Identitas

Tahun ini adalah tahun ke-17 gw mengenakan jilbab. Kenapa gw mengenakan jilbab sudah selama itu (dari 1 SMP, tepatnya)? Tentunya kalo dari sebocah itu sih berawal dari permintaan orang tua, yang mana seiring berjalannya waktu gw tau kenapa itu harus gw lakukan. Tapi bukan alasan dan perjalanan itu yang akan gw bahas, lagipula memang tidak ada hal yang menarik atau menantang-menantang amat. Kalau mau dicari-cari mungkin tantangan yang gw alami adalah berkenalan dengan teman baru saat kuliah ini, karena mungkin (mungkin lho) teman-teman kuliah gw yang kebanyakan kelahiran 1994 ini belum pernah mengenal gadis wanita berjilbab sebelumnya. Jadi ya wajar kalau merasa asing dan ragu untuk berkomunikasi. Gw lah yang harus lebih aktif kalo mau “kenal”. Tapi bukan tantangan yang spesifik untuk wanita berjilbab sih ya itu, sepertinya akan sama aja untuk murid asing yang “sendirian” dari negaranya. Yah untuk sementara masih lebih menantang meninggalkan skinny jeans lah :p

Nah, kalau kalimat ini tentu sudah tidak asing: “Jilbab adalah identitas muslimah”.

Identity ʌɪˈdɛntɪti/
noun
The fact of being who or what a person or thing is

OK, dengan identitas ini dengan mudah orang mengenali kita sebagai siapa, yaitu sebagai Muslimah. Saat beberapa tahun lalu gw ke Singapura, seorang pelayan restoran pernah berbaik hati “menolak” gw karena restorannya tidak Halal. Sebuah keuntungan yang sangat gw syukuri, tapi ya udah gitu aja. Toh gw masih merasa cukup proaktif untuk bertanya dan riset terlebih dahulu kalo soal beli makanan.

Hidup di Eropa sebagai minoritas tak disangka membawa gw menemui pengalaman-pengalaman yang menghangatkan hati. Mungkin justru karena minoritas ini-lah semuanya terasa lebih mengharukan. Tapi yang pasti, semua tidak akan terjadi tanpa identitas yang gw kenakan ini. Tanpa identitas ini, siapa yang tahu gw Muslim coba (tanpa bertanya)?

Gw teringat lagi dengan topik ini waktu kemarin kami sekeluarga jalan-jalan ke Centrum. Kemarin adalah hari raya Idul Adha sehingga Suami cuti, dan kami memanfaatkan kesempatan langka untuk jalan-jalan santai di hari kerja. Saat keluar dari sebuah toko, ada seorang anak laki-laki muda keturunan Turki (mungkin usia SMP atau SMA) berteriak ke arah kami, “Eid Mubarak!”, katanya. Kami tentu senang dan menjawabnya. Suami sih udah aja…sudah jelas gw-lah yang terharu lebay, kenapa coba dia tau kami merayakan Idul Adha? 🙂

Kejadian kemarin pun membawa ingatan gw kembali ke hal-hal hangat yang terjadi sebelumnya. Bukan cuma sekali-dua kali gw bertemu dengan ibu-ibu berjilbab membawa stroller dan mulut kami sama-sama mengatupkan kata “Salam” sambil tersenyum. Termasuk saat kami ke Paris, yang mana cukup wajar karena Paris adalah kota di EU Union dengan penduduk Muslim terbanyak. Trus baru-baru ini ada gadis berjilbab di bis yang menyapa gw dengan kata “Sister” a.k.a panggilan khas sesama saudari Muslim. Dilihat dari umurnya dan cara dia memanggil sepertinya itu karena gw pakai setelan kuliah anak gadis. Sederhana, tapi selalu terasa istimewa 🙂

Ada lagi satu cerita sewaktu ngantri super panjang di Ladurée di mana kami tiba-tiba dikasih potong antrian untuk langsung memesan di bagian dalam café oleh salah seorang pegawai yang gw asumsikan Muslim. Ini murni asumsi, karena bisa jadi dapat dispensasi karena bawa baby sih. Tapi gw jadi ge-er karena yang bawa anak waktu itu bukan cuma gw kok. Yah, untuk cerita yang ini buat nyeneng-nyenengin hati aja, anggaplah bagian dari berprasangka baik. Tapi kalo betul demikian gw jadi semakin bersyukur. Di saat mungkin banyak kejadian orang dipersulit karena identitas ini (semacam pemeriksaan di bandara), sebetulnya masih banyak cerita indah yang dialami kalau kita ketemu dengan sesama saudara/i Muslim sebagai minoritas di perantauan.

Iklan

2 thoughts on “Identitas

  1. Bener banget Nya, baru ngerasain deh.. Di bus, sama yang pakai jilbab juga suka mengangguk dan senyum, dan bener banget hati kok seneng yaa. Gue cerita sama Bidi, doi respon nya biasa aja, padahal ceritanya menggebu-gebu. 🙂

  2. Iya, pernah ngerasain di phuket (phuket doang jangan dibandingin sama yurop), dimana jadi minoritas di tengah bikiniwati lalu disapa “assalammualaikum” sama muka Arab gitu, rasanya is ti me wa!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s