What’s Next?

Another post, so much for ga-suka-nulis eh? I know 😐 Hubby is currently out of town for training, so I don’t really have someone to talk to at night :p

Sesuai dengan judulnya, gw sedang bertanya kepada diri gw sendiri. Apa yang (benar-benar) gw ingin lakukan ke depannya dalam jangka pendek dan jangka panjang. Gw baru saja lulus kuliah master di bulan Juli dan kembali menjadi ibu rumah tangga. Nothing’s wrong with that, and I’m happy most of the time. Tapi… selalu ada tapi, gw masih ingin melakukan sesuatu untuk diri gw sendiri. Hehehe, manusiawi kaan 😀

IMG_2237

Alhamdulillah Mamak lulus!

Sebelum ini sudah dua orang ex-perempuan bekerja yang bertanya pada gw bagaimana cara mengatasi perasaan ga jelas di rumah. Gw juga lupa sih apa kata-katanya waktu itu, but I think you know what I mean. Biasa ada kegiatan di luar rumah, tiba-tiba harus di rumah aja gitu?

Pertanyaan dari orang pertama datang ke gw saat kami baru pindah ke Groningen 3 tahun yang lalu. TBH, saat itu gw merasa masih sangat banyak yang harus gw pelajari. I was still learning how to survive living with husband and a baby, without a nanny/helper, in a country whose first language is not English (walaupun arguably hampir semua orang bisa berbahasa Inggris). Singkatnya, gw tidak merasa geje, masih banyak hal yang harus gw pelajari dan eksplorasi. Kurang dari satu tahun setelah kami pindah, gw memulai tahun kuliah Pre-Master dan dilanjutkan dengan Master di tahun berikutnya. Praktis gw pun beralih profesi menjadi student-mom selama 2 tahun.

Pertanyaan kedua datang pada saat gw baru lulus kuliah (dan sebulan kemudian melahirkan anak kedua). Gw kembali jadi ibu rumah tangga. Tetapi sama seperti sebelumnya, gw merasa baik-baik saja di rumah. Karena, selain gw masih belajar menjadi ibu 2 anak, gw juga masih bisa menyelipkan waktu untuk belajar crocheting, hand-lettering, dan baking yang sedikit lebih ribet (seperti macarons & croissant). Gw merasa skills gw bertambah walaupun gw hanya mempelajarinya sendiri di rumah.

Tapi, tidak berselang lama gw mulai merasa resah di rumah. Banana sudah semakin besar, sehingga mengurusnya sudah tidak serepot mengurus newborn. Beberapa hobi yang gw sebutkan di atas masih menarik dan menyenangkan, tetapi tidak lagi menyita antusiasme gw dengan hebat. Karena gw sudah mulai bisa (level amatir), melakukannya tidak lagi semenantang dulu. Gw pun mulai bertanya kembali, gw maunya ngapain lagi sih?

Pilihan sih lumayan banyak, dari mulai yang paling “serius” seperti mencari pekerjaan atau melanjutkan sekolah (?). Suami mengizinkan gw untuk mencari pekerjaan kantoran (yang 3 hari seminggu). Tetapi, gw masih ciut karena kekuatan terbesar yang membuat gw sangat mencintai pekerjaan gw dulu adalah teman-teman dan bos yang super asik seperti keluarga sendiri. Hil yang rasanya sangat mustahal didapat di sini.

Ada juga orang-orang yang sempat bertanya “Ngga lanjut PhD?” Biasanya gw akan tertawa karena itu gak gw banget :p Gw mungkin bisa, tapi sebagai orang tipe pekerja (bukan peneliti) gw gak akan suka. Pintu akademis sudah gw tutup rapat. Maka dari itulah, gw kecewa sewaktu lulus kemarin tidak mendapat distinction gara-gara satu mata kuliah pilihan. Kuliah Master adalah penutup kehidupan akademis gw, dan dapat hasil yang “tanggung” sampai dibahas sewaktu graduation itu bikin hati gw sedikit tersayat-sayat. It was pretty close 😦 Tapi mengutip kata Meisje-H waktu gw curhat sedih, dia bilang “ga boleh sedih, kan ada aku” 🙂 Sweet, eh?

Pilihan lainnya adalah kursus-kursus, seperti kursus bahasa misalnya. Gw mau banget, tapi anak bayi mau dititip di mana? 😀 Memasukkan anak ke daycare artinya menambah biaya lagi, belum termasuk biaya kursusnya. Same goes for kursus-kursus lainnya, jadi opsi yang ini harus ditunda dulu.

Tapi… jaman sekarang ada kan yang namanya kursus online, baik itu resmi maupun tidak resmi seperti belajar dari youtube (practically what I did to learn most of the things lately). Gw rasa ini adalah pilihan terbaik untuk gw untuk jangka pendek. Persoalannya sekarang adalah… belajar apa lagi dong ya yang menarik? Itu yang sedang gw coba eksporasi dan sesekali membuat gw resah.

Untuk jangka panjang, gw sudah lumayan banyak berdiskusi dengan suami. It’s okay kalau gw belum tau mau apa lagi sekarang, toh tugas utama seorang ibu adalah mendidik anak. Akan ada masanya di mana anak-anak akan mulai sibuk dengan sekolahnya dan mungkin itulah celah gw (atau sebelumnya, we’ll never know). Julia Child saja baru belajar memasak di umur 36. Kalau Allah memberi gw panjang umur, gw masih punya banyak kesempatan. Gw tidak berhak mengeluh, nothing good comes from complaining. But I’m still a human being, that’s why I think it’s worthwhile writing to get this off my chest.  

2 thoughts on “What’s Next?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s