Two years down the road: the view so far

IMG_0627

Gua janji untuk diri sendiri dan istri bahwa gua akan menulis sesuatu di ulang tahun kedua pernikahan gua. Sudah 6 minggu sejak hari-H tersebut, tetapi gua belum juga memenuhi janji tersebut, I’ve been so busy.. Beberapa hari yang lalu, dalam sebuah percakapan di grup whatsapp teman-teman kuliah, gua menulis pendapat gua tentang kesibukan. Jaman sekarang hampir semua orang sibuk. Waktu yang ada tidak akan cukup untuk melakukan semua hal yang perlu atau ingin dilakukan. It’s all about priorities. Kalau emang penting, you will make time for it. Lantas gua pun teringat dengan janji gua ini, and so I’m making time for it.

Semenjak bekerja di perusahaan baru, gua mempelajari banyak hal yang sifatnya non-teknikal. Salah satunya adalah STARR method. Kepanjangan dari STARR adalah Situation, Task, Action, Result, dan Reflection. Metode ini sangat berguna untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan sulit dalam interview. Dan di kantor gua sekarang, reflection adalah catch phrase yang sangat sering didengar untuk membahas peristiwa-peristiwa lampau. Dus.. gua akan sedikit membuat reflection tentang 2 tahun ke belakang (gua harus menggunakan kata reflection karena kalau gua menggunakan refleksi maka yang terbayang adalah pijat refleksi..).

Dua tahun yang telah gua jalani bersama istri adalah dua tahun yang singkat tapi banyak sekali perubahan. In a way, it’s a like a mini journey of a lifetime.

Kita mengawalinya dengan LDR Balikpapan-Jakarta selama dua bulan sementara menanti SK mutasi istri. Setiap akhir pekan kita selalu bertemu entah di Jakarta atau Balikpapan. Kita juga sempat bertemu ketika gua mendapatkan tugas ke Jakarta dan kita bisa makan siang bersama di Wisma Mulia. Lunch as husband and wife in the building where we first met (again). Mengutip Jasper dan JipDat was leuk. Di periode yang pendek ini juga kita mengetahui kehamilan istri.

Tak lama mutasi istri yang ditunggu-tunggu pun tiba. Di bulan November 2013, kita pun memulai babak baru di Balikpapan. Tak tanggung-tanggung, Lexie si mobil kesayangan istri pun ikut kita angkut ke Balikpapan. It took a while sebelum istri bisa menyesuaikan diri dengan kota yang gua cintai sepenuh hat ini. Tapi setelah benar-benar menyamankan diri (baca: rujuk dengan Mbak Nia), we were pretty solid happy. Gua harus menggunakan kata solid, karena memang tidak spektakuler. KIta bahagia berdua tentunya tapi ada beberapa hal yang sebenernya cukup mengganjal. Work-wise, kita berdua tidak dalam kondisi terbahagia. Istri lebih cocok dengan pekerjaan dia di ibukota dan gua butuh perubahan setelah kembali dari studi gua. Pilihan dokter kandungan wanita dan rumah sakit di Balikpapan juga tidak terlalu bersaing. Tapi secara keseluruhan kita cukup bahagia. Tapi kebahagiaan tersebut tidak cukup untuk menghalangi gua dari mencari pekerjaan baru.

and another big move was coming..

Beberapa bulan setelah istri pindah ke Balikpapan, gua mendapati diri di Kuala Lumpur sendiri. Istri tidak ikut karena rencana yang begitu mendadak dan karena kita memang berencana untuk semacam baby moon ke Kuala Lumpur juga di minggu depannya. Singkat cerita, gua interview (tentunya dengan persiapan STARR method). Lebih tepatnya, gua video conference interview di Kuala Lumpur dengan pewawancara dari Belanda. Jangan tanya kenapa seseorang harus diterbangkan dari Balikpapan ke Kuala Lumpur via Jakarta untuk video conference dengan Belanda.. just don’t.. Tiga hari setelah interview gua mendapatkan offering.

and there it was, another big step in our life..

Ketika gua mendapati tawaran tersebut, we know that’s it’s a no brainer. We want this. Tapi banyak hal yang harus kita lakukan untuk meyakinkan diri kita bahwa keputusan tersebut adalah keputusan yang logis dan bisa kita ambil. Selain itu kita juga harus memikirkan waktu persalinan, waktu resign istri, proses aplikasi visa, dan lain-lain. Gua pun bertanya kepada perusahaan kemungkinan untuk menerima gua setelah persalinan + 1 bulan, dan mereka sama sekali tidak keberatan. Singkat cerita, waktu tinggal istri di Balikpapan pun tak sampai setahun. Setelah sekitar 7 bulan hidup bersama di Balikpapan, istri kembali ke Jakarta untuk persiapan persalinan dan kepindahan kita ke Belanda. Kita pun LDR kembali.

Di Bulan Juni 2014, the biggest event yet in our life happened. Sampai sekarang, setiap gua membayangkan hari itu, gua masih belum bisa menggambarkan betapa bahagianya gua saat itu. Gua adalah atlit abal-abal yang sangat passionate dengan basket dan sepakbola. Gua masih ingat semua momen-momen di mana gua menjadi juara baik itu liga BM, Trinitas cup, Home tournament, Popwil, IPC, Petrocup, dan lain-lain. Tapi tidak ada kebahagiaan yang lebih dari kelahiran meisje-H di hari ulang tahun ibunya.

Di akhir bulan Juli, gua berangkat ke Belanda meninggalkan anak istri untuk menjalani LDR selama 2 bulan. Itu adalah sebuah keputusan yang kita ambil bersama dan kita pikir akan cukup mudah. Ternyata tidak mudah. Dua bulan tak bertemu dengan istri dan bayi kecil adalah sebuah hal yang tidak ingin gua ulang. Setelah dua bulan yang panjang, gua menjemput istri dan anak ditemani oleh kedua mertua gua di Schipol. Menggendong meisje-H setelah dua bulan adalah pengalaman lain yang sulit gua lupakan.

And that was our first step here in Netherlands. Fast forward a year, and here we are. Bahkan dalam setahun, sudah begitu banyak lagi perubahan. Istri sudah mulai sekolah dan meisje-H pun memulai petualangan barunya di daycare bersama anak-anak Belanda berambut pirang dan bertubuh sterk. Hidup kita tidak selalu mudah di sini, tapi bukankah hidup memang tidak selalu mudah?

Sedikit reflection tentang postingan ini, gua tidak bermaksud menjadikanya sebuah narasi perjalanan kita, tetapi ternyata yang demikian malah terjadi. Reflection yang ingin gua buat adalah tentang bagaimana kita sebagai suami istri menempuh perjalanan yang singkat tapi begitu padat ini. One of my main take is: kita jarang berantem. Gua rasa jumlah berantem yang melebihi ambang batas perselisihan suami istri bisa dihitung dengan jari. Ada banyak faktor mengapa ini terjadi, tapi salah satu yang paling penting adalah kita menyadari bahwa kita cuma punya satu sama lain. Hal ini nyata di Balikpapan, tapi paling terasa setelah kita pindah ke Belanda. Gua sangat sangat tidak ingin berselisih dengan istri karena dia satu-satunya teman dekat gua di sini. I only have her here. Orangtua kita jauh di Indonesia dan begitu pun teman-teman terdekat kita. Dan in a way, not having our parents and closest friends justru membuat hubungan gua dan istri lebih kuat. Gua rasa banyak pasangan/keluarga yang tinggal atau pernah tinggal di bersama luar negeri (atau mungkin di luar kota/pulau) mendapatkan fondasi yang solid dalam kehidupannya karena mereka sadar mereka bergantung satu sama lain.

Buat gua ini adalah pelajaran yang sangat berharga dari usia pernikahan gua yang masih sangat belia ini.

Postingan ini sudah terlalu bercabang, maka akan gua tutup dengan sebuah pesan buat istri:

Kita sekarang hidup jauh dari keluarga dan teman-teman. Mungkin suatu saat kita akan hidup lebih jauh lagi dari mereka tapi mungkin juga suatu saat kita kembali hidup dekat dengan mereka. Tetapi apa pun yang terjadi, kita punya satu sama lain. Abi, mami, meisje-H, dan adik-adiknya kalau kita dikasih rejeki. If someday you forget the feeling of only having each other, remember our times here. Dan bukan hanya karena kita punya satu sama lain, tapi kita juga percaya bahwa kita bisa mengandalkan satu sama lain. I still can’t comprehend how much I love both of you now and I think that should be strong enough as foundation for years to come. 

Iklan

3 thoughts on “Two years down the road: the view so far

  1. Anya dan Dimas (belum kenal, sok kenal aja ini), happy belated anniversary, membacanya membuat gue berkaca-kaca dan bener-bener ngerasain apa yang dirasain. Semoga semua lancar dan tetap happy no matter where you are dan semoga meisje-H segera dikasih adik-adik hehehe. Salam unite keluarga perantauan! 🙂

  2. Happy Anniv buat Anya dan Dimas ❤ ❤ Barakallah dan semoga semakin SaMaRa ❤ ❤
    Kisses buat H yaaa…

    Cerita LDR memang selalu manghanyutkan, klo baca lagi pasti terhanyut lagi…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s