I for Introvert

Apakah Kamu seorang introvert, extrovert, atau ambivert?

Beberapa online test yang gw ikuti menunjukkan bahwa gw adalah seorang introvert. Tes yang lebih detail menunjukkan bahwa gw seorang ambivert yang memiliki sedikit kecenderungan untuk lebih introvert daripada extrovert.

Berdasarkan beberapa pengalaman hidup yang cukup terkenang (ceileh), gw sempat menduga bahwa gw adalah seorang extrovert. Kalau bertanya pada teman-teman dekat gw di Indonesia, gw yakin mereka akan menebak hal yang sama karena gw terbilang talkactive, alias bawel. Tinggal di Groningen membuat gw disadarkan kembali bahwa gw adalah seorang ambivert yang cenderung introvert. I don’t hang out except with my family. Mungkin orang-orang akan mengenal gw sebagai seorang pendiam, itu juga kalau pada tau nama gw.

IMG_4473Quiet – Susan Cain (Goodreads 4.02/5, from 189,000++ ratings)

Buku Quiet ini sempat muncul di feed instagram Teh Ninit Yunita beberapa bulan yang lalu. Gw langsung tertarik. Setelah berkontemplasi beberapa minggu karena harganya masih di atas 10 Euro, akhirnya gw membeli buku tersebut dan gw tidak menyesal 😀 Gw merasa lebih mengerti sisi introvert dalam diri gw. Bonusnya adalah Bab terakhir yang membahas mengenai pengasuhan anak introvert. Ya, gw merasa meisje-H adalah seorang anak yang introvert. Tidak heran sih, kedua orang tuanya adalah ambivert yang cenderung introvert.

Gw tidak akan me-review buku Quiet pada tulisan ini, tapi gw akan mencoba mengambil beberapa poin yang relevan dalam kehidupan gw dengan bahasa gw sendiri.

Tuntutan untuk menjadi extrovert

Tagline dari buku ini sendiri adalah “The power of introverts in a world that can’t stop talking”. Ya, dunia ini sekarang seolah-olah menuntut manusia untuk menjadi extroverts. Mulai dari bangku sekolah, anak-anak didorong untuk dapat tampil dalam pentas di muka umum. Setelah dewasa apalagi, banyak sekali pekerjaan yang menuntut untuk bertemu banyak orang dan memiliki kemampuan public speaking.

Anak-anak dan orang dewasa yang dapat melakukannya kegiatan-kegiatan yang membutuhkan extroversion ini dengan natural dinilai lebih baik atau “sukses”. Bahkan sebuah report menunjukkan bahwa orang-orang dengan sifat extrovert rata-rata memiliki penghasilan yang lebih tinggi dari introvert, karena managerial roles lebih banyak dipegang oleh para extroverts.

Tren belakangan ini pun menunjukkan semakin banyak kantor-kantor yang memberlakukan open office, sebuah sistem yang menurut Cain kurang pas untuk introvert karena kurang privacy-nya.

Lalu bagaimana cara introvert bisa survive di dunia seperti itu? Salah satunya dengan bersikap lebih extrovert saat sedang menjalankan peran profesional.

Pseudo-Extrovert dan Restorative Niche

Dalam Quiet, Cain menjelaskan bahwa seseorang dapat memiliki lebih dari satu persona. Di dunia kerja, mereka dapat dikenal sebagai orang yang extrovert. Di rumah, mereka menenangkan diri dan kembali menjadi dirinya yang introvert. Pada contoh lebih lanjut diceritakan mengenai perbandingan dua orang wanita introvert, di mana salah satunya gagal dan salah satunya berhasil dalam peran pseudo-extrovert-nya dalam karir. The other one didn’t succeed because she acted in the cause she didn’t care about.

Masa-masa gw bekerja di Jakarta dapat gw simpulkan sebagai masa ter-extrovert gw. Entah kenapa, di luar dunia kerja yang menuntut untuk berurusan dengan banyak orang pun gw masih punya percaya diri ekstra untuk melakukan hal-hal yang sebelumnya “malas” gw lakukan dan sangat tidak introvert. Mulai dari ikut pertandingan futsal, menari di Balai Kartini pada acara ultah kantor, atau bernyanyi di pernikahan teman. Belakangan gw sadari hal-hal tersebut dengan senang hati gw lakukan karena gw sayang pada pekerjaan gw dan teman-teman gw di sana.

Cain pun menambahkan bahwa di luar sikap pseudo-extrovert yang ditampilkan, para introvert juga membutuhkan waktu atau tempat untuk melakukan time out. Di buku Quiet hal ini dikenal dengan restorative niche yang manfaatnya untuk menenangkan diri dan me-recharge sisi introvert pada dirinya. This really explains why I used to enjoy driving my car alone in Jakarta traffic jam (dulu yaa), or eating sushi alone at sushi bar table…watching the sushi moves on the conveyor belt.

Communication Gap

Salah satu bab di buku Quiet menjelaskan mengenai communication gap antara pasangan yang extrovert dan introvert. Cain menjelaskan bahwa dibutuhkan kesepakatan antara pasangan seperti ini, seperti kapan waktu bersosialisasi dan kapan waktu untuk tidak bersosialisasi alias di rumah saja. Gw sih ga begitu mengerti ya, karena kebutuhan sosialisasi kami cukup mirip. Sebagai suami istri sendiri, kami banyak ngobrol dan berdiskusi (termasuk bergosip), but we also love being alone together =))

Being Alone together
Image from Pinterest

Pengasuhan Anak Introvert

Lagi-lagi banyak contoh menarik pada Bab ini, tertutama mengenai anak introvert dan tuntutan dari orang tua (terlebih yang extrovert). Buku Quiet memberikan sedikit gambaran, tapi tentu saja gw masih harus banyak belajar.

Meisje-H mengalami kesulitan untuk berkenalan atau bermain dengan orang baru, pilih-pilih banget deh. Ada dua hal yang sejauh ini gw amati bisa membuat dia nyaman dengan orang baru. Yang pertama, kalau dikasih hadiah (duile :p). Yang kedua, jika bertemu dengan anak lain yang introvert. Untuk yang kedua ini sudah terbukti saat bertemu dengan keluarga teman suami di Den Haag. Putri mereka yang berusia 4 tahun juga seorang introvert (menurut orang tuanya), sehingga dibutuhkan “pemanasan” yang lama dengan meisje-H untuk akhirnya mereka bisa berinteraksi. At the end of the day mereka sangat dekat, banyak berjalan bergandengan, dan meisje-H sampai menangis tak mau berpisah. Sebaliknya, dia tidak pernah berhasil “didekatkan” dengan anak yang tampilnnya extrovert. Gw cukup terharu karena baru saja melihat meisje-H bisa sedekat ini dengan dengan anak lain selain sepupu-sepupunya. Setelah gw (dan Suami) mencoba merefleksikan diri, kami pun sadar bahwa teman-teman terdekat kami pun kebanyakan adalah para ambivert atau introvert.

Instead of being overly worried, Cain mengingatkan para orang tua dengan anak introvert untuk bisa lebih mengerti preferensi si anak. Support their passion. Dengan dukungan orang tua, mudah-mudahan si anak makin bisa ber-“acting” lebih extrovert dan menemukan restorative niche-nya sendiri 🙂 Meisje-H sepertinya sudah belajar untuk menemukan restorative niche beakangan ini. Sepulang dari daycare di siang hari, saat gw tinggalkan di kamarnya untuk tidur siang biasanya dia akan berceloteh atau berguling-guling sendirian di kamar selama hampir satu jam -__-“ Setelahnya baru dia tertidur.

Conclusion

Berikut quotes favorit gw dari bab kesimpulan di buku ini:

The secret to life is to put yourself in the right lighting. For some it’s a Broadway spotlight; for others, a lampit desk.

Figure out what you are meant to contribute to the world and make sure you contribute it.

Spend your free time the way you like it, not the way you think you’re supposed to. Read. Cook. Run. 

Nah…Penasaran dengan kecenderungan kamu? Quick test-nya bisa dicoba di web Susan Cain pada tautan ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s