5-A-Day

Gw dan Suami adalah dua orang yang sebetulnya tidak menyukai makanan sehat, lebih tepatnya kami tidak suka sayur. Gw adalah penggemar makanan gurih dan makanan pokok. I was a carbo monster :p Bahkan di yearbook kampus, salah satu testimoni untuk gw adalah pemakan nasi. Alhamdulillah kegilaan makan karbo di masa lalu itu belum memengaruhi berat badan gw selama ini (semoga badan gw seterusnya nurun bokap, Aamiin). Sebaliknya, Suami adalah penggemar makanan manis. Emang jodoh mah gak kemana-mana ya :p Gw suka bebikinan & baking tapi gak suka-suka amat makanan manis, sementara suami adalah sweet tooth.

Tidak suka makanan sehat bukan berarti tidak mau sama sekali lho. Kami mau kok makan sayur untuk hidup yang lebih sehat. Setidaknya kami selalu berusaha memenuhi 5-A-Day dalam satu hari. Apa sih 5-A-Day itu? Pasti sudah banyak yang tahu. Tapi, gw juga pernah ngobrol dengan beberapa teman yang belum pernah mendengar istilah ini… jadi gw coba share sedikit ya ūüôā

23E180B200000578-2865364-image-m-4_1418047535382

Gambarnya pinjam dari sini

5 A Day

Gw pertama kali mendengar istilah 5-a-day ini dari Suami. Suami pertama kali mendengarnya dari mantan bos-nya, seorang Prancis di Perusahaan Prancis. Orang Prancis kan relatif langsing-langsing sehat ya, singkatnya¬†we’re sold :)) Baca lebih lanjut

Hey Jongedame!

 

thumb_img_3205_1024

Hi Meisje-H. I am writing this as you sleep. Reason being: your mommy is sleeping as well and I am, as usual, not sleepy yet. So hey, I decided to write something for you in front of my beautiful ultrawide monitor. Why not, right? I’ve also decided to write in English because sometimes it’s easier to do so.¬†It’s funny how I realize that I think and talk to myself in different languages these days. Geen Nederlands though. It’s either Bahasa Indonesia, Basa Sunda or English. Your Dutch is already better than mine. I’ve also lost control of English grammar actually, but it does flow a bit naturally as a used language rather than a “learned” language.

Hi Meisje-H, today you had quite a long day. Without nap as well. But, you seem to be happy going out with us and met other people as well. You were quiet as always, but you do seem to threw a lot of smile. Other people will probably not notice it, but me and your mommy will always look out for your happiness and so we did see that today. I hope that you will start to learn to talk to other people soon though. I don’t mind if you only want to talk to me and your mommy forever, but getting along with others (including talking to them) is a survival skill that you need to learn, eventually. For now, honestly, I am happy that you are picky and that you seem to only trust your parents.

Hi Meisje-H, I’d like to ask you: have you ever miss me? Because I always miss you, even now. I miss you more than I miss your mommy. ¬†I think about you a lot whenever I am in the office or when I’m driving. I’ve said that being a father is not easy. Sometimes I feel like I love you so much that it actually hurts and it’s very difficult to comprehend the feeling. I love your mommy so much, but sometimes she really annoys me. Whenever she annoys me, I don’t think about how much I love her and I will just focus on being annoyed. However, with you, even when you annoyed me I will still think about how much I love you. So it’s difficult to focus on being annoyed when all that matters for me is your happiness. The other part that sometimes hurt me is the fact that I know you’re not mine. You’re simply not, because nobody owns their own life. Life can be taken out of me or you anytime.

Hi Meisje-H, it seems like you are always growing at a faster pace than my prediction. My job is to do history match and forecast, and I think I might lose my credibility in the office because I have failed every time with you. You always understand more than what I have predicted. I have loss my first debate with you on the topic of why mommy should sleep instead of waking up. You remember a whole lot of details from your daily activity that an adult would easily forget. In 15 months you will start going to school and that also makes me anxious. A little bit about how you would adapt to school, but more about how I am afraid that you will just continue to grow up very quickly and I can’t do anything to stop it, can I?

Hi Meisje-H, these 500-600 words that I’ve written to you, there’s nothing much in it, but I do hope you’re okay with it. I know you haven’t been able to read, but with your learning pace and wi-fi connection.. hey, who knows you might already taken over this blog in 2 years time? So, one day when you can read this, please don’t be ashame of your father. Instead, remember every minute in your life how I put your happiness way ahead of mine (although I might make you move from cities/countries time to time..). We will also have changes this year and I still can’t imagine as well how that will affect my feelings and how I manage it. But for now, you have all my love lieve Mesije!

Oh wait, there’s your mommy as well :p

 

Mommy‚Äôs Side: The Sleep Training Story

Sebelum menginjak usia 6 bulan, meisje-H adalah seorang ‚Äėpenidur yang baik‚Äô (apa dong good sleeper dalam bahasa Indonesia?). Dia bisa ditidurkan di crib-nya setelah menyusu sekitar jam 8-9 malam, dibangunkan/terbangun sekitar pukul 11-12 malam, kemudian bangun lagi pukul 4 pagi, dan terakhir betul-betul bangun jam 7 pagi. Tidur siang-nya sampai 1 tahun juga masih 2 kali, walaupun sama-sama masih lewat proses menyusu.

Setelah melewati usia 6 bulan, herannya meisje-H malah lebih sering terbangun. Apalagi setelah lebih aktif, bisa duduk dan berdiri, bangunnya sampai 4-5 kali setiap malamnya. Gw yang sangat mencintai tidur ini pun memutuskan untuk kembali co-sleeping setelah bangun malam-nya yang pertama (alias setelah orang tuanya bersiap tidur), biar tinggal lep, beres deh, tidur gw tidak terganggu setiap malamnya.

Bobo jaman sebelum pakai slaapzak

Bobo di zaman pra-slaapzak

Co-sleeping merupakan common practice di Indonesia, tapi tidak dengan di sini. Seandainya kami bilang ke dokter atau suster di Posyandu sini, kami pasti dinasehati. Jadi kami selalu bilang meisje-H tidur di crib-nya (gak boong dong? Kan iya sampe jam 11 :p ) tetapi masih harus menyusu untuk tidur. Untuk masalah menyusu sebagai sleep association, si suster tidak bisa menyarankan apa-apa. Mereka bilang, itu masalah budaya. Di Belanda (atau barat? Kecuali yang mengikuti ajarannya Dr. Sears), di awal sleep training anak akan dibiarkan menangis sampai tertidur sendiri (cry-it-out) dan pada akhirnya akan mengerti untuk tertidur sendiri tanpa menangis atau hanya menangis sedikit. Yah mungkin juga itu alasannya sebagian orang tua di sini memberi anaknya pacifier, ya sebagai pengganti sleep association itu lah.

Menginjak usia 1 tahun dan menjelang gw kuliah lagi, gw berpikir untuk mengajari meisje-H tidur tanpa disusui terlebih dahulu agar dia terbiasa melakukannya di daycare. Kegiatan menyusu tetap ada, tetapi dilakukan di luar kamar, bukan sebagai kegiatan terakhir pengantar tidur. Mengikuti saran dari artikel-artikel mengenai sleep training, kami pun membuat bedtime routine untuk meisje-H. Baca lebih lanjut

The Diet Story

Alkisah, pertengahan tahun lalu terjadi sebuah unfortunate event, yaitu masuknya gua pada usia 30 tahun. Sebenernya gua cukup bahagia akhirnya gua memasuki dekade baru ini, for a couple of years, gua merasa usia mental gua sedikit lebih tua daripada usia gua. Being 30 actually fits me just fine.

Usia 20an tentunya gua lewati dengan turbulen dan naik-turun, seperti semestinya. Dari mulai menyelesaikan studi, mencari pekerjaan, mencari studi lagi, berpindah kota, menikah, menjadi bapak, semuanya diwarnai dengan naik-turun. Gua menikmati proses naik-turun tersebut. Akan tetapi, ada satu naik-turun yang tidak gua sukai, yaitu naik-turun berat badan.

Di awal usia 20an berat gua stabil di 77 kg. Pola makan dan tidur gua tidak selalu baik, tapi mostly latihan basket berkali-kali seminggu cukup untuk menjaga berat badan gua. Di usia 22 gua mulai bekerja, berat badan gua pun sempat naik cukup tinggi. Namun, keberadaan kompetisi bola basket dunia perkantoran kembali menjadi jangkar untuk berat badan gua. Akan tetapi, seiring bertambahnya usia gua, sepertinya semakin tidak mampu pula basket menjadi kontrol berat badan gua. Di usia 26, berat gua sempat mencapai 90 kg. Ketika gua melanjutkan studi, gua kembali ke kompetisi bola basket perkuliahan, dan efeknya pun positif karena berat gua sempat turun ke 83 kg. Hal ini bisa terjadi juga dibantu dengan tren lari di Indonesia yang sampai juga pada diri gua. Namun, di penghujung usia 20an gua mendapati lagi berat badan gua mendekat ke 89 kg.

phonto (1)Foto-foto di semua postingan gua tentunya hasil editan istri

Maka, tahun lalu ketika gua mencapai usia 30 pun gua bertekad bahwa salah satu hal pertama yang harus gua ubah adalah pola timbangan gua yang terus naik turun. Motivasinya sederhana, gua ingin menjadi suami dan bapak yang sehat untuk waktu yang lama kalau Allah memberi umur.  Baca lebih lanjut

Being a Father: The Separation Anxiety

Seperti yang istri sudah ceritakan, dia baru saja kembali ke bangku sekolah. Konsekuensi logis dari peristiwa ini adalah babak baru dalam kehidupan anak kecil: daycare. Universitas tempat istri sekolah memiliki calendar generator yang luar biasa sehingga gua sudah tahu bahwa kuliahnya tidak berlangsung setiap hari, bahkan sebelum hari-H. Yang berlanjut ke konsekuensi logis berikutnya, si anak kecil tidak perlu ke daycare setiap hari. Hal ini gua nilai ideal karena kita tidak akan overwhelmed karena perubahan drastis melepas anak setiap hari dan si anak pun akan memiliki waktu bermain dengan teman sebayanya di daycare. Situasi win-win solution buat orangtua, anak, dan daycare (yang akan mendapat klien baru..). Gua cukup antusias meyambut babak baru dalam hidup kami.

Seminggu sebelum istri resmi memulai kuliah pun, meisje-H diberi waktu untuk gladi resik dengan bermain 3 jam di TKP. Hasilnya? Spektakuler, si anak tidak menangis sama sekali ketika ditinggal dan langsung asyik bermain. Si ibu yang ingin berdadah-dadah sedih pun tidak digubris. Ketika dijemput si anak sedang bermain dengan ceria dan langsung menunjuk-nunjuk ibunya. Optimisme gua semakin membuncah.

Tetapi melihat dari judul postingan ini pun sudah tersirat bahwa tidak semua hal akan berlangsung lancar. Kunjungan berikutnya ke daycare lebih tricky karena melibatkan tidur siang. Gua sedikit lebih khawatir, tapi tetap optimis mengingat hasil gladi resik yang melebihi ekspektasi gua. Toh, durasinya hanya¬†4 jam. Hari itu hari Jum’at, dan seperti seringnya hari Jum’at gua langsung pulang ke rumah setelah Jum’atan¬†dan lantas melanjutkan kerja dari rumah. Namun, ada perasaan yang sangat aneh karena gua hanya sendirian di apartemen. It was way too quiet. Dan gua pun cukup kepikiran dengan keberadaan anak kecil yang sudah hampir 4 jam tak gua dengar kabarnya. Akhirnya gua pun memutuskan untuk menjemputnya sedikit lebih awal. Setelah sedikit kesulitan memasuki daycare (don’t ask..just don’t), gua pun mencari si anak kecil. Gua berekspektasi akan mendapati dia sedang bermain dan kemudian menunjuk-nunjuk dengan bangga untuk memamerkan bapaknya di depan teman-teman toddler bulenya. Baca lebih lanjut

The Journal Effect

What do you think when the word “notebook” is mentioned? Kalau kita mencoba googling kata tersebut maka ada 3 hasil utama pencarian yang muncul ke permukaan: buku tulis, sebuah laptop, dan .. oh you guess it.. the movie..

Anyway, gua tidak bermaksud untuk membahas sedikit pun tentang film, tapi yang akan gua bahas adalah tentang buku tulis. Benda ini tentunya sangat identik dengan sekolah. Buku catatan adalah sarana yang kita gunakan untuk mencatat pelajaran yang kita dapatkan dalam kelas atau menahan kantuk. Selama ini gua selalu berpikir bahwa tidak ada yang bisa menggantikan buku tulis sebagai media penampungan pelajaran dalam kelas. Akan tetapi, ketika gua mengambil MSc 2-3 tahun yang lalu gua mendapati banyak mahasiswa yang lebih muda dari gua lebih banyak mengutilisasi ipad mereka yang memang diberikan oleh kampus. Mereka menggunakan apps untuk menganotasikan slide kuliah dan juga foto untuk hal-hal yang dosen tuliskan di papan tulis. Usia dosen bisa ditebak dari kalimat sebelum ini.

Lain kuliah, lain dunia kerja. Di dunia kerja modern saat ini, hampir semua karyawan memiliki komputer. It’s safe to say kalau karyawan dunia modern sulit bekerja tanpa komputer. Di kantor lama, setiap tahun kita diberi agenda tahunan, tetapi gua perhatikan tidak terlalu banyak yang menggunakannya. Buku yang lebih banyak digunakan malah buku folio bergaris yang seringnya digunakan sebagai buku untuk menulis/menggambar ala kadarnya. Kalau di masa SD, buku sejenis ini adalah buku kasta terendah, di bawah buku ulangan, buku latihan/PR, dan buku catatan, yaitu buku corat-coret. Di kantor baru, setiap karyawan diberi laptop instead of dekstop PC, yang membuat orang lebih banyak terlihat membawa laptop ke mana-mana. Penggunaan tablet dan smartphone sebagai sarana pencatat/agenda juga terlihat lebih umum, yang membuat keberadaan buku catatan/agenda semakin jarang.

Di antara gemerlapnya dunia gadget, beberapa orang tetap mempertahankan tradisi lama. Di antaranya adalah line manager gua saat ini. Dia sudah cukup berumur, anak tunggalnya hampir seusia gua. Sebelum bekerja di dunia perminyakan, dia pernah menjadi tentara untuk beberapa tahun. Dia hampir selalu memakai brogue, membawa swiss knife, dan menggunakan sepeda ke kantor. Simply put, he’s a proper Dutch man. And guess what? He still uses a notebook. Ini adalah salah satu hal yang gua sadari dari pertemuan pertama gua dengan dia. Dia mencatat hasil percakapan kita dalam sebuah notebook bersampul kulit hitam berukuran A5 berlambang kerang di sudutnya. Pemandangan yang cukup langka.

Moleskine Baca lebih lanjut

2015 Resolution(s) & Other Things

Melanjutkan postingan sebelumnya tentang resolusi, sebetulnya gw cukup tidak menyangka kalau salah satu resolusi berikutnya akan tercapai di pertengahan tahun. Alhamdulillah rejekinya demikian, dan dengan tercapainya resolusi yang ini artinya gw harus memperbaharui resolusi terakhir gw. Resolusi tersebut adalah apply sekolah lagi untuk mulai kuliah di bulan Februari 2016, dan resolusi satunya yang harus gw coret adalah ikutan HM di Amsterdam bulan Oktober karena jadinya gw mulai kuliah September ini, di mana sehari setelah race day ada ujian. Orang sih bisa aja nekat, tapi aku mah tahu diri aja. Niat gw kuliah Februari juga biar bisa fokus training, tapi rejekinya kan lain. Suami juga udah geleng-geleng istrinya mau HM, menurut Suami HM itu udah bukan olahraga lagi dan gak jelas di mana bikin sehatnya‚Ķ mentok-mentok 10K lah yang mana 10K gw aja masih pace 8 lebih, dan kapan terakhir gw lari sejauh itu? Gw setuju sih, tapi tetep gw jawab dengan ‚ÄúYah kalo udah segitu jauh sih KATANYA lebih ke masalah spiritual, aku pengen buktiin aja (sebagai ibu) aku bisa‚ÄĚ. Harus gw akui ini masalah egoisme gw aja pengen ‚Äúmencapai‚ÄĚ sesuatu sebagai SAHM, ngaku deh aku ngaku.

Seperti biasa muter-muter kayak helikopter, padahal bukan itu yang mau dibahas.

Jadi…Kenapa sih gw harus sekolah lagi?

Gak harus kok, tapi kesempatannya ada dan sayang jika tidak dicoba. Sebelum nikah, deal dengan Suami jelas bahwa gw yang harus ikut dia ke mana saja (for obvious reason, lah) tapi Suami tidak pernah meminta gw untuk menjadi SAHM, kalo ada kesempatan ya kerja lah. Alhamdulillah rejeki istri sholehah (Aamiin) pas ke Balikpapan gw bisa mutasi. Nah di sini pun Suami lebih pengen gw kerja aja. Tapi alih-alih kota industri untuk para kacung korporasi, Groningen adalah kota pelajar-nya Belanda dengan Uni yang berperingkat lumayan.

RUG
Gambar Uni dari RUG official website

Baca lebih lanjut

Asisten-asisten Rumah Tangga

Di dalam hidup banyak keluarga Indonesia, asisten rumah tangga adalah bagian yang teramat penting. Selama gua tinggal di Cikampek dan Bandung, jumlah asisten rumah tangga yang pernah menjadi bagian keluarga gua cukup banyak. Jikalau mereka memiliki email, niscaya bisa dibuat sebuah milis dengan jumlah puluhan orang. Most of them stay 2-3 years, some only last months, several¬†stay longer, and a few of them simply don’t leave. Ketika di Balikpapan pun gua sempat memiliki satu asisten yang datang 3 hari seminggu selama lebih kurang 6 tahun. Sebut saja Mbak Nia, nama sebenarnya. Buat gua Mbak Nia adalah salah satu pembeda kualitas hidup gua di Balikpapan. Gua sempat mengalami periode di mana beliau tidak bekerja untuk gua, periode tersebut adalah periode tersulit hidup gua di Balikpapan.

Anyway, gua tidak bermaksud untuk menceritakan tentang asisten gua dahulu di Cikampek, Bandung, atau pun Mbak Nia. Semenjak pindah ke Groningen, tentunya gua tidak mendapatkan privilege untuk mempekerjakan asisten rumah tangga. Kalau mau diupayakan kami mungkin bisa memperkerjakan seseorang dengan peran seperti Mbak Nia, tetapi mempertimbangkan: situasi ekonomi dan turunnya harga minyak, apartemen yang relatif tidak terlalu luas, kemungkinan adanya orang asing dengan bahasa dan wajah asing. Maka kami bahkan tidak berusaha untuk mencari kemungkinan itu.

Pun demikian, di era kemajuan teknologi di mana mobil Tesla sudah memasuki pasaran, banyak benda-benda yang bisa kita manfaatkan untuk menggantikan peran asisten manusiawi. Gua jadi sedikit teringat dengan ted talk nya Hans Rosling yang berjudul The Magic Washing Machine. Di akhir ted talk-nya, beliau menceritakan bagaimana mesin cuci datang dalam kehidupan manusia, mempermudah ibu-ibu di seluruh dunia, dan memberikan waktu bebas untuk anak bermain dan belajar bersama ibunya. Dengan spirit untuk tidak terhabiskan waktu dengan bebersih rumah, kami pun menambah “asisten-asisten” di rumah tangga kami. In particular, ada dua benda yang kami tidak miliki di Balikpapan dan sangat berkesan sampai gua merasa perlu menulis postingan ini.

phontoMeisje-H & the assistants

Vacuum cleaner robot (Dirt Devil Spider M607)

Gua pertama melihat benda ini ketika sedang browsing wireless vacuum cleaner. Teknologi ini sudah ada lebih dari satu dekade, tapi tentunya di awal munculnya harganya sangat mahal. Gua pun berpikiran bahwa benda seperti ini masih merupakan benda yang mewah. Ternyata saat ini vacuum cleaner robot sudah tidak semewah itu. Harganya relatif masih mahal, sekitar 200-300 euro. Maka, ketika mendapati merk Dirt devil seharga 90 euro ini, gua pun sangat amat luar biasa antusias. Nyata dalam bayangan gua bagaiman benda ini bisa menggantikan tugas gua mem-vacuum apartemen di akhir pekan. Baca lebih lanjut

#instaddiction

Sudah bulan Juni, artinya sebulan lalu gw hiatus ngeblog dan blogwalking (kecuali kalo cari resep dihitung BW). Ceritanya sih bulan Mei kami memang lumayan sibuk dengan kedatangan mertua dan adik suami selama seminggu, plus kesibukan pribadi gw dalam pencapaian 3 resolusi 2015. Gitu aja kok sibuk? Ya iyalah, biar kata di rumah doang waktu ini berasa cepet habis terus. Buat nyuapin sama nidurin meisje-H aja tiap hari udah lumayan banyak kepake waktunya. Karena lagi susah makan, tarolah gw perpanjang waktu makan dari 30 jadi 45 menit (dikali 3), ditambah 45 menit kali waktu nidurin (2 tidur siang + sekali tidur malam), sudah habis 4 setengah jam sendiri kaan :)). Kok nidurin aja lama? Karena makin gede jadi makin banyak main-mainnya juga (gulang sana guling sini manjat sana manjat sini -_-).

Suami juga udah maklum kalo pulang-pulang rumah berantakan, secara kalo anak tidur siang gw sih pilih nyantai atau mencicil pencapaian resolusi. Lagian kalo anaknya bangun kan bakal geratakin rumah lagi. Jadi kami emang beberes rumah kalo meisje-H sudah tidur malam atau kalau mau ada tamu. Gw juga lebih milih buat doing the house chores (nyuci, masak dkk) waktu meisje-H bangun biar dikintilin sekalian, kalo anaknya tidur siang bener deh gw pengen santai-santai asik sendiri (baca: pemalas)

*Kemudian jadi curhat yang ibu-ibu sekali… ya dong, kan di blog… yang cakep-cakepnya cukup di instagram aje :)))* Kalo begitu, bisakah IG dibilang pencitraan? Ya bebas aja sih, toh IG (buat gw) socmed untuk upload foto cakep ala-ala, ya mohon maaf aja kalo fotonya gw reka-reka dulu. Misalnya, rumah gw kan gak rapi, tapi ya masa gw mau motret rumah berantakan? Yang difoto ya bagian yang rapi aja dong biar enak dilihat.

Sebagai self proclaimed social media enthusiast, gw juga membedakan mana foto yang gw post di Path (yang mana udah jarang juga), yang mana foto yang post di IG. Gampangnya sih, kalo fotonya (menurut gw) kurang artistik atau lebih spontan, masuknya ke Path. Kalo IG lebih banyak aturannya, dan seringnya kalo gw ada di frame gw kurang puas dengan hasilnya karena yang motret orang (maap ya, terutama Suamiku… :D).

Lebih jauh soal IG, bisa dibilang itulah source hiburan utama gw sejak menjadi SAHM. Awal-awal pindah NL Suami sempat mengusulkan agar gw¬†rajin (minimal teratur, 2 minggu sekali) ngeblog, eh ternyata susah tercapai. Gw malah menemukan keasyikan lain di IG yang sudah cukup lama gw tinggalkan ke Path (dan sekarang kebalik). Iya iya tau kalo kebanyakan buka socmed itu gak baik, toh terkait ini gw kan ada resolusi baca untuk menyeimbangkan ūüėČ Nah tapi buat gw (buat gw loh ya) aktif di IG ini ada manfaatnya, yaitu belajar membuat foto yang lebih baik dari sebelumnya (walaupun hanya dengan HP) dengan nyontek ilmu dari fotonya orang-orang. I adore plenty of IG accounts yang punya feed dengan foto-foto menarik dan satu tone.

IGSnapshot dari private IG gw yang isinya sedang tidak terlalu private

Khusus untuk ‚Äúbelajar‚ÄĚ foto, I have to say a big thanks to UK, di mana gw juga jadi punya komunitas baru yaitu (so far) 25 orang mbak-mbak dan ibu-ibu di penjuru Eropa yang doyan IG (dadah-dadah). Gara-gara UK gw sampai bikin 2 akun IG loh, yang satu kan gw private dan gw seleksi followers-nya terutama karena ada foto-foto meisje-H (yang selain di private IG cuma ada di Path), satunya emang gw buat untuk ikutan UK, kuis, atau jualan.

Trivia: Karena masih banyak yang gak tau, coba saya sampaikan di sini. Kalo account di-private terus mention orang yang gak follow kita, orangnya gak akan nyadar di-mention, apalagi ikut kuis (*)

Hal terakhir yang gw suka dari IG, tentunya…fitur hashtag. Fitur ini memungkinkan kita untuk membuat album foto pribadi yang mudah di-browse, dengan catatan kata-nya unik. Manfaat hashtag yang tak kalah pentingnya adalah kemudahan berbelanja, bisa aja dong¬†nemu barang dengan hashtag yang super detail, contohnya #leggingtutupkaki *apaaa coba :)))*. Memang kalau kalo urusan kreatifitas yang begini, juara banget ya orang Indonesia ūüôā

PS: Seperti biasa, postingan yang tidak konklusif… akibat¬†pengen nulis aja :p

Yang Gak Jadi Diposting di Path

Gw secara umum gak kangen Indonesia, beneran. Ini kemudian akan terdengar sangat jumawa. Tapi beneran, gw merasa semua yang ada di sini jauh lebih dari cukup, senang banget malah.

Makanan? Gw dan Suami Alhamdulillah suka banget makanan bule, dan kategori makanan standar kami adalah grilled chicken breast atau pasta. Mau bikin makanan Indo juga bisa dijabanin di sini, Alhamdulillah. Gak ada yang gak bisa diupayakan.

Keluarga besar? Hmm… kalau buat gw Skype cukup sih. Mudah-mudahan semua sehat selalu yah, Aamiin…

Apalagi sih yang biasanya bikin homesick? *serius mikir*

Jadi tadinya gw mau posting sedikit kalimat curhat berikut di Path, tapi gw batalkan.

Saya gak kangen Indonesia kecuali satu hal. Kalo saya bilang kangen yang lain artinya cuma basabasi *nyebelin :p*.
Saya kangen

Ngantor di Wismul — Lah dari jaman di Balikpapan kangennya sama