Hey Jongedame!

 

thumb_img_3205_1024

Hi Meisje-H. I am writing this as you sleep. Reason being: your mommy is sleeping as well and I am, as usual, not sleepy yet. So hey, I decided to write something for you in front of my beautiful ultrawide monitor. Why not, right? I’ve also decided to write in English because sometimes it’s easier to do so. It’s funny how I realize that I think and talk to myself in different languages these days. Geen Nederlands though. It’s either Bahasa Indonesia, Basa Sunda or English. Your Dutch is already better than mine. I’ve also lost control of English grammar actually, but it does flow a bit naturally as a used language rather than a “learned” language.

Hi Meisje-H, today you had quite a long day. Without nap as well. But, you seem to be happy going out with us and met other people as well. You were quiet as always, but you do seem to threw a lot of smile. Other people will probably not notice it, but me and your mommy will always look out for your happiness and so we did see that today. I hope that you will start to learn to talk to other people soon though. I don’t mind if you only want to talk to me and your mommy forever, but getting along with others (including talking to them) is a survival skill that you need to learn, eventually. For now, honestly, I am happy that you are picky and that you seem to only trust your parents.

Hi Meisje-H, I’d like to ask you: have you ever miss me? Because I always miss you, even now. I miss you more than I miss your mommy.  I think about you a lot whenever I am in the office or when I’m driving. I’ve said that being a father is not easy. Sometimes I feel like I love you so much that it actually hurts and it’s very difficult to comprehend the feeling. I love your mommy so much, but sometimes she really annoys me. Whenever she annoys me, I don’t think about how much I love her and I will just focus on being annoyed. However, with you, even when you annoyed me I will still think about how much I love you. So it’s difficult to focus on being annoyed when all that matters for me is your happiness. The other part that sometimes hurt me is the fact that I know you’re not mine. You’re simply not, because nobody owns their own life. Life can be taken out of me or you anytime.

Hi Meisje-H, it seems like you are always growing at a faster pace than my prediction. My job is to do history match and forecast, and I think I might lose my credibility in the office because I have failed every time with you. You always understand more than what I have predicted. I have loss my first debate with you on the topic of why mommy should sleep instead of waking up. You remember a whole lot of details from your daily activity that an adult would easily forget. In 15 months you will start going to school and that also makes me anxious. A little bit about how you would adapt to school, but more about how I am afraid that you will just continue to grow up very quickly and I can’t do anything to stop it, can I?

Hi Meisje-H, these 500-600 words that I’ve written to you, there’s nothing much in it, but I do hope you’re okay with it. I know you haven’t been able to read, but with your learning pace and wi-fi connection.. hey, who knows you might already taken over this blog in 2 years time? So, one day when you can read this, please don’t be ashame of your father. Instead, remember every minute in your life how I put your happiness way ahead of mine (although I might make you move from cities/countries time to time..). We will also have changes this year and I still can’t imagine as well how that will affect my feelings and how I manage it. But for now, you have all my love lieve Mesije!

Oh wait, there’s your mommy as well :p

 

The Diet Story

Alkisah, pertengahan tahun lalu terjadi sebuah unfortunate event, yaitu masuknya gua pada usia 30 tahun. Sebenernya gua cukup bahagia akhirnya gua memasuki dekade baru ini, for a couple of years, gua merasa usia mental gua sedikit lebih tua daripada usia gua. Being 30 actually fits me just fine.

Usia 20an tentunya gua lewati dengan turbulen dan naik-turun, seperti semestinya. Dari mulai menyelesaikan studi, mencari pekerjaan, mencari studi lagi, berpindah kota, menikah, menjadi bapak, semuanya diwarnai dengan naik-turun. Gua menikmati proses naik-turun tersebut. Akan tetapi, ada satu naik-turun yang tidak gua sukai, yaitu naik-turun berat badan.

Di awal usia 20an berat gua stabil di 77 kg. Pola makan dan tidur gua tidak selalu baik, tapi mostly latihan basket berkali-kali seminggu cukup untuk menjaga berat badan gua. Di usia 22 gua mulai bekerja, berat badan gua pun sempat naik cukup tinggi. Namun, keberadaan kompetisi bola basket dunia perkantoran kembali menjadi jangkar untuk berat badan gua. Akan tetapi, seiring bertambahnya usia gua, sepertinya semakin tidak mampu pula basket menjadi kontrol berat badan gua. Di usia 26, berat gua sempat mencapai 90 kg. Ketika gua melanjutkan studi, gua kembali ke kompetisi bola basket perkuliahan, dan efeknya pun positif karena berat gua sempat turun ke 83 kg. Hal ini bisa terjadi juga dibantu dengan tren lari di Indonesia yang sampai juga pada diri gua. Namun, di penghujung usia 20an gua mendapati lagi berat badan gua mendekat ke 89 kg.

phonto (1)Foto-foto di semua postingan gua tentunya hasil editan istri

Maka, tahun lalu ketika gua mencapai usia 30 pun gua bertekad bahwa salah satu hal pertama yang harus gua ubah adalah pola timbangan gua yang terus naik turun. Motivasinya sederhana, gua ingin menjadi suami dan bapak yang sehat untuk waktu yang lama kalau Allah memberi umur.  Baca lebih lanjut

Two years down the road: the view so far

IMG_0627

Gua janji untuk diri sendiri dan istri bahwa gua akan menulis sesuatu di ulang tahun kedua pernikahan gua. Sudah 6 minggu sejak hari-H tersebut, tetapi gua belum juga memenuhi janji tersebut, I’ve been so busy.. Beberapa hari yang lalu, dalam sebuah percakapan di grup whatsapp teman-teman kuliah, gua menulis pendapat gua tentang kesibukan. Jaman sekarang hampir semua orang sibuk. Waktu yang ada tidak akan cukup untuk melakukan semua hal yang perlu atau ingin dilakukan. It’s all about priorities. Kalau emang penting, you will make time for it. Lantas gua pun teringat dengan janji gua ini, and so I’m making time for it.

Semenjak bekerja di perusahaan baru, gua mempelajari banyak hal yang sifatnya non-teknikal. Salah satunya adalah STARR method. Kepanjangan dari STARR adalah Situation, Task, Action, Result, dan Reflection. Metode ini sangat berguna untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan sulit dalam interview. Dan di kantor gua sekarang, reflection adalah catch phrase yang sangat sering didengar untuk membahas peristiwa-peristiwa lampau. Dus.. gua akan sedikit membuat reflection tentang 2 tahun ke belakang (gua harus menggunakan kata reflection karena kalau gua menggunakan refleksi maka yang terbayang adalah pijat refleksi..).

Dua tahun yang telah gua jalani bersama istri adalah dua tahun yang singkat tapi banyak sekali perubahan. In a way, it’s a like a mini journey of a lifetime. Baca lebih lanjut

Being a Father: The Separation Anxiety

Seperti yang istri sudah ceritakan, dia baru saja kembali ke bangku sekolah. Konsekuensi logis dari peristiwa ini adalah babak baru dalam kehidupan anak kecil: daycare. Universitas tempat istri sekolah memiliki calendar generator yang luar biasa sehingga gua sudah tahu bahwa kuliahnya tidak berlangsung setiap hari, bahkan sebelum hari-H. Yang berlanjut ke konsekuensi logis berikutnya, si anak kecil tidak perlu ke daycare setiap hari. Hal ini gua nilai ideal karena kita tidak akan overwhelmed karena perubahan drastis melepas anak setiap hari dan si anak pun akan memiliki waktu bermain dengan teman sebayanya di daycare. Situasi win-win solution buat orangtua, anak, dan daycare (yang akan mendapat klien baru..). Gua cukup antusias meyambut babak baru dalam hidup kami.

Seminggu sebelum istri resmi memulai kuliah pun, meisje-H diberi waktu untuk gladi resik dengan bermain 3 jam di TKP. Hasilnya? Spektakuler, si anak tidak menangis sama sekali ketika ditinggal dan langsung asyik bermain. Si ibu yang ingin berdadah-dadah sedih pun tidak digubris. Ketika dijemput si anak sedang bermain dengan ceria dan langsung menunjuk-nunjuk ibunya. Optimisme gua semakin membuncah.

Tetapi melihat dari judul postingan ini pun sudah tersirat bahwa tidak semua hal akan berlangsung lancar. Kunjungan berikutnya ke daycare lebih tricky karena melibatkan tidur siang. Gua sedikit lebih khawatir, tapi tetap optimis mengingat hasil gladi resik yang melebihi ekspektasi gua. Toh, durasinya hanya 4 jam. Hari itu hari Jum’at, dan seperti seringnya hari Jum’at gua langsung pulang ke rumah setelah Jum’atan dan lantas melanjutkan kerja dari rumah. Namun, ada perasaan yang sangat aneh karena gua hanya sendirian di apartemen. It was way too quiet. Dan gua pun cukup kepikiran dengan keberadaan anak kecil yang sudah hampir 4 jam tak gua dengar kabarnya. Akhirnya gua pun memutuskan untuk menjemputnya sedikit lebih awal. Setelah sedikit kesulitan memasuki daycare (don’t ask..just don’t), gua pun mencari si anak kecil. Gua berekspektasi akan mendapati dia sedang bermain dan kemudian menunjuk-nunjuk dengan bangga untuk memamerkan bapaknya di depan teman-teman toddler bulenya. Baca lebih lanjut

The Journal Effect

What do you think when the word “notebook” is mentioned? Kalau kita mencoba googling kata tersebut maka ada 3 hasil utama pencarian yang muncul ke permukaan: buku tulis, sebuah laptop, dan .. oh you guess it.. the movie..

Anyway, gua tidak bermaksud untuk membahas sedikit pun tentang film, tapi yang akan gua bahas adalah tentang buku tulis. Benda ini tentunya sangat identik dengan sekolah. Buku catatan adalah sarana yang kita gunakan untuk mencatat pelajaran yang kita dapatkan dalam kelas atau menahan kantuk. Selama ini gua selalu berpikir bahwa tidak ada yang bisa menggantikan buku tulis sebagai media penampungan pelajaran dalam kelas. Akan tetapi, ketika gua mengambil MSc 2-3 tahun yang lalu gua mendapati banyak mahasiswa yang lebih muda dari gua lebih banyak mengutilisasi ipad mereka yang memang diberikan oleh kampus. Mereka menggunakan apps untuk menganotasikan slide kuliah dan juga foto untuk hal-hal yang dosen tuliskan di papan tulis. Usia dosen bisa ditebak dari kalimat sebelum ini.

Lain kuliah, lain dunia kerja. Di dunia kerja modern saat ini, hampir semua karyawan memiliki komputer. It’s safe to say kalau karyawan dunia modern sulit bekerja tanpa komputer. Di kantor lama, setiap tahun kita diberi agenda tahunan, tetapi gua perhatikan tidak terlalu banyak yang menggunakannya. Buku yang lebih banyak digunakan malah buku folio bergaris yang seringnya digunakan sebagai buku untuk menulis/menggambar ala kadarnya. Kalau di masa SD, buku sejenis ini adalah buku kasta terendah, di bawah buku ulangan, buku latihan/PR, dan buku catatan, yaitu buku corat-coret. Di kantor baru, setiap karyawan diberi laptop instead of dekstop PC, yang membuat orang lebih banyak terlihat membawa laptop ke mana-mana. Penggunaan tablet dan smartphone sebagai sarana pencatat/agenda juga terlihat lebih umum, yang membuat keberadaan buku catatan/agenda semakin jarang.

Di antara gemerlapnya dunia gadget, beberapa orang tetap mempertahankan tradisi lama. Di antaranya adalah line manager gua saat ini. Dia sudah cukup berumur, anak tunggalnya hampir seusia gua. Sebelum bekerja di dunia perminyakan, dia pernah menjadi tentara untuk beberapa tahun. Dia hampir selalu memakai brogue, membawa swiss knife, dan menggunakan sepeda ke kantor. Simply put, he’s a proper Dutch man. And guess what? He still uses a notebook. Ini adalah salah satu hal yang gua sadari dari pertemuan pertama gua dengan dia. Dia mencatat hasil percakapan kita dalam sebuah notebook bersampul kulit hitam berukuran A5 berlambang kerang di sudutnya. Pemandangan yang cukup langka.

Moleskine Baca lebih lanjut

Asisten-asisten Rumah Tangga

Di dalam hidup banyak keluarga Indonesia, asisten rumah tangga adalah bagian yang teramat penting. Selama gua tinggal di Cikampek dan Bandung, jumlah asisten rumah tangga yang pernah menjadi bagian keluarga gua cukup banyak. Jikalau mereka memiliki email, niscaya bisa dibuat sebuah milis dengan jumlah puluhan orang. Most of them stay 2-3 years, some only last months, several stay longer, and a few of them simply don’t leave. Ketika di Balikpapan pun gua sempat memiliki satu asisten yang datang 3 hari seminggu selama lebih kurang 6 tahun. Sebut saja Mbak Nia, nama sebenarnya. Buat gua Mbak Nia adalah salah satu pembeda kualitas hidup gua di Balikpapan. Gua sempat mengalami periode di mana beliau tidak bekerja untuk gua, periode tersebut adalah periode tersulit hidup gua di Balikpapan.

Anyway, gua tidak bermaksud untuk menceritakan tentang asisten gua dahulu di Cikampek, Bandung, atau pun Mbak Nia. Semenjak pindah ke Groningen, tentunya gua tidak mendapatkan privilege untuk mempekerjakan asisten rumah tangga. Kalau mau diupayakan kami mungkin bisa memperkerjakan seseorang dengan peran seperti Mbak Nia, tetapi mempertimbangkan: situasi ekonomi dan turunnya harga minyak, apartemen yang relatif tidak terlalu luas, kemungkinan adanya orang asing dengan bahasa dan wajah asing. Maka kami bahkan tidak berusaha untuk mencari kemungkinan itu.

Pun demikian, di era kemajuan teknologi di mana mobil Tesla sudah memasuki pasaran, banyak benda-benda yang bisa kita manfaatkan untuk menggantikan peran asisten manusiawi. Gua jadi sedikit teringat dengan ted talk nya Hans Rosling yang berjudul The Magic Washing Machine. Di akhir ted talk-nya, beliau menceritakan bagaimana mesin cuci datang dalam kehidupan manusia, mempermudah ibu-ibu di seluruh dunia, dan memberikan waktu bebas untuk anak bermain dan belajar bersama ibunya. Dengan spirit untuk tidak terhabiskan waktu dengan bebersih rumah, kami pun menambah “asisten-asisten” di rumah tangga kami. In particular, ada dua benda yang kami tidak miliki di Balikpapan dan sangat berkesan sampai gua merasa perlu menulis postingan ini.

phontoMeisje-H & the assistants

Vacuum cleaner robot (Dirt Devil Spider M607)

Gua pertama melihat benda ini ketika sedang browsing wireless vacuum cleaner. Teknologi ini sudah ada lebih dari satu dekade, tapi tentunya di awal munculnya harganya sangat mahal. Gua pun berpikiran bahwa benda seperti ini masih merupakan benda yang mewah. Ternyata saat ini vacuum cleaner robot sudah tidak semewah itu. Harganya relatif masih mahal, sekitar 200-300 euro. Maka, ketika mendapati merk Dirt devil seharga 90 euro ini, gua pun sangat amat luar biasa antusias. Nyata dalam bayangan gua bagaiman benda ini bisa menggantikan tugas gua mem-vacuum apartemen di akhir pekan. Baca lebih lanjut

The Trade Offs

Beberapa hari yang lalu gua membaca berita di internet tentang retirement letter dari CFO Google, Patrick Pichette. Tentunya gua nggak kenal dengan Bapak Patrick ini, mendengar namanya pun baru pas dia mengumumkan rencana pensiunnya. Walaupun tidak mengenal dia, berita di internet tersebut cukup menarik untuk diikuti dan gua pun lantas membaca surat pensiunnya di sini.

http://www.washingtonpost.com/blogs/on-leadership/wp/2015/03/11/this-retirement-letter-from-googles-cfo-is-like-few-youll-ever-read/

Secara garis besar, alasan pensiun yang dia utarakan tidak banyak berbeda dengan alasan pensiun kebanyakan orang. Yang menarik adalah betapa si Bapak CFO ini begitu manusiawi dalam menyampaikan alasannya. Kalimat terakhir dari surat tersebut adalah sebagai berikut, “In the end, life is wonderful, but nonetheless a series of trade offs, especially between business/professional endeavours and family/community. And thankfully, I feel I’m at a point in my life where I no longer have to have to make such tough choices anymore. And for that I am truly grateful. Carpe Diem.”

Kemarin malam, gua dan istri melanjutkan jadwal nonton Suits kita di Season 3 episode 14. Episode di mana Louis Litt terkena serangan jantung – sembuh – melamar Sheila – berencana menikah – ragu-ragu karena Sheila minta dia pindah ke Boston – Sheila bersedia pindah ke New York – Batal menikah karena ternyata Sheila tidak mau punya anak. Sheila bersedia pindah ke New York untuk bersama Louis, tapi dia tidak bersedia untuk punya anak. It’s not a trade off she’s willing to accept. Episode itu pun berakhir dan gua belum tahu kelanjutannya.

Dalam hidup, kita selalu berharap supaya kehidupan kita lebih baik. Pekerjaan yang lebih baik, kondisi keluarga yang lebih baik, tubuh yang lebih sehat, harta yang lebih banyak, dan sebagainya dan sebagainya. Manusiawi. I’m not going to lie, I want a so-called perfect life as well. Tapi, tidak ada yang sempurna dan terkadang ekspektasi kita terhadap kehidupan yang sempurna ini yang membuat kita sulit bahagia. Indeed, life is a series of trade-offs and that’s how we should look at it.

Salah satu keputusan terbesar yang gua dan orangtua dulu pilih adalah menempuh pendidikan SMA di Bandung. Keputusan yang cukup obvious dan kalau harus diulangi akan gua pilih lagi. Tapi keputusan tersebut tidak tanpa trade off. Gua harus berpisah dari orangtua gua sejak usia 15 tahun. Setelah gua punya anak, gua baru bisa menempatkan diri pada perspektif mereka dan menyadari betapa beratnya hal tersebut. Semenjak kepindahan gua ke Bandung 15 tahun lalu, gua sudah mengalami 3 kepindahan lain: Balikpapan, Edinburgh, dan Groningen. Di setiap kepindahan, orangtua gua selalu mengantar sampai airport dan mama tidak pernah tidak menangis. Can I make the same decision for my kids(s)? I’m not sure.

Salah satu keputusan terbaru yang meminta banyak trade-off tentunya adalah kepindahan gua dan keluarga ke Belanda. There was a lot of financial trade off, but I won’t get into the details. Tapi trade off terbesar mungkin dibuat oleh istri gua yang harus meninggalkan pekerjaannya setelah melahirkan anak pertama kami. Selain itu ada beberapa trade off yang relatif lebih ringan seperti tidak adanya pembantu, kemudahan mencari restoran halal, jauh dari saudara, dan lain-lain. Overall, kami lebih bahagia di sini (kalau tidak lebih bahagia mendingan balik juga sih) tapi semua tidak tanpa pengorbanan.

Dan trade off itu tentunya tidak akan berakhir sampai di sini. Gua dan keluarga masih akan harus membuat keputusan dalam hidup yang menuntut pengorbanan. Kita tentu berharap akan kehidupan yang lebih baik tapi tentunya di balik itu akan ada series of trade off yang kita buat.

Choose the trade offs you are able to handle and be conscious about them.

Driving (and Buying) a Car in The Netherlands: The Good, The Bad and The Ugly

HW WM
Highway di Belanda – image courtesy of our friend

Belanda adalah negara yang budaya bersepedanya infamous. Menurut informasi yang gua ga bisa rujuk dengan baik, ada lebih banyak sepeda dibandingkan dengan manusia di Belanda ini. Selain bersepeda, public transportation juga sangat memadai. Di kota besar seperti Amsterdam berbagai sarana transportasi seperti trem, bus, metro, dan kereta tersedia untuk mejangkau segala sudut kota. Di Groningen yang merupakan ujungnya Belanda, bus pun tersedia, tapi Groningen tidak sebesar itu dan sangat terjangkau dengan menggunakan sepeda. Di awal-awal kepindahan gua di Belanda, gua menggunakan kereta untuk commuting dari tempat tingal ke kantor di Assen. It works just fine. Kalau gua ingin ke kota, gua bisa berjalan kaki sekitar 1.5 km (20-25 menit). Namun demikian, tentunya memiliki mobil mempermudah banyak hal terutama dengan adanya bayi tidak terlalu kecil di rumah tangga gua. Kebetulan, di kantor pusat ada rekan yang menjual mobil yang cukup bagus dengan harga yang reasonable. Oleh karena itu, sekitar sebulan setelah kedatangan gua di negara ini, gua putuskan untuk membeli mobil.

Membeli mobil di Belanda bukanlah sesuatu yang sulit. Tidak ada larangan untuk warga negara asing untuk membeli mobil. Dokumen yang dibutuhkan dari sisi pembeli hanya paspor, SIM (tidak perlu SIM belanda atau pun sim internasional, kecuali SIMnya tertulis dalam huruf non latin), residence card dan surat keterangan tinggal dari Gemeente (dengan no. BSN tertera) tempat kita terdaftar sebagai warga. Dari sisi penjual, mereka perlu menyiapkan certificate of ownership dan transfer certificate. Kemudian, karena gua dan penjual adalah warga asing, kita perlu melakukan serah terima di kantor RDW. Jikalau pembeli dan penjual adalah warga Belanda, mereka bisa melakukan serah terima di kantor pos. Setelah melakukan serah terima, pembeli yang telah menjadi pemilik mobil wajib memenuhi kewajibannya sebagai pemilik mobil: membayar pajak jalan (bisa tahunan atau quarterly), memiliki asuransi mobil, dan tentunya mengisi bensin supaya mobilnya bisa jalan.  Dalam beberapa hari RDW akan mengirimkan kartu Kentekenbewijs (STNK) yang bentuknya mirip dengan kartu kredit.

kentekenbewijs-415x260
Kentekenbewijs, STNK Belanda (image from here)

Tentunya menyetir di Belanda harus dengan menggunakan SIM atau rijbewijs. Sebagai informasi, SIM Indonesia berlaku di Belanda selama 6 bulan sejak kedatangan. SIM Internasioanal yang diterbitkan di Indonesia tidak memiliki kekuatan hukum tanpa SIM aslinya karena hanya dianggap sebagai terjemahan dari SIM asli. Banyak yang tidak mengetahui hal ini dan menyangka bahwa SIM internasional yang diterbitkan di Indonesia memang diperlukan dan berlaku sampai 1 tahun. Tentunya saya tidak bertanggungjawab atas info ini dan kalau tidak percaya atauapun kalau percaya silakan ditanyakan sendiri ke pihak berwenang. Gua pindah ke Belanda dengan status sebagai kennismigrant  dan dengan skema “30 percent ruling”. Salah satu keuntungan dari skema tersebut adalah bolehnya menukar SIM tanpa melalui tes. Prosedur penukaran SIM juga cukup mudah. Dokumen yang dibutuhkan adalah SIM lama, paspor, residence card, 30 percent ruling letter dari departemen pajak, pas foto dan health declaration yang bisa diisi online di cbr.nl. Lead time proses penukaran adalah sekitar 4 minggu (tapi gua cuma dalam 2 minggu saja!) dan biaya sekitar 38 euro, gua lupa pastinya. Permintaan penukaran dan pengambilan SIM bisa dilakukan di kantor gemeente. Penukaran bisa dilakukan dengan membuat appointment, sedangkan pengambilan tidak memerlukan appointment. Untuk pas foto, gua sempat membawa foto dari Indonesia yang tidak memenuhi syarat. Di dekat Gemeente Groningen tentunya ada studio foto instan yang sudah mengetahui secara pasti persyaratan foto untuk SIM. Rijbewijs yang gua dapatkan adalah penukaran, yang berarti SIM Indonesia gua dikembalikan ke pihak yang berwenang. Sampai detik tulisan ini dibuat, gua belum berhasil menyelamatkan SIM Indonesia. Disinyalir gua mungkin bisa menyelematkannya dalam 2 bulan ke depan.

Baca lebih lanjut

The Story of Our First Dutch Makelaar

Tak terasa sudah memasuki bulan ke-5 sejak gua pindah ke Groningen. Tak terasa pula waktu gua dan keluarga untuk menempati akomodasi transit dari perusahaan akan segera habis. Oleh karena gua direkrut dari negara di sisi dunia yang berbeda, perusahaan memberikan beberapa fasilitas untuk mempermudah adaptasi gua. Salah satunya adalah tempat tinggal berupa apartemen untuk ditempati selama 6 bulan. Hal ini tentunya penting karena butuh waktu untuk mencari tempat tinggal di suatu negara yang  belum kita kenali kondisinya. Berhubung waktu 6 bulan itu akan segera tiba, maka gua dan istri pun mulai bergerak untuk mencari tempat tinggal baru kami di Groningen.

Banyak sekali hal yang perlu dipertimbangkan dalam mencari tempat tinggal baru. Waktu memilih rumah di Balikpapan, karena gua masih bujang, gua banyak dibantu oleh Ibu tercinta. Di Jakarta, gua dan istri sempat mencari properti bersama, tetapi tidak kami tempati. Praktis, inilah kali pertama kita mencari tempat tinggal bersama untuk kita tempati. Mencari tempat tinggal di Belanda dengan di Indonesia pun tentunya berbeda problematikanya. Di Indonesia, memiliki rumah tidak begitu repot karena tukang kebun, asisten rumah tangga, dan tukang bangunan bertebaran apabila dibutuhkan. Di Belanda, cukup umum orang mengurus rumahnya sendiri, termasuk melakukan perbaikan-perbaikan kecil seperti memasang laminat, mengecat, dan memperbaiki retak-retak di dinding atau pun plafon. Selain ketersediaan poin-poin yang gua sebutkan terbatas, harganya juga sangat mahal.

Salah satu hal yang sangat membantu dalam pencarian tempat tinggal di Belanda adalah terdokumentasinya rumah-rumah yang dijual/disewakan melalu website www.funda.nl. Sepertinya tidak ada rumah yang dijual/disewakan tanpa mengiklankan diri melalu website ini sehingga gua pun bisa mulai mencari informasi dan mempelajari situasi, Selain melalui website funda, orang Belanda pun sangat umum menggunakan jasa makelar (atau lebih tepatnya makelaar, dengan dua a) dalam menjembatani pencarian tempat tinggal mereka. Jasa yang ditawarkan makelaar juga cukup bervariasi, mulai dari mencari tempat tinggal, survei, negosiasi harga, sampai mencarikan notaris yang bisa membantu dengan kontrak atau perjanjian jual beli. Gua dan istri sepakat untuk mencari sendiri apartemen karena kami malas mengurus rumah yang rata-rata bertingkat di funda sebelum mulai menggunakan jasa makelaar untuk membantu urusan-urusan lanjutan.

Pencarian pun sudah kami mulai sejak November. Kami membuat janji untuk melihat dua apartemen yang terlihat cukup menarik di funda. Salah satunya benar-benar menarik. Ada beberapa isu yang sepertinya perlu diurus tetapi tidak menjadi killing factor, and so we thought. Karena merasa sudah menemukan apartemen yang pas, kami pun menghubungi makelaar yang dirujuk oleh kolega gua di kantor. Karena gua tidak suka menelpon, gua menghubungi kantor makelaar tersebut melalui email yang segera direspon oleh tim administrasinya. Tentunya di Belanda tak ada pertemuan tanpa appointment (not even Bank..) dan kami pun mendapatkan janji untuk bertemu dengan Johan, makelaar yang dirujuk, dalam beberapa hari.

Dengan optimisme tinggi bahwa semua akan berjalan lancar, gua, istri, dan Hafshah pun berangkat bersama menuju kantor makelaar yang berada di tengah kota. Kami pun bertemu dengan Johan, atau lebih pantas disebut Opa Johan, untuk pertama kalinya. Opa Johan adalah opa-opa tipikal Belanda dengan usia mungkin di pertengahan atau bahkan late enampuluhan. Tinggi, gagah, rambut putih klimis, dan cukup efisien serta straight forward dalam berkata-kata. Gaya berpakaiannya cukup necis dan beliau selalu menggunakan mobil sedan 2 pintu yang sepertinya cukup tua, walaupun tidak setua dia (atau bahkan gua, in that matter)Opa Johan menjelaskan servis yang bisa dia berikan serta hal-hal yang perlu kami pertimbangkan dalam memilih tempat tinggal. Gua yang sudah bolak balik mencari di google dan membaca forum-forum merasa sudah mengerti hal-hal yang dia jelaskan. Kami pun mengatur untuk melihat apartemen yang kami incar berasa Opa Johan.

Baca lebih lanjut

Hometown

:  the city or town where one was born or grew up; also :  the place of one’s principal residence

http://www.merriam-webster.com/dictionary/hometown

Beberapa waktu yang lalu, gua mendapati banyak postingan di sosial media tentang Bandung yang sedang berulangtahun. Tema postingan tiap orang hampir sama: kangen Bandung kota penuh nostalgia. Gua menghabiskan masa SMA dan kuliah gua di kota ini, karena itulah gua memiliki banyak teman yang lahir dan besar di Bandung. Oleh karena itu pula, timeline media sosial gua dipenuhi oleh orang-orang yang mencintai Bandung sepenuh hati.

Sejatinya 1/4 hidup gua dihabiskan di Bandung. Pendidikan-pendidikan formal terpenting gua dapatkan di Bandung. Gua pernah mewakili Kota Bandung dalam ajang Pekan Olahraga Pelajar. Istri pun lahir dan besar di Bandung, dengan menempuh jalur bedol desa SMP 5 – SMA 3 – ITB. Tapi sejujurnya gua tidak merasakan ikatan yang kuat dengan Bandung, tidak cukup kuat bahkan untuk memposting sesuatu tentang Bandung di media sosial hari itu, atau hari-hari sebelumnya. Tidak pula cukup kuat untuk harus rutin mengunjungi Bandung, kecuali sekedar untuk menemui mertua. Don’t get me wrong, 7 tahun yang gua habiskan di Bandung adalah tahun-tahun yang luar biasa but I just don’t feel that kind of attachment. Which makes me kind of wonder, where is my hometown?

Hometown, yang kurang lebih bisa diterjemahkan sebagai kampung halaman (walaupun adalah kota), diartikan sebagai kota di mana seseorang lahir dan/atau tumbuh besar atau bisa pula kota tempat tinggal utama seseorang.

Baca lebih lanjut