The Diet Story

Alkisah, pertengahan tahun lalu terjadi sebuah unfortunate event, yaitu masuknya gua pada usia 30 tahun. Sebenernya gua cukup bahagia akhirnya gua memasuki dekade baru ini, for a couple of years, gua merasa usia mental gua sedikit lebih tua daripada usia gua. Being 30 actually fits me just fine.

Usia 20an tentunya gua lewati dengan turbulen dan naik-turun, seperti semestinya. Dari mulai menyelesaikan studi, mencari pekerjaan, mencari studi lagi, berpindah kota, menikah, menjadi bapak, semuanya diwarnai dengan naik-turun. Gua menikmati proses naik-turun tersebut. Akan tetapi, ada satu naik-turun yang tidak gua sukai, yaitu naik-turun berat badan.

Di awal usia 20an berat gua stabil di 77 kg. Pola makan dan tidur gua tidak selalu baik, tapi mostly latihan basket berkali-kali seminggu cukup untuk menjaga berat badan gua. Di usia 22 gua mulai bekerja, berat badan gua pun sempat naik cukup tinggi. Namun, keberadaan kompetisi bola basket dunia perkantoran kembali menjadi jangkar untuk berat badan gua. Akan tetapi, seiring bertambahnya usia gua, sepertinya semakin tidak mampu pula basket menjadi kontrol berat badan gua. Di usia 26, berat gua sempat mencapai 90 kg. Ketika gua melanjutkan studi, gua kembali ke kompetisi bola basket perkuliahan, dan efeknya pun positif karena berat gua sempat turun ke 83 kg. Hal ini bisa terjadi juga dibantu dengan tren lari di Indonesia yang sampai juga pada diri gua. Namun, di penghujung usia 20an gua mendapati lagi berat badan gua mendekat ke 89 kg.

phonto (1)Foto-foto di semua postingan gua tentunya hasil editan istri

Maka, tahun lalu ketika gua mencapai usia 30 pun gua bertekad bahwa salah satu hal pertama yang harus gua ubah adalah pola timbangan gua yang terus naik turun. Motivasinya sederhana, gua ingin menjadi suami dan bapak yang sehat untuk waktu yang lama kalau Allah memberi umur. 

Pengalaman gua di usia 2oan, terutama di penghujungnya, mengajarkan bahwa hal ini tidak bisa gua capai hanya dengan olahraga. Sesuai dengan hukum kekekalan massa, massa masuk – massa keluar = akumulasi. Untuk mengurangi akumulasi, gua harus mengurangi massa yang masuk dan menambah massa yang keluar. Walaupun gua agak bingung karena sebenarnya gua tidak merasa pola makan gua terlalu banyak. Mungkin polanya dan jenisnya yang tidak pas.

Memulai diet bukanlah sesuatu yang sederhana. Pertama, aliran diet mana yang mau diikuti. I’m not even going  to start mentioning the types of diet.. Jumlah aliran diet yang ada di dunia (or should I say internet) mungkin sebanyak atau bahkan lebih banyak dari aliran sempalan agama Islam. Masing-masing meng-klaim pola dietnya  lah yang paling sukses. Oleh karena itulah gua tidak memilih satu pun. Gua mencoba dengan approach yang sederhana, makan secara waras sesuai porsi yang gua butuhkan. Buat gua yang penting adalah dua hal:

  1. Gua mendapatkan cukup kalori untuk menjalankan aktivitas
  2. Pola diet tersebut bisa dipertahankan seumur hidup

Pekerjaan gua sehari-sehari lebih banyak berada di depan komputer. Gua tidak butuh mengangkat-angkat benda berat, satu-satunya yang perlu gua angkat hanyalah kondisi moral, maka gua tidak perlu kalori yang berlebih untuk melewati siang hari. Sereal untuk sarapan dan beberapa potong roti di siang hari buat gua lebih cukup. Untuk makan malam, I have to have warm meal. Apalah artinya hidup tanpa makan malam yang proper. Maka gua berangkat dari jadwal tersebut.

Setelah mematok jadwal/pola makan, maka gua pun harus menentukan makanan apa yang akan masuk ke tubuh gua. Tentunya ini lebih penting dari si jadwal itu sendiri. Gua pun mulai mencari-cari makanan-makanan sehat yang ingin gua masukkan sebagai core dari keseharian gua. Untuk efisiensi dan kesinambungan, gua juga memutuskan untuk membuat jadwal mingguan. Dengan kata lain, setiap hari senin gua memakan makanan tertentu, Selasa demikian, Rabu demikian, sampai Jumat (terinspirasi dari Don Tillman-nya The Rosie Project). Hanya Sabtu dan Minggu yang merupakan jadwal bebas. Mungkin banyak yang berpikir bahwa yang demikian sangat membosankan. Tapi sejujurnya, gua cukup menikmatinya dan tidak merasa bosan.

Kurang lebih, menu dan jadwal makan gua adalah sebagai berikut:

Sarapan: Sereal All-Bran (varian tinggi serat dari Kellog’s)/oatmeal + strawberry; kiwi

Cemilan pagi : apel

Makan siang: satu tangkup roti + selai kacang; homemade salad tanpa dressing (selada, tomat, alpukat, paprika, timun, bawang, feta cheese, black pepper)

Cemilan sore: jeruk + pisang

Makan malam: salmon/ayam panggang/bolognese + nasi/kentang/pasta + sayuran kukus

Dessert makan malam: dark chocolate/greek yoghurt

phonto
Contoh menu makan siang (versi + orak-arik telur)

Di akhir pekan gua biasanya tidak terlalu membatasi diri. Sabtu gua tetap memakan pancake untuk sarapan, juga nasi goreng di hari Minggu. Terkadang kami delivery kebab/kapsalon dan juga membeli chips.

Gua juga tidak menargetkan penurunan berat badan yang drastis. Setengah sampai 1 kg per minggu sudah cukup, intinya adalah sesuatu yang bisa gua lakukan seumur hidup. Tetapi gua cukup disiplin dengan ini dan mencatatnya. Gua juga mencatat lingkar pinggang, karena lingkar pinggang lebih nyata dari berat badan yang terkadang tergantung pada jam menimbang.

Di akhir tahun lalu, diet gua berjalan dengan lumayan sukses. Berat badan gua yang dekat di 90an di pertengahan tahun sudah turun ke angka 82 kg dalam 3 bulan. Tapi yang terpenting adalah gua merasa pola hidup ini sustainable. Gua tidak merasa tersiksa dan masih bisa sesekali indulge dengan hal-hal yang gua sukai (mostly sweets). Istri pun yang beberapa bulan ke belakang jadi hobi baking tetap punya konsumen setia tanpa perlu terlalu khawatir.

Sejauh ini, diet ini telah berjalan baik. Dan gua berniat mempertahankannya sampai usia tua gua. Doakan saya!

Iklan

3 thoughts on “The Diet Story

  1. Wohooo problem bapak bapak kayanya ni yaa.. heri pun ceritanya lagi ngatur pola makan nih, dengan motivasi yg sama (nu ceuk saya mah manis sekalii heuheu) .. terus nyobanya ala ala food combining gitu dan kdg2 bikin isterinya jadi binguuung ngatur menu hehehe..masi susah misahin karbo dan protein hewani.

    Diet ala kodri ini akan kami diskusikan aah.. patut dicoba kayanya 😁

    • Supaya tidak bingung, cobalah menu makan dijadwal. Semenjak terjadwal, kami lebih efisien dengan jadwal belanja mingguan, dan setiap hari istri pun tidak bingung harus masak apa..

      • Tentang menu ini syaratnya asal gak bosenan Teh, karena Senin minggu lalu, Senin ini dan Senin depan makanannya sama. Menu bisa dibuat hanya untuk hari kerja, jadi weekend masih bisa berkreasi 😀 Lumayan mengurangi bingung masak apa selama 5 hari (bagi emak2 kurang kreatif macam saya mah :)))

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s