Mommy’s Side: The Sleep Training Story

Sebelum menginjak usia 6 bulan, meisje-H adalah seorang ‘penidur yang baik’ (apa dong good sleeper dalam bahasa Indonesia?). Dia bisa ditidurkan di crib-nya setelah menyusu sekitar jam 8-9 malam, dibangunkan/terbangun sekitar pukul 11-12 malam, kemudian bangun lagi pukul 4 pagi, dan terakhir betul-betul bangun jam 7 pagi. Tidur siang-nya sampai 1 tahun juga masih 2 kali, walaupun sama-sama masih lewat proses menyusu.

Setelah melewati usia 6 bulan, herannya meisje-H malah lebih sering terbangun. Apalagi setelah lebih aktif, bisa duduk dan berdiri, bangunnya sampai 4-5 kali setiap malamnya. Gw yang sangat mencintai tidur ini pun memutuskan untuk kembali co-sleeping setelah bangun malam-nya yang pertama (alias setelah orang tuanya bersiap tidur), biar tinggal lep, beres deh, tidur gw tidak terganggu setiap malamnya.

Bobo jaman sebelum pakai slaapzak

Bobo di zaman pra-slaapzak

Co-sleeping merupakan common practice di Indonesia, tapi tidak dengan di sini. Seandainya kami bilang ke dokter atau suster di Posyandu sini, kami pasti dinasehati. Jadi kami selalu bilang meisje-H tidur di crib-nya (gak boong dong? Kan iya sampe jam 11 :p ) tetapi masih harus menyusu untuk tidur. Untuk masalah menyusu sebagai sleep association, si suster tidak bisa menyarankan apa-apa. Mereka bilang, itu masalah budaya. Di Belanda (atau barat? Kecuali yang mengikuti ajarannya Dr. Sears), di awal sleep training anak akan dibiarkan menangis sampai tertidur sendiri (cry-it-out) dan pada akhirnya akan mengerti untuk tertidur sendiri tanpa menangis atau hanya menangis sedikit. Yah mungkin juga itu alasannya sebagian orang tua di sini memberi anaknya pacifier, ya sebagai pengganti sleep association itu lah.

Menginjak usia 1 tahun dan menjelang gw kuliah lagi, gw berpikir untuk mengajari meisje-H tidur tanpa disusui terlebih dahulu agar dia terbiasa melakukannya di daycare. Kegiatan menyusu tetap ada, tetapi dilakukan di luar kamar, bukan sebagai kegiatan terakhir pengantar tidur. Mengikuti saran dari artikel-artikel mengenai sleep training, kami pun membuat bedtime routine untuk meisje-H.

Bedtime routine sejak usia 1 tahun diawali dengan gosok gigi, pamitan dengan mencium beberapa mainannya, masuk ke kamarnya di pukul 8 malam (crib-nya ada di kamar yang terpisah dengan kamar utama), membaca cerita, membaca 3 surat pendek terakhir, dinyanyikan semacam Sundanese lullaby dari neneknya, ditaruh di crib, membaca doa sebelum tidur, dan ditemani sampai tidur dengan dielus punggungnya. Sampai menyanyi dibutuhkan waktu sekitar 15 menit, tetapi sampai tertidur bisa beragam dari 15 menit sampai 1 jam (wakwawww). Di malam harinya, meisje-H masih terbangun 2-4 kali untuk mencari susu, gw pun terkadang berakhir tidur di kasur lipat di kamar meisje-H, atau meisje-H dibopong ke kamar dan tidur bersama kami (lah sami mawon dong co-sleeping ).

Setelah berdiskusi dengan Suami, kami merasa harus meningkatkan kemampuan tidur meisje-H. Dengan rutinitas yang sudah berjalan, meisje-H tetap punya sleep association berupa ‘elusan punggung’. Gw pun membeli (membeli ya, iya, gw seniat itu) e-book mengenai toddler sleep training untuk mencari referensi lain. Setelah gw membeli gw pun agak menyesal, loh kok gini doang ya isinya? -_-“ Tidak ada satu pun teknik sleep training menarik yang ingin gw lakukan. Gw hanya mengambil pelajaran untuk menidurkan meisje-H lebih awal, masuk kamar jam 7 sehingga paling lambat jam 8 sudah tidur (90% berhasil, Alhamdulillah). Meisje-H pun tetap bangun pagi jam 7, tidak lantas menjadi maju ke jam 6.

Suatu malam sekitar bulan Oktober tahun lalu, gw tergerak untuk mencoba hal yang gw baca di e-book yang gw beli. Gw tidak membaca e-book itu lagi, hanya tiba-tiba ingat dan ingin mencoba. Malam itu, gw menyalakan lampu tidur di kamar meisje-H yang biasanya dimatikan saat dia akan tidur. Lampu tidur itu gw nyalakan karena gw akan mencoba meninggalkannya untuk tidur sendiri. Metode yang gw coba untuk malam itu adalah meninggalkannya setiap 5 menit, tetapi dengan pamit terlebih dahulu untuk datang kembali (bilang saja mau ngambil ini atau beberes itu). Ajaibnya, dia mengerti loh 😀 Don’t underestimate your baby 🙂. Di malam pertama Meisje-H sama sekali tidak menangis dan menunggu kedatangan gw kembali setiap 5 menit sampai akhirnya dia tertidur setelah 4 kali gw bolak-balik. Di hari-hari berikutnya dia menangis untuk memanggil gw semacam “mana nih 5 menit”, tapi setelah didatangi lagi dan gw pamit lagi ya tidak apa-apa.

Meisje-H belum bisa sleep through the night, OK istilah ini memang kurang tepat. Setiap manusia mengalami siklus tidur per 1.5-2 jam, tetapi orang dewasa sudah terbiasa dan otomatis tertidur lagi tanpa merasakan bangunnya. Kayaknya ini dijelasin deh di buku Supernova Gelombang (iya gak ya?). Meisje-H masih suka terbangun untuk minta peluk, minum air, atau menyusu. Dalam kasus ekstrim seperti gatal-gatal kulitnya beberapa waktu lalu, dia bisa terbangun setiap 1.5 jam -_-, dan sebagai ibu yang normal gw terkadang lelah. Menariknya, kalaupun sampai dibawa ke kamar orang tua-nya untuk disusui, dia akan meminta dikembalikan ke kamarnya sambil menunjuk-nunjuk kamarnya dan bilang “bubu”. Lah kamu sudah besar aja sih Nak :’)

Tentu saja tidak semua awal tidur malam juga berjalan dengan indah :p Kadang dia menangis jika ditinggal, seperti belakangan ini setelah liburan akhir tahun. Selama 10 hari liburan akhir tahun kami tidur di satu kamar (hotel) walaupun dia di crib, sehingga dia tidak terbiasa dengan tidak-adanya orang tuanya (khususnya Mami) sepulang liburan. Sleep training ini ibarat cinta Ti Pat Kay yang tiada akhir, lah iya…kalo abis liburan harus mulai lagi dari awal :))) Dimulai dari ditunggui dulu, kemudian besok-besoknya ditemani tapi gw duduk di depan pintu kamarnya, sampai akhirnya bisa ditinggal lagi.

Jadi, bedtime routine meisje-H yang saat ini sedang berlaku adalah:

Gosok gigi – pamit pada mainan – masuk kamar jam 7 malam – pakai slaapzak (lebih nyenyak nih pakai ini) – membaca 2 buku cerita (diganti setiap 1 minggu bukunya, kalo Mami ingat :p) – mematikan lampu besar dan menyalakan lampu tidur – membaca Al-Ikhlas, Al-Falaq, An-Naas – cium Abi dan Mami – Abi pamit untuk Wudhu (sholat Isya), biasanya meisje-H sudah nyeletuk sendiri “Wuduu” – meisje-H minta Mami menyanyi – Mami nyanyi lullaby Sunda – meisje-H ditaruh di crib – dicium lagi – dibacakan doa sebelum tidur – ditinggal untuk sholat Isya — total kegiatan ini sekitar 15-20 menit.

Biasanya dia akan menangis saat ditinggal yang pertama, tetapi setelah ditengok satu dua kali dia sudah kembali tenang dan bisa tidur sendiri. Bangun malam? Masih, masih :p Kata yang sudah berpengalaman, nanti juga enggak kalo sudah gak menyusu. InsyaAllah dinikmati sama-sama aja ya Nak, maaf kalo Mami sesekali keluar ngomel malam-malam 😉 Suka nyesel kok habis itu, namanya juga ibu-ibu :)))

Buat gw dan Suami, bisa membiarkan meisje-H sampai tertidur sendiri di jam yang cukup awal ini lumayan banget loh efeknya. Jam setengah 8 malam kami sudah bisa santai berdua nonton Netflix, misalnya (kami gak menyalakan TV kalau meisje-H bangun selain nonton bola dan acara masak :))). Pernah ada komentar dari seorang rekan di sini saat kami pamit pulang karena sudah jam tidur “Wah enak banget anaknya tidur cepet”. Ketahuilah, Mas… ini bukan proses instan, butuh usaha, tapi worth it 🙂 Anak mendapatkan yang dia butuhkan (tidur cepat), orang tua juga bisa mendapatkan quality time-nya berdua (walaupun suka kangen juga sih sama anak kesayangan yang mulai cerewet itu :*)

Advertisements

2 thoughts on “Mommy’s Side: The Sleep Training Story

  1. Yaaayyy! Bener banget Nya, setelah Aruna tidur sendiri, sumpah enak banget bisa berduaan di kasur nonton film. Hahaha. Tapi bagian kangen bener juga, jadi kita suka seneng kalo ada yg ngineo di rumah, artinya Aruna tidur sama kita, hore! :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s