akan mendapat klien baru..). Gua cukup antusias meyambut babak baru dalam hidup kami.

Seminggu sebelum istri resmi memulai kuliah pun, meisje-H diberi waktu untuk gladi resik dengan bermain 3 jam di TKP. Hasilnya? Spektakuler, si anak tidak menangis sama sekali ketika ditinggal dan langsung asyik bermain. Si ibu yang ingin berdadah-dadah sedih pun tidak digubris. Ketika dijemput si anak sedang bermain dengan ceria dan langsung menunjuk-nunjuk ibunya. Optimisme gua semakin membuncah.

Tetapi melihat dari judul postingan ini pun sudah tersirat bahwa tidak semua hal akan berlangsung lancar. Kunjungan berikutnya ke daycare lebih tricky karena melibatkan tidur siang. Gua sedikit lebih khawatir, tapi tetap optimis mengingat hasil gladi resik yang melebihi ekspektasi gua. Toh, durasinya hanya 4 jam. Hari itu hari Jum’at, dan seperti seringnya hari Jum’at gua langsung pulang ke rumah setelah Jum’atan dan lantas melanjutkan kerja dari rumah. Namun, ada perasaan yang sangat aneh karena gua hanya sendirian di apartemen. It was way too quiet. Dan gua pun cukup kepikiran dengan keberadaan anak kecil yang sudah hampir 4 jam tak gua dengar kabarnya. Akhirnya gua pun memutuskan untuk menjemputnya sedikit lebih awal. Setelah sedikit kesulitan memasuki daycare (don’t ask..just don’t), gua pun mencari si anak kecil. Gua berekspektasi akan mendapati dia sedang bermain dan kemudian menunjuk-nunjuk dengan bangga untuk memamerkan bapaknya di depan teman-teman toddler bulenya.

Dan di situlah gua dapati meisje-H yang sedang terduduk cemberut di bangku taman…

Demi melihat gua pun dia langsung merengek meminta digendong. Ternyata selama 4 jam tersebut, meisje-H hanya tidur sedikit dan tidak mau makan. Gua pun segera membawa dia pulang dengan perasaan campur aduk. Niat melanjutkan kerja langsung gua abaikan dan gua berusaha untuk melakukan apa yang bisa gua lakukan untuk memperbaiki mood meisje-H. Malamnya anak kecil itu pun demam yang disebabkan vaksinasi yang dia dapatkan beberapa hari sebelumnya.

Untungnya akhir pekan tiba dan kita bisa menghabiskan waktu penuh bertiga. Selain demam dari vaksinasi, meisje-H juga sedang tumbuh gigi geraham yang menyebabkan air liurnya membludak disertai dengan penolakan terhadap segala jenis makanan padat. Hanya makanan berupa fluida non-newtonian yang dia mau terima. Selain demam dan tumbuh gigi geraham, meisje-H juga sedang mengalami konstipasi. Kombinasi dari tiga hal tersebut memang cukup berat dalam hidup seorang toddler. Alhamdulillah satu per satu masalah tersebut terselesaikan selama akhir pekan.

Minggu baru pun tiba dan meisje-H harus menjalani hari terpanjangnya di daycare selama 7 jam. Perasaan gua tidak karuan. Dari semenjak istri melaporkan serah terima dengan pihak daycare, gua sudah tidak bisa konsentrasi di kantor. Jikalau anda berpikir separation anxiety yang tertulis di judul ini merujuk pada anak kecil, anda salah. Adalah gua yang sangat merasakan anxiety tersebut. Setiap gua berada di kantor, gua tentunya tidak bersama dengan anak istri. Tapi practically gua selalu menerima kabar sehingga tak ada rasa khawatir yang mengganggu. Selama meisje-H di daycare, gua tidak mendapatkan kabar apa pun dan ini membuat gua selalu memikirkan dia. Apalagi kalau mengingat wajah sedihnya ketika gua menjemput dia di kunjungan terakhir. Hari itu pun gua jalani sekenanya dan begitu jam menunjukkan jadwal pulang, tanpa ba-bi-bu gua langsung menuju mobil dan pulang. Sepanjang perjalanan pulang gua tidak bisa berhenti memikirkan meisje-H.

Setibanya di daycare, gua pun langsung menuju taman (tanpa didahului kesulitan memasuki daycare) dan mencari anak tersayang. Di tengah lautan toddler berambut pirang, gua mendapati si anak kecil berambut hitam sedang menunjuk sesuatu sambil menangis. Gua pun mendatanginya, berharap dia akan lebih bahagia setelah gua datangi. Tapi dia masih terlihat sedih. Petugas daycare pun langsung melaporkan progress meisje-H. Tidurnya sudah berhasil, tetapi dia masih tidak mau makan. Si petugas daycare pun berkata bahwa meisje-H tidak seceria minggu sebelumnya. Gua pun semakin sedih. Peristiwa yang kurang lebih sama pun berlangsung di hari-hari berikutnya di minggu itu. Apalagi sepertinya meisje-H sudah sepenuhnya menyadari bahwa daycare = ditinggal sehingga dia mulai menangis ketika diserahkan.

Di akhir pekan itu gua dan istri berusaha merefleksikan pengalaman meisje-H di daycare selama beberapa hari tersebut. Terlepas dari beratnya pengalaman itu untuk kita semua, kita sepakat bahwa ini adalah sebuah fasa yang harus dilewati. Kita juga sepakat bahwa beberapa hari per minggu di daycare akan bagus untuk kemandirian meisje-H dan lebih baik menjalani fasa ini sekarang dibandingkan menunggu sampai, misalkan, ketika dia memulai sekolah. Dan kita juga sepakat bahwa sebagai orang tua kita harus lebih bersikap positif dan mengikhlaskan anak kita selama dia ada di daycare. Energi positif/negatif kita cukup berpengaruh terhadap energi dan mood anak (dan minimal sugesti..). Mengutip kata mbak-mbak petugas daycare setiap hari, “she has to adapt and learn“. Gua pun teringat pesan dari Kakungnya meisje-H yang mendoakan semoga keberadaan meisje-H di daycare menjadi hikmah buat semua. Pesan yang ketika gua terima terasa teu nyambung tapi setelah dijalani ternyata sangat tepat guna.

It’s not easy being a father. Sampai saat ini gua masih merasakan rasa kangen yang luar biasa ketika meisje-H berada di daycare. Rasa khawatir pun masih ada walau pun sudah berkurang. I am looking forward to pass this phase. Hopefully, akan segera tiba saatnya di mana meisje-H menunjuk-nunjuk ayahnya dengan bangga ketika dijemput dan semua teman-teman bulenya akan iri.

Advertisements

2 thoughts on “Being a Father: The Separation Anxiety

  1. Dim, pengalaman gue ninggalin iris, sebulan pertama dia nangis tiap pagi gue drop di rumah nannynya. Habis sebulan baru gue bisa lebih damai di kantor. lama2 dia bisa ngerasain kalo nannynya care sama dia dan excited tiap pagi mau jalan ke rumahnya 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s