Tentang Buku Anak-anak

Postingan ini dibuat dalam rangka World Book Day yang jatuh setiap tanggal 23 April (kecuali di UK dan Irlandia). Deeuh alesan aja sih, soalnya kalo enggak gw gak bakal posting-posting.  Gw mau coba membahas sedikit (atau banyak?) tentang kisah dibalik buku-bukunya meisje-H, me-review beberapa di antaranya yang saat ini menjadi favorit si anak, dan tak lupa favorit emaknya.

IMG_3474

The Beginning
Ada quote yang mengatakan, if you don’t like to read you haven’t found the right book. Kalau menterjemahkan dari quote tersebut, artinya meisje-H pertama kali menemukan “the right book” di usia 7 bulan saat gw belikan touch and feel board book berjudul That’s Not My Kitten (terinspirasi dari buku versi penguin di rumah Tante Intan). Sebelumnya dia punya 2 buah soft books yang rada-rada dicuekin. Lucunya, setelah lewat 1 tahun dia malah tertarik lagi pada kedua buku bayi tersebut.

Current Habit
Sebelum tidur, meisje-H biasa dibacakan kurang lebih 3 buku, termasuk saat traveling. Dalam kesehariannya, pada waktu yang random juga selalu ada saat di mana dia meminta dipangku dan dibacakan buku pilihannya dengan jumlah yang beragam.

The Story Behind Her Books
Beberapa hari yang lalu, gw merapikan ulang pojok bermain meisje-H termasuk rak buku mini-nya. Gw mendapati baik mainan dan buku meisje-H jumlahnya relatif sedikit. Mengenai bukunya yang relatif sedikit (i.e lemari mini-nya masih banyak space kosong), gw cukup concern kemudian berpikir… lebih banyak punya buku itu lebih bagus, gak sih? Baca lebih lanjut

Winter Trip 2014 Part 2: Schwerin – Berlin – Hannover

Day 3: Schwerin – Berlin

Schwerin memang bukan objek wisata yang populer, bahkan seorang teman yang tinggal di Jerman dan hobi traveling pun belum tahu tempat ini waktu gw cerita akan ke Schwerin. Memasukkan Schwerin dalam itinerary pun sebetulnya tidak direncanakan sejak awal. Sebelumnya kami berharap bisa mengunjungi setidaknya satu castle di Jerman liburan ini – walaupun konon kastil-kastil cakep adanya di Jerman Selatan – . Pengennya sih Marienburg Castle di Hannover coret, tapi pas hari kami di Hannover pas tutup libur Natal 😦 Emang bukan traveler sejati sih gw jadi rada sembrono milih tanggal, next time diperbaiki deh :))) Akhirnya coba googling sedikit, gw nemu review 10 most beautiful castles in Germany di mana salah satunya adalah si Schwerin Castle yang KEBETULAN kelewatan di perjalanan Hamburg – Berlin :p YES

Schwerin Castle terletak di danau Schwerin, letak dikelilingi danau ini jugalah yang membuatnya unik – kastil lain mostly di dataran tinggi – dan cantik. Sayangnya langit winter yang sendu dan sedikit gerimis membuat suasananya jadi sedikit dark instead of romantis ala princess (yah walaupun kapan lagi gw pake lippen vampy lips ala-ala kalo bukan winter). Tapi tetep cantik banget kok, kebayang kalau summer pasti lebih cantik. Kalo lihat foto keseluruhan kastil di website-nya cakep banget kan tampak atasnya :). Tiket masuk kastil (museum)-nya 6EUR per orang. Tidak banyak bagian kastil yang dapat dimasuki pengunjung, tapi yah lumayan lah. Kalau cuaca bagus kayaknya lebih asik jalan-jalan di taman kastil dan sekitar danaunya sih.

IMG_6538
Meisje-H at Schwerin Castle

Dari Schwerin kami lanjutkan perjalanan ke Berlin, tepatnya langsung makan siang dan bungkus dinner di Restoran Nusantara. Restoran ini halal, enak (banget!), menunya sangat variatif (dari mie ayam sampai iga), ada musholla, dan relatif murah dibandingkan dengan restoran di Belanda. Bisa dibilang tempat ini salah satu tempat paling berkesan yang kami kunjungi selama liburan ini (sampe dateng 3 kali selama 3 hari di Berlin :D). Malamnya kami tidak kemana-mana, cukuplah kalau bawa baby sehari satu objek dan satu perjalanan panjang. Lokasi hotel di Berlin masih cukup strategis – just across the station – walaupun suasana sekitarannya rada bronx dengan gedung ala film The Raid. Asli gw bersyukur tinggal di Belanda, negara yang jauh lebih kecil jadi lebih teratur.  Baca lebih lanjut

Winter Trip 2014 Part 1: Hamburg

Winter memang tidak senyaman summer untuk berlibur, tapi kalo bisa cuti lumayan panjang rasanya sayang kalo gak dimanfaatkan untuk berlibur. Sayangnya karena sibuk pindahan ke Belanda, gw dan suami belum kepikiran dari jauh-jauh hari untuk winter trip tahun 2014 lalu. Pengennya sih ke Perancis atau negara-negara lain yang lebih selatan supaya lebih “hangat”, tapi kalo ngedadak kan segala tiket udah terlalu mahal. Akhirnya kami putuskan untuk road trip saja ke Jerman bagian utara, relatif dekat untuk dijabanin naik mobil. Kami mengajak serta seorang kolega yang masih single dan dengan semangat malah menawarkan naik mobilnya dengan bensin gratis untuk keperluan pribadi dari kantornya. Kalo gw sih jelas paling seneng karena bisa tongbro buat fotoin sekeluarga, gak perlu tongsis 😛

Ini adalah liburan pertama keluarga kami setelah meisje-H lahir. Tentunya itinerary liburan bersama bayi tidak akan terlalu ambisius ala anak muda. Hotel yang kami pilih di setiap kota adalah IBIS (the basic one, yang logo merah), kriteria pemilihan kami adalah (1) ada parkiran, (2) dekat dengan stasiun/halte, (3) relatif dekat dengan pusat kota. Rata-rata biaya per malamnya adalah 45EUR atau sekitar Rp 700ribu dengan biaya parkir rata-rata 9EUR per malam. Semua sesuai dengan ekspektasi dan harga layaknya IBIS. Rute yang kami pilih adalah Groningen – Hamburg (arah timur), Hamburg – Berlin (arah timur ), Berlin – Hannover (arah barat ), dan kembali ke Groningen (arah barat)

Day 1: Hamburg

Kami berangkat pukul 9 pagi dan sampai tepat jam makan siang di Hamburg, kami makan siang di Back Lava, restoran Turki yang terletak di wilayah Islamic Center Steindamm. Di wilayah ini ada mesjid dan lengkap berjejer aneka restoran halal. Setelah makan kami check in hotel IBIS Hamburg City, istirahat sebentar supaya meisje H bisa guling-guling, kemudian berangkat ke Christmas Market.

IMG_6524IBISnya lumayan kan 🙂 karena ada bayi instead of disediakan cot kami dikasih extra bed

Karena lokasi hotel cukup dekat, kami bisa jalan kaki ke pusat kota. Di itinerary awalnya gw pikir perlu 2 malam untuk mengeksplor beberapa Christmas Market. Surprisingly, beberapa Christmas Market di Hamburg lokasinya sangat berdekatan di pusat kota sehingga malam itu semua sudah kami datangi walaupun tidak benar-benar kami eksplor .Semua market penuh banget, yang terbesar dan ter-ramai ada di City Hall. IMHO sih marketnya biasa aja, kurang lebih sama aja semua yang dijual 😛 Stand paling rame tentunya stand warm alcoholic beverages. Untuk Muslim yang pengen jajan bisa beli fish sandwich, fried mushroom, atau semacam kue bantal yang ditaburi gula bubuk. Sebetulnya sih cakep marketnya buat difoto, tapi ga ketangkep cakepnya sama kamera HP. Tsk.

Day 2: Hamburg

Sesuai itinerary, paginya kami berangkat ke Miniatur Wunderland, di website kita bisa booking jam kedatangannya (jam pulang bebas, tapi jam kedatangan ditentukan). Harga tiket dewasa adalah 12EUR per orang. Cuaca hari itu lumayan, lumayan jelek T_T. Hujan yang cukup deras tapi masih bisa diterobos buat jalan kaki walaupun kalo begini di Indonesia gw sih ogah jalan dari hotel. Lucky us datang cukup pagi, makin siang makin ramai padahal tempatnya tidak terlalu besar. Miniatur Wunderland adalah semacam pameran dari model-moder miniatur tempat-tempat yang ada di dunia. Ukurannya menyerupai maket, tetapi lebih detail karena dilengkapi dengan motor penggerak untuk kendaraan, lampu-lampu interaktif, dan  scene miniatur manusia yang sedang beraktifitas.

IMG_6522Berlin Wall Demolition

Sebelum masuk ke exhibition utama, kita disuguhi dengan miniatur sejarah Jerman yang berupa lokasi yang sama dengan perbedaan kondisi dari masa ke masa. Yang sedang dipamerkan di exhibition utama saat kami datang adalah penugungan di Swiss, Bavaria, Middle Germany, America, perairan Scandinavia, Austria, dan yang paling menarik buat gw adalah Knuffingen Airport. Airport mini ini dilengkapi dengan jadwal penerbangan pesawat di mana pesawat-pesawat mini-nya betul-betul “diterbangkan” sesuai jadwal. Penerangan ruangan di Miniatur Wunderland juga diatur sedemikian rupa sehingga kita dapat merasakan suasana siang dan malam.

IMG_6523Knuffingen Airport, kurang lucu sih kalo begini tapi aku malas upload video :)))

IMG_6525North Sea, lengkap dengan air betulan

Menurut leaflet yang gw baca, Miniatur Wunderland dibuat mainly dari imajinasi creators-nya. Miniatur memang terinspirasi dari lokasi sebenarnya tetapi tidak dibuat sebagai replika yang persis. Overall tempat ini recommended buat dikunjungi kalo ke Hamburg, terutama untuk laki-laki usia TK sampai bapak-bapak, arsitek dan sebangsanya, atau perempuan yang mengapresiasi LEGO (aku, aku :))))

Setelah puas selama 2 jam di exhibition, kami ngopi sebentar sambil menunggu hujan reda di Speicherstadt Kaffeerösterei, tepat di sebelah Miniatur Wunderland. Tempat ini semacam Kopi Aroma di Bandung yang lengkap dengan tempat penggilingan kopi rumahan-nya. Tentu kami tidak lupa dengan meisje-H yang punya kebutuhan berguling-guling, sehingga setelahnya kami kembali ke Hotel untuk istirahat sebelum late lunch. Di itinerary awal, kami berencana untuk makan siang di Restoran Indo ‘Cita Rasa’ di wilayah Islamic Center. Ternyata karena terlalu sore makanannya sudah habis, kecewa tapi no worries karena di sepanjang jalan ada restoran halal dan kami pun memilih LADES, sekalian take away untuk makan malamnya. Sore yang gelap karena winter itu pun kami habiskan kembali dengan berjalan-jalan di kota. Blok-blok jalan di Hamburg yang lumayan besar dan modern lebih mengingatkan gw pada settingan film-film US, pusat kotanya tidak seklasik Eropa dalam benak gw secara umum. Sayangnya Europa Passage si mall besar yang katanya paling OK rasanya kurang lebih aja sama mall di Balikpapan 😀

IMG_6526Hamburg yang buat gw kota banget

Next: Schwerin – Berlin – Hannover

Driving (and Buying) a Car in The Netherlands: The Good, The Bad and The Ugly

HW WM
Highway di Belanda – image courtesy of our friend

Belanda adalah negara yang budaya bersepedanya infamous. Menurut informasi yang gua ga bisa rujuk dengan baik, ada lebih banyak sepeda dibandingkan dengan manusia di Belanda ini. Selain bersepeda, public transportation juga sangat memadai. Di kota besar seperti Amsterdam berbagai sarana transportasi seperti trem, bus, metro, dan kereta tersedia untuk mejangkau segala sudut kota. Di Groningen yang merupakan ujungnya Belanda, bus pun tersedia, tapi Groningen tidak sebesar itu dan sangat terjangkau dengan menggunakan sepeda. Di awal-awal kepindahan gua di Belanda, gua menggunakan kereta untuk commuting dari tempat tingal ke kantor di Assen. It works just fine. Kalau gua ingin ke kota, gua bisa berjalan kaki sekitar 1.5 km (20-25 menit). Namun demikian, tentunya memiliki mobil mempermudah banyak hal terutama dengan adanya bayi tidak terlalu kecil di rumah tangga gua. Kebetulan, di kantor pusat ada rekan yang menjual mobil yang cukup bagus dengan harga yang reasonable. Oleh karena itu, sekitar sebulan setelah kedatangan gua di negara ini, gua putuskan untuk membeli mobil.

Membeli mobil di Belanda bukanlah sesuatu yang sulit. Tidak ada larangan untuk warga negara asing untuk membeli mobil. Dokumen yang dibutuhkan dari sisi pembeli hanya paspor, SIM (tidak perlu SIM belanda atau pun sim internasional, kecuali SIMnya tertulis dalam huruf non latin), residence card dan surat keterangan tinggal dari Gemeente (dengan no. BSN tertera) tempat kita terdaftar sebagai warga. Dari sisi penjual, mereka perlu menyiapkan certificate of ownership dan transfer certificate. Kemudian, karena gua dan penjual adalah warga asing, kita perlu melakukan serah terima di kantor RDW. Jikalau pembeli dan penjual adalah warga Belanda, mereka bisa melakukan serah terima di kantor pos. Setelah melakukan serah terima, pembeli yang telah menjadi pemilik mobil wajib memenuhi kewajibannya sebagai pemilik mobil: membayar pajak jalan (bisa tahunan atau quarterly), memiliki asuransi mobil, dan tentunya mengisi bensin supaya mobilnya bisa jalan.  Dalam beberapa hari RDW akan mengirimkan kartu Kentekenbewijs (STNK) yang bentuknya mirip dengan kartu kredit.

kentekenbewijs-415x260
Kentekenbewijs, STNK Belanda (image from here)

Tentunya menyetir di Belanda harus dengan menggunakan SIM atau rijbewijs. Sebagai informasi, SIM Indonesia berlaku di Belanda selama 6 bulan sejak kedatangan. SIM Internasioanal yang diterbitkan di Indonesia tidak memiliki kekuatan hukum tanpa SIM aslinya karena hanya dianggap sebagai terjemahan dari SIM asli. Banyak yang tidak mengetahui hal ini dan menyangka bahwa SIM internasional yang diterbitkan di Indonesia memang diperlukan dan berlaku sampai 1 tahun. Tentunya saya tidak bertanggungjawab atas info ini dan kalau tidak percaya atauapun kalau percaya silakan ditanyakan sendiri ke pihak berwenang. Gua pindah ke Belanda dengan status sebagai kennismigrant  dan dengan skema “30 percent ruling”. Salah satu keuntungan dari skema tersebut adalah bolehnya menukar SIM tanpa melalui tes. Prosedur penukaran SIM juga cukup mudah. Dokumen yang dibutuhkan adalah SIM lama, paspor, residence card, 30 percent ruling letter dari departemen pajak, pas foto dan health declaration yang bisa diisi online di cbr.nl. Lead time proses penukaran adalah sekitar 4 minggu (tapi gua cuma dalam 2 minggu saja!) dan biaya sekitar 38 euro, gua lupa pastinya. Permintaan penukaran dan pengambilan SIM bisa dilakukan di kantor gemeente. Penukaran bisa dilakukan dengan membuat appointment, sedangkan pengambilan tidak memerlukan appointment. Untuk pas foto, gua sempat membawa foto dari Indonesia yang tidak memenuhi syarat. Di dekat Gemeente Groningen tentunya ada studio foto instan yang sudah mengetahui secara pasti persyaratan foto untuk SIM. Rijbewijs yang gua dapatkan adalah penukaran, yang berarti SIM Indonesia gua dikembalikan ke pihak yang berwenang. Sampai detik tulisan ini dibuat, gua belum berhasil menyelamatkan SIM Indonesia. Disinyalir gua mungkin bisa menyelematkannya dalam 2 bulan ke depan.

Baca lebih lanjut

Balikpapan Memang

Kalo di Indonesia (ok, di Jawa deh) kita umumnya mendengar kata memang sebelum kata sifat atau kata benda sebagai bentuk penegasan (contoh: “memang enak”, atau “memang dia, orangnya”), di Balikpapan orang menggunakan kata memang di belakang kata yang ditegaskan (contoh: “enak memang”). Hal inilah yang (mungkin) memunculkan istilah ‘Balikpapan memang’ di kalangan teman-teman seperantauan di mana lebih sering terdengar seperti keluhan ala-ala sigh-exhales di telinga gw 😛

IMG_3645 2Foto terakhir sebelum meninggalkan komplek di Balikpapan

Balikpapan adalah kota ter-modern di Kalimantan (kata orang kantor yang udah pernah keliling Kalimantan ya), jadi banyak yang bilang walaupun Samarinda lah ibukota Kalimantan Timur tapi Balikpapan adalah ibukota pulau Kalimantan. Dari hasil penerawangan gw berkunjung ke beberapa ibukota selama ini (Medan, Pekanbaru, Makassar, Kupang, Pontianak, Bandar Lampung, Mataram, Denpasar, dan yang lainnya di Jawa) gw bahkan simpulkan bahwa Balikpapan ini kota “termaju” di luar Jawa setelah Denpasar (jangan tanya), dan Medan. Well, mungkin Makassar atau Pekanbaru lebih ‘lengkap’ dan luas sih, tapi penataan kota Balikpapan yang sangat rapi bikin (IMHO) Balikpapan selangkah lebih maju. Baca lebih lanjut

UK Trip 2013: Part 3, Edinburgh – London – Indonesia

Sebenernya gw lelah dengan postingan back date perihal ke UK ini, tapi karena udah tanggung dibuat part 1 dan 2 jadi marilah dilanjut ke part 3.
– diketik setahun setelah perjalanan –

Kamis, 14 Nov 2013
Hari pertama di Edinburgh, dan bener kata Pak Suami sebelumnya, orang Scotland itu memang lebih hangat 🙂 Karena karakter traveling kami santai dan ga maksa ngunjungin banyak tempat dalam satu hari, jadi kami ga terlalu nggragas kesana kemari. Lagian Edinburgh ini tengok kanan kiri doing aja indah banget, landscape-nya luaaar biasa (MasyaAllah!).

Mound

Edin

Destinasi pertama kami adalah National Museum of Scotland setelah sarapan di Aroma Cafe- Mosque Kitchen (bukan yang resto gedenya, tapi café kecil yang ada di lantai dasar Edinburgh Central Mosque). Do try their salmon-omelets toast deh buat sarapan. Museum-nya sangat menarik, yang ditampilin mulai dari sejarah Scotland, science & technology section yang banyak permainan interaktifnya, world cultures, dan aneka satwa.

Dari museum mau lanjut ke Edinburgh castle, tapi lagi rame banget jadi kami gak masuk trus lanjut menikmati kota. Untuk makan siang, gw udah kangen makanan Asia jadi kami ke Nanyang, halal Malaysian resto. Setelah kenyang makan dan jalan-jalan kami pun kembali ke hotel karena besoknya harus siap-siap berangkat wisudaan ke kampus di Edinburgh coret yang ga pernah muncul lokasinya di Path.

Jumat, 15 Nov 2013
Hubby’s Master graduation day, yay! Kalo ga ada acara ini belum tentu kan kami ke UK :p Gw sempet ga pede “cuma” pakai tenun outer-nya Cotton Ink yang terbilang semi-formal, ga bawa lenongan pula. Ternyata ya di sini mah wisuda santai aja gak rempong bajunya dan full make up, mana kan lagi winter. Pragmatis, aku suka 🙂

Kampus HW juga cantik (atau mungkin semua kampus di sini cantik?), lengkap dengan taman hijau dan kolamnya. Selepas wisuda kami makan siang fish and chips di kantin kampus. Enaklah tentunya (ikan sama kentang digoreng, gitu?), tapi belakangan gw baru tau kalo banyak resep fish and chips yang beer battered, mudah-mudahan yang banyak dijual enggak ya.

Sabtu, 16 Nov 2013
Kami brunch Mosque Kitchen sebelum berangkat balik ke London. Hari ini praktis ga banyak yang dilakuin karena perjalanan naik kereta sendiri memakan waktu 5 jam, sampai London keburu cape. Bungkus KFC halal trus cus istirahat di Easy Hotel yang sama dengan sebelumnya.

Minggu, 17 Nov 2013
Hari terakhir liburan T_T hiks, yang malah digunakan untuk ke Nike Town buat beli Fuelband :)) Selebihnya kami habiskan hari dengan jalan-jalan santai ala bumil ke Buckingham Palace dan taman-taman sekitarnya. Enak bener di taman dingin-dingin jajan waffle panas dengan Nutella. Alhamdulillah gini ‘doang’ juga gwnya seneng banget.

BuckinghamBuckingham Palace (yang rame amat sama orang foto sih?)

Senin, 18 Nov 2013 – Selasa, 19 Nov 2013
Bersiap pulang! Perjalanan masih panjang, Sis! London – Abu Dhabi – Jakarta – Balikpapan.

Pas mendarat di Balikpapan keesokan malamnya gw mendapati mata ini agak basah (blame the hormone, gitu? :P) membayangkan harus kembali (atau memulai, lebih tepatnya) hidup di pulau Borneo. Petualangan baru akan segera dimulai!

UK Trip 2013: Part 2, Liverpool-Manchester

Minggu, 10 Nov 2013
Setelah nyempetin jalan-jalan dikit lihat Big Ben & London Eye (titip koper besar dulu di Euston station), jam 11 kami sudah harus jalan ke Liverpool. Ini gak tau suami yang salah pesen atau gimana (tapi menurut katanya harganya kok kayak reguler), kita dapet 1st class di Virgin Train *joget-joget*.

Jadwal kereta UK bisa dicek di webnya Nationalrail, nanti beli tiketnya bisa langsung atau meluncur ke web penyedia jasa kereta yang dipilih. Untuk harga sih emang tergantung season dan kapan ordernya. “Check-in” di stasiun pun canggih sangat dan buat gw yang ndeso ini cukup heboh, tinggal gesek CC yang dipakai untuk transaksi online sebagai verifikasi di mesin tiket, keluar deh tiketnya. HUWOW.

Landscape
Landscape di perjalanan London-Liverpool

Perjalanan London-Liverpool ini sekitar 3.5 jam, kami sampai di Lime Street station sekitar pukul 13.30 pas ada Veteran parade lewat. Karena udah teramat lapar, kami late lunch dulu di Halal Nando’s yang cuma sekali koprol dari stasiun. Setelah makan kami lanjut  jalan untuk istirahat di hotel.

 #Review: Alhamdulillah Z Hotel adalah hotel paling OK dan (surprisingly) ekonomis murah sepanjang UK Trip ini. Sumonggo dicekidot Z Hotel Liverpool, totally recommended. 2 malam ‘cuma’ GBP 75, atau sekitar 700ribu semalam dengan lokasi yang strategis. Kamarnya kecil aja, tapi sangat layak dibandingkan value hotel di Indonesia (macam F*ve, misalnya), apalagi dibandingin Easy Hotel London.

Karena si emak-emak rempong ini kecapean dan pengen balas dendam hotel abal-abal di London, sampe malam kami cuma ndusel dan nonton Friends di TV Kabel. Jam 8 malam baru keluar lagi lihat-lihat Liverpool di malam hari sambil cari makan. Sepi banget ternyata padahal belum terlalu malam, kalo menurut suami sih orang lokal jam segitu udah nongkrong di bar. Balik makan kami malah kena insiden, insulted by a group of drunk young men yang ngusir-ngusir dan teriak-teriakin gw, kirain karena pake jilbab… tapi kayaknya racism deh, simply because we’re not Caucasian, soalnya abis itu ada Chinese malang yang digangguin juga 😦  Ya sebenernya selalu ada sisi rasis dalam diri manusia kan ya? Karena sober ya hari-hari gak dikeluarin, cuma ngomongin di belakang. Giliran mabuks keluar deh semuaaa… Pelajaran buat besok ga mau kelayapan di atas jam 7 malam (kecuali rame-rame) deh.

Senin, 11 Nov 2013
Jadwal hari ini main ke Anfield nemenin Pak Suami sang Liverpudlian yang udah pernah ke sana tapi gak pake tour waktu itu, jadilah kita ambil paket Stadium Tour & Liverpool FC story. Harganya bisa dilihat di sini. Untuk jalan-jalan di Liverpool, naik dan mempelajari rute bus-nya juga gampang banget kok. Gw udah heboh sendiri ada Gerrard, yang ternyata tour guide-nya yang (menurut gw doang) miriiiiip bingit Stevie G. Sepanjang tour ada beberapa trivia quiz dan suami ini bisa jawab sebagian besar, sayang ga dapat hadiah. Tour-nya terdiri dari historical tour, keliling ruangan inti kayak conference room & ruang ganti pemain, masuk stadium-nya, dan terakhir self tour di museum.

Anfield
Ternyata Anfield itu termasuk ciliiiik

Pulang dari Anfield, kami ke Nando’s lagi (kapan lagi ada Nando’s halal? Bumil doyan) Belajar dari malam sebelumnya, kami dari sore ke maghrib kami cuma keliling sekitaran kota dan pelabuhan aja sambil nyari makan buat dibungkus dan dimakan di hotel.

Selasa, 12 Nov 2013
Waktunya ke Manchester, kali ini naik bis aja karena deket. Langsung go show ke terminal bus terdekat dari hotel dan beli daily ticket di sana (@ GBP 15), harga bisa dicek di  web National Express. Deket banget kok ke Manchester, cuma 55 menit perjalanan. Dari perbandingan gw terhadap 2 kota sebelumnya, untuk tinggal sih gw prefer Manchester, cukup ramai tapi gak terlalu sibuk. Mungkin karena kota pelajar ya, kalo London terlalu rame dan ritmenya terlalu cepat (khas ibukota), sementara Liverpool terlalu kecil dan sepi. Suami sih paling suka Edinburgh karena orang-orangnya paling baik (OK kita lihat saja nanti).  Ini apa sik, emang sapa juga yang mau tinggal yak?

#Review: Untuk Manchester dan Edinburgh pilihan kami jatuh ke Travelodge hotel, salah satu hotel chain yang terbilang ekonomis di UK. Menurut gw Travelodge ini recommended buat turis ekonomis yang mau bawa anak, karena kamarnya luas, sangat layak 🙂 Untuk Manchester kami pilih branch yang Central Arena karena pas booking paling murah 😛 agak jauh dikiiiit jalannya, olahraga lah. Tarifnya semalam sekitar GBP 40-an.

Di hari perjalanan biasanya kami ‘gak kemana-mana’, lebih ke karena kondisi gw yang lagi-gampang-capek-dan-ngantukan. Untuk dinner kami janjian sama teman kuliah Pak Suami yang lagi S2 di Manchester beserta keluarganya di My Lahore, restoran Pakistan. Entah kenapa gw yang gak cocok sama masakan Hindi-Timur Tengah cukup nyambung sama yang satu ini. Suasananya juga cukup hangat, menurut teman Pak Suami, di sini setidaknya bisa dapet suasana restoran di Asia yang ‘dilayani’.

Rabu, 13 Nov 2013
Kalau 2 hari yang lalu sudah ke Anfield, hari ini waktunya ke Etihad. Horeh! Tapi sebagai premature fan (yang baru jadi Citizen aja setelah that glory against MU 6-1 2 musim yang lalu) gw cukup tau diri untuk ga ambil tur. Jadi ke Etihad-nya beneran cuma keliling-keliling, foto-foto, dan ke merchandise store (tanpa beli apa-apa :P).

Etihad
Etihad Stadium

Di Manchester ini kami emang cuma niat sehari semalam, untuk sekedar ‘tau’ dan gw pengen mampir di Etihad. Kalo untuk wisata emang masih bagusan Liverpool kok, beda kan preferensi menetap (yang tadi gw bilang Manchester) dan wisata. Jadi siangnya kami sudah harus lanjut naik kereta ke Edinburgh. Sebelum ke Picaddily Station kami mampir dulu di tempat breakfast & brunch halal Manchester, Chai Latte. Cukup OK 🙂

Perjalanan dari Manchester ke Edinburgh sendiri cukup panjang, 4.5 jam. Dan ternyata Travelodge Hotel yang kami pilih (Central) lumayan jauh dari Waverley station *phew* Kalo mau yang lebih deket stasiun mungkin bisa pilih yang Rose Street, tapi secara bangunan yang Central ini sepertinya yang paling bagus di Edin.

UK Trip 2013: Part 1, Indonesia-London

Bisa dibilang trip ini adalah salah satu rencana jangka pendek yang paling ditunggu setelah nikah, namapun sekalian bulan madu yah. Eh kenapa ‘sekalian’ bulan madu bukan bulan madu ‘ajah’? Karena sebetulnya agenda utamanya adalah wisudaan S2 suami. Ya sebenernya pada kenyataannya jadi lebih penting jalan-jalannya sih, tapi kan kalo ga ada si wisudaan ini kepikiran ga kita jauh-jauh ke UK buat bulan madu thok? Kayaknya ga yaaa 😛

Kamis, 8 Nov 2013
Kami berangkat dari rumah Balikpapan tepat habis Maghrib, siangnya masih sempet kerja dulu biar cutinya gak nambah. Total cuti yang diambil 8 – 19 November itu jadi 8 hari. Berangkat ke Cengkareng naik Garuda yang dirasa paling aman perbagasiannya untuk ngejer flight Etihad jam 01.45 dini harinya. Untuk tiket Etihad, Alhamdulillah dapat harga yang cukup ekonomis untuk ukuran ke UK, USD 819.5 per orang termasuk pajak dll atau dengan kurs 11 sekian ribu saat itu sekitar IDR 9sekian mio yah. Dibanding maskapai Arab kayak Qatar atau Emirates lebih murah sih, tapi jadi ga bisa lihat Dubai Airport deh.

Jumat, 8 Nov 2013
01.45 dini hari cuss naik Etihad. Enaknya naik pesawat bangsa Arab ini sih buat gw karena sugestinya menenangkan, ada doa perjalanannya dan insyaAllah makanannya halal. Flight ke Abu Dhabi itu sekitar 8 jam, dan karena ke arah barat pas banget dipake buat tidur. Kami mendarat untuk transit di AUH jam 7 pagi GMT+4 dan lanjut pindah pesawat menuju Heathrow. Dan pas turun gw baru sadar pas naik bis kalo Etihad yang barusan dinaikin itu pesawat biru-nya Manchester City. Ga sempet foto T____T #PentingLAH, soalnya pesawat lainnya Etihad reguler aja, belum tentu gw bakal naik pesawat biru itu lagi.

08.30 (GMT+4) pesawat berangkat dari AUH menuju LHR. Terboro-boro sempet celingak-celinguk pas transit deh, buru-buru banget. Pak Suami sih ngingetin buat nyempetin ke toiletnya karena bakal kangen sama toilet ber-hand shower di UK nanti #okesip. Btw Alhamdulillah banget buat travel wallet KS hijau gonjrengnya hadiah farewell dari temen2 HQ yang membantu banget nyimpen dokumen perjalanan, dan kartu kredit dalam satu tempat yang gampang ditemuin saking gonjrengnya.

12.25 (GMT, dan udah lewat DST :P) kami mendarat di Heathrow London after another 8 hours of flight. Alhamdulillah 18 jam (termasuk dari BPN) gak pake mabok-mabok walopun dengan kondisi diriku yang baru :D. Setelah sholat, jajan dikit, dan beli kartu perdana Three kamipun cuss ke penginapan pake Underground (nama MRT/Tube-nya London). Bonus sore ini: hujan khas London, yuk mari kita geret koper ke hotel dari stasiun hujan-hujanan.

#Review — Si Easy Hotel Kensington ini udah yang paling murah dan strategislah kami dapat di London. Sekitar 500m aja jalan dari Earl’s Court Station yang ada di Piccadilly Line, satu line dengan Heathrow airport, plus jalur tube ini gampang banget buat ‘jalan’ ke pusat kota London. Kalo keluar hotel, tampaklah hotel-hotel kece sekelas Mercure dan Marriot. Mantap kan lokasinya? 😀 Hotelnya? Jangan tanya. Merki bin medit, mau nyalain tipi aja nyewa remote-nya 5 GBP sendiri sehari (ape? 90 rebu? Thanks but no thanks). Kebetulan lagi akhir tahun ratenya tinggi ajah, sekitar GBP 60 per malam. Kalo gw cek barusan untuk rate Januari 2014 sekitar 35 aja, tapi di awal tahun aja cek rate November 2014 udah lebih tinggi dari Januarinya. Kamarnya? Tanpa jendela (yang berjendela lebih mehel), di basement, ukuran 2.5mX2.5m Cuma ada lubang udara, kasur tipiiiis untuk berdua, dua bantal super tipis, dan toilet yang di pintunya bertuliskan a tiny loo (bener2 imuuut!). Space buat sholat aja mepet sama tempat naro koper, kalo mau berjamaah gw harus sholat di atas kasur.

Buat yang mau ke London + ngirit + pengen lokasi stategis + ga bawa anak + ga pengen di hostel yang nyampur orang (private bathroom pula) + banyak tempat makan di sekitaran, sih menurut gw (dengan berat hati :P) hotel ini good deal 🙂 Saking padatnya ini kamar gw ga punya posisi yang pas buat motret kondisi kamarnya secara keseluruhan. Foto di bawah diambil dari web-nya Easy Hotel, paling mendekati layout dan ukuran kamar kami.

easyHotel_Ken03Image from Easyhotel.com, di gambar masi tampak ‘gede’-an

Habis sholat Magrib-Isya kami langsung tepar jet lag, kebangun tengah malem dan harus menunggu pagi dengan laparnya. 😛

Sabtu, 9 Nov 2013
Jam 6 pagi (di suhu sekitar 8 derajat gitu?) dua manusia kelaparan udah keluar hotel ke Sainsbury (semacam supermarket) terdekat buat sarapan. Yah, sarapan pun apa sih, sandwich dingin telur (agar supaya halal) sama smoothies. Gw yang ndeso ini ga doyan lah jelas, sarapan di tempat dingin kok yang dingin. Akhirnya melipir lagi ke Starbucks dekat stasiun untuk beli hot tuna sandwich sama hot drinks.

Beres sarapan, kami jalan sekitar 2km ke Kensington garden berhubung si istri belum pernah ke taman di Eropa yang ada di pelem-pelem. Gempor juga pemirsa dingin-dingin jalan pake flat shoes tipis (alasan buat merajuk beli boots! :P) Di sini gak di taman, gak di jalan banyak banget orang yang lari dengan pace yang serius (even in this kind of weather?!), Indonesia telat banget yaaah. Rencana lari di tiap kota UK buat marking Nike+ tinggal rencana karena adanya amanah lain (tapi kenapa suami jadi ikut2an ga lari dengan alasan dingin yah?).

UK1(1),(2) Kensington Garden di awan mendung, (3) Big Ben di pagi yang cerah

Hari bersih pertama di London ini kami lanjutkan dengan… berbelanja! *memalukan*. Ya mau gimana ya, perlengkapan winter kami GJ betul, asli minimal butuh tambahn sarung tangan (and a pair of boots, please?) sih. Jadilah kami berangkat ke Piccadilly Circus, jalan panjang kawasan pertokoan yang di hari Sabtu itu cukup rame banget (semacam Orchad mungkin). Cuma 2 stasiun aja dari si taman. See? Strategis banget kan sang hotel? Piccadilly Circus ini juga nongol di Harry Potter & The Deathly Hallows, tempat Hermione bawa kabur Harry-Ron dari pesta-nya Bill & Fleur yang mendadak diserang Death Eaters. Semua adalah di sana, mulai dari toko/merk pasaran UK macam Topshop, Primark, Clarks (saya, saya beli boots murah!) sampai merk pasaran lainnya ada di sana. Bapak Negara sih paling heboh ke Nike Town ya tentu, eye-ing on Nike Fuel Band baru (katanya) biar istrinya terpacu untuk bergerak dan ga bermalas-malasan dengan alasan hormonal. Ha!

After several hours jalan-jalan, makan siang (baked potato something yang halal kata mbak-nya), cari masjid, dan jalan-jalan lagi, jet lag pun masih melanda jadi kami pulang ke hotel. Mampir dulu di (halal!) KFC seberang Earl’s Court station deket Easy Hotel (another plus point buat hotelnya) buat beli makan malam.

Besoknya kami sudah harus pindah ke Liverpool, karena keretanya cukup siang, Minggu pagi masih sempat ke tempat wajib macam Big Ben 🙂

uk5(1)Piccadilly Circus – (2) Harry-Hermione-Ron at Piccadilly Circus , image rom wired.com

Review Vendor Resepsi

Semoga review ini bisa menjadi referensi untuk yang akan mengadakan resepsi pernikahan di Bandung, karena gw cukup kesulitan mencari review dahulu kala.

Dari banyaknya vendor yang terlibat, tentu ga semua performance-nya oke buat gw. Tapi gw sih puas banget (Alhamdulillah) dengan acara secara keseluruhan. Maka dari itu gak semua vendor direview nih, cukup yang skala memuaskannya layak gw review sebagai tanda terima kasih tambahan (selain bayar :P), mudah-mudahan makin sukses dan makin banyak yang make 😀

Dan yang ter-review adalah… WO (Kinanti), Catering (Yufeto), Dekorasi (Diellabirra) & Make Up (Lia Sanggar Rias)

Wedding Organizer: Kinanti
CP: Teh Cussi
Pros: Sigap, detail, kooperatif, tim-nya solid.

Gw ga ambil full package, cuma Hari-H (bonus lamaran karena deal pas pameran – Nah, deal-dealan pas pameran dengan vendor juga membawa banyak manfaat diskon). Sebagai klien yang pertama deal untuk tanggal pernikahan gw, Teh Cussi (1st lady-nya Kinanti) langsung terjun ke acara gw walaupun di waktu yang sama ada dua pernikahan sekaligus. Kinanti punya relasi yang baik dengan vendor-vendor lain yang berkualitas (kalo bagus ya bilang bagus, kurang ya bilang kurang bagus) jadi rekomendasinya terpercaya.
IMO fungsi utama WO adalah mengkoordinir vendor (ada semacam rakor H-sekian), mengkoordir saat acara, sekaligus flow & time keeper…and they nailed it. Semua bisa tepat waktu dan lancar – ya sampe gw disuapin pas dandan gitu 😀 -. Kalo ada yang bilang “Ya kan emang itu kerjaan WO…”, ya gak semua WO beres juga yaa… pernah kejadian gw dateng ke kawinan yang ngaret 30++ menit penganten belum kelihatan (padahal ada di ruangan sebelah aja) padahal tamu udah ngantri mengular mau salaman. *Lempar high heels*. Memang WO ga wajib ada, tapi dengan adanya WO (kalo mau pake), panitia keluarga bisa fokeeuss di menjamu tamu dan menikmati acara tanpa pusing-pusing “Habis ini acaranya apa yak?”

Catering: Yufeto
CP: Mas Tony
Pros: makanannya enak-enak, serius di quality control

Jujur gw baru aja tau ada yang namanya Yufeto pas lagi cari vendor, sebelumnya gw belum pernah ke kawinan yang cateringnya Yufeto. Tau sendiri kan bisnis catering kawinan di Bandung itu lagi itu lagi, ada market leader-nya 😀 Pertama icip Yufeto di kawinan temen yang akhirnya menjadi reference, tapi gw cuma nyoba sup-nya aja karena buru-buru mau pergi lagi. Gw percaya aja dengan rekomendasi sepupu Mas yang jago masak dan nyoba macem-macem di kawinannya temen itu, plus sebagai bences internet gw merasa website-nya sangat meyakinkan. Waktu lamaran gw udah pake jasa Yufeto untuk trial dan enak semua, makin yakin deh.
Hokinya gw masih dapet harga 2012 karena udah booking sebelum 2013 harga naik (kayak beli apartemen aja bu)
Fun fact: Yufeto ini diambil dari nama 3 anak Ibu pemiliknya: Yukie (yang ternyata Yuki PAS Band), Fery (yang ternyata Kak Fery ME, presenter Tralala Trilili ituuu), dan Tony (pernah jadi chef di Auckland, dan jadi pengelola Yufeto saat ini).
Kenapa gw bilang Yufeto serius di quality control?
Pertama, Mas Tony sang bos besar selalu datang untuk supervise acara sekecil apapun itu (lamaran gw, misalnya). Kedua, kalau ada klien yang memesan porsi lebih dari 2000pax, Yufeto tidak akan menerima klien lain di waktu yang sama. Ketiga, Ibu 1st lady pemilik Yufeto turun tangan langsung sebelum resepsi berjalan untuk icip-icip rasa setiap stall. Keempat (ini claim mereka sih), untuk menu-menu tradisional mereka sub-con kan ke orang yang asli dari sana biar rasanya original, contoh pempek Palembang & empal gentong Cirebon.

Favorite menu: Gindara & salmon batayaki (ikan gindara + tumis sayuran ala jepang / yasai itame + nasi jepang ceplok)

Dekorasi: Diellabirra (yang sampe sekarang gw bingung nulisnya gimana)
CP: Tante Ella
Pros: detail/perfeksionis, sigap, good taste

Setiap catering pasti sudah menyediakan dekor standar, termasuk Yufeto. Tapi kalo ga akan dipake biasanya akan dapat sejumlah uang yang dikembalikan. Nah, untuk dekor gw pilih Diellabirra yang sudah direkomen banyak orang. Too bad ga ada web/fb-nya ya, tapi gitu aja word of mouth-nya jalan banget.
Tante Ella ini nyeni banget dan taste-nya elegan, bisa dilihat dari cara dia mendekor dan me-layout rumahnya yang asri di kawasan Cigadung waktu meeting pertama. Kesigapannya terlihat di sekitar H-3, gw confirm lagi tentang detail desain yang akan dipake di pelaminan dan ada yang missed. Gw udah cemas kan, tapi pas hari H ternyata semua yang gw revisikan terwujud. Ke-perferksionisan-nya terlihat dari saat inspeksi di pagi hari, ada cat yang luntur dikit aja di pojokan langsung manggil tukang buat cat ulang.

Untuk selanjutnya, I’ll let pictures do the talking… (tanpa editing)

photo-4(1) Dekor lokasi akad, (2) Big picture Gedung Graha Batununggal Indah setelah dekor, (3) Pelaminan (kata tantenya) nuansa Maroko, biasanya untuk Muslim modern, (4) Lorong tamu menuju pelaminan, (5) Flowery free photo booth (gak pake juru foto), (6) Hiasan foto masa kecil depan photo booth, tepatnya koridor sebelum masuk gedung.

Info tambahan, Graha Batununggal Indah ini lebih luas dari Pusdai dengan harga yang slightly cheaper. Lokasi memang lebih Bandung coret, tapi bisa jadi alternatif pilihan untuk resepsi dengan undangan > 2000 orang, terutama yang separo tamunya dari Jakarta karena bisa langsung keluar Tol Buah Batu (ga usah khawatir 4 in 1 atau macet di Pasteur)

Make Up Artist: Lia Sanggar Rias

Baca lebih lanjut