Welcoming Banana: Part 2

We were allowed to go home in the evening after I delivered Banana in the morning. My case was considered long because I had to wait for the blood test result in the afternoon. I heard that some of my friends only spent 3-4 hours in the hospital. In Netherlands, pregnancy and birth are considered natural and need very little medical interventions (if not necessary). However, it doesn’t mean that they neglect the newborn babies and the mothers. That’s why they have “kraamzorg”, a postnatal care service for 8 days after labor. It’s a government program paid by the health insurance and run by private institutions. Moreover, a midwife also came to our house three times to check our condition.

Processed with VSCO with hb1 preset

Our kraamzorg with the girls

Our kraamzorg, let’s call her B, helped us taking care of Banana, “reminded” us how to bath her, monitored her growth, and helped me with breastfeeding. She also did some baby-unrelated stuff like cleaning the house, playing with Meisje-H, and kept telling me to get some rest while she’s around. Husband was a bit uncomfortable when once she did the laundry for his clothes; hence he did all the laundry in the end :p. I guess every mom will say the same about their kraamzorg, but I still want to say it.”B was the best!”. We’re so grateful to have her, and the timing was perfect because my parents came exactly the day after her last day. Baca lebih lanjut

Mommy’s Side: The Sleep Training Story

Sebelum menginjak usia 6 bulan, meisje-H adalah seorang ‘penidur yang baik’ (apa dong good sleeper dalam bahasa Indonesia?). Dia bisa ditidurkan di crib-nya setelah menyusu sekitar jam 8-9 malam, dibangunkan/terbangun sekitar pukul 11-12 malam, kemudian bangun lagi pukul 4 pagi, dan terakhir betul-betul bangun jam 7 pagi. Tidur siang-nya sampai 1 tahun juga masih 2 kali, walaupun sama-sama masih lewat proses menyusu.

Setelah melewati usia 6 bulan, herannya meisje-H malah lebih sering terbangun. Apalagi setelah lebih aktif, bisa duduk dan berdiri, bangunnya sampai 4-5 kali setiap malamnya. Gw yang sangat mencintai tidur ini pun memutuskan untuk kembali co-sleeping setelah bangun malam-nya yang pertama (alias setelah orang tuanya bersiap tidur), biar tinggal lep, beres deh, tidur gw tidak terganggu setiap malamnya.

Bobo jaman sebelum pakai slaapzak

Bobo di zaman pra-slaapzak

Co-sleeping merupakan common practice di Indonesia, tapi tidak dengan di sini. Seandainya kami bilang ke dokter atau suster di Posyandu sini, kami pasti dinasehati. Jadi kami selalu bilang meisje-H tidur di crib-nya (gak boong dong? Kan iya sampe jam 11 :p ) tetapi masih harus menyusu untuk tidur. Untuk masalah menyusu sebagai sleep association, si suster tidak bisa menyarankan apa-apa. Mereka bilang, itu masalah budaya. Di Belanda (atau barat? Kecuali yang mengikuti ajarannya Dr. Sears), di awal sleep training anak akan dibiarkan menangis sampai tertidur sendiri (cry-it-out) dan pada akhirnya akan mengerti untuk tertidur sendiri tanpa menangis atau hanya menangis sedikit. Yah mungkin juga itu alasannya sebagian orang tua di sini memberi anaknya pacifier, ya sebagai pengganti sleep association itu lah.

Menginjak usia 1 tahun dan menjelang gw kuliah lagi, gw berpikir untuk mengajari meisje-H tidur tanpa disusui terlebih dahulu agar dia terbiasa melakukannya di daycare. Kegiatan menyusu tetap ada, tetapi dilakukan di luar kamar, bukan sebagai kegiatan terakhir pengantar tidur. Mengikuti saran dari artikel-artikel mengenai sleep training, kami pun membuat bedtime routine untuk meisje-H. Baca lebih lanjut

Mommy’s Side: Untuk Diingat

 

IMG_1783

Mami & Meisje-H di Barcelona, seperti biasa foto sok-sok misterius

Saat lelah menghadapi meisje-H yang pilih-pilih makanan,
lihatlah diri sendiri yang baru mau makan daging sapi setelah kenal steak tanpa lemak, dan baru rutin makan sayur setelah bekerja.

Saat lelah menghadapi meisje-H yang belum bisa sleep through the night,
ingatlah diri sendiri yang ketika SD sesekali masih terbangun di tengah malam kemudian pindah ke kamar orang tua.

Saat khawatir menghadapi meisje-H yang tidak suka bermain pasir (padahal main pasir bagus buat melatih sensory anak, kan?),
lihatlah diri sendiri yang bukan penggemar pantai, salah satunya karena pasirnya.

Saat khawatir menghadapi meisje-H yang tidak segemuk anak lainnya,
ingatlah diri sendiri yang seumur hidup kurus, bahkan saat hamil.

Saat sempat khawatir menghadapi meisje-H yang lama beradaptasi di daycare,
lihatlah diri sendiri yang belakangan ini tidak begitu nyaman menjadi bagian baru dari komunitas pertemanan yang sudah established.

Saat khawatir menghadapi meisje-H yang tidak nyaman di tempat yang terlalu ramai
ingatlah diri sendiri yang sering memilih diam jika keadaan sudah terlalu ramai, dan hanya bisa all-out di depan keluarga atau teman terdekat.

Karena buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya (walaupun muka 99% mirip Abi-nya).

Update sedikit (postingan ini idenya sudah lama, tapi baru terealisasi jadi ada bagian yang lupa). Suatu malam di tengah hari-hari GTM-nya meisje-H, gw berkata kepada Suami, “Harusnya ga usah sedih ya meisje-H ga mau makan, sedih tuh kalau udah gede dia ga mau sholat”. Iya sih, kadang-kadang emang gw kebanyakan khawatir sama hal yang gak esensial, padahal namanya juga anak-anak 😀 (halah, pasti masih akan berulang juga kok khawatirnya si Mami :p).

Two years down the road: the view so far

IMG_0627

Gua janji untuk diri sendiri dan istri bahwa gua akan menulis sesuatu di ulang tahun kedua pernikahan gua. Sudah 6 minggu sejak hari-H tersebut, tetapi gua belum juga memenuhi janji tersebut, I’ve been so busy.. Beberapa hari yang lalu, dalam sebuah percakapan di grup whatsapp teman-teman kuliah, gua menulis pendapat gua tentang kesibukan. Jaman sekarang hampir semua orang sibuk. Waktu yang ada tidak akan cukup untuk melakukan semua hal yang perlu atau ingin dilakukan. It’s all about priorities. Kalau emang penting, you will make time for it. Lantas gua pun teringat dengan janji gua ini, and so I’m making time for it.

Semenjak bekerja di perusahaan baru, gua mempelajari banyak hal yang sifatnya non-teknikal. Salah satunya adalah STARR method. Kepanjangan dari STARR adalah Situation, Task, Action, Result, dan Reflection. Metode ini sangat berguna untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan sulit dalam interview. Dan di kantor gua sekarang, reflection adalah catch phrase yang sangat sering didengar untuk membahas peristiwa-peristiwa lampau. Dus.. gua akan sedikit membuat reflection tentang 2 tahun ke belakang (gua harus menggunakan kata reflection karena kalau gua menggunakan refleksi maka yang terbayang adalah pijat refleksi..).

Dua tahun yang telah gua jalani bersama istri adalah dua tahun yang singkat tapi banyak sekali perubahan. In a way, it’s a like a mini journey of a lifetime. Baca lebih lanjut

Introducing Solid Foods: The 1st Month

Dan entah kenapa gw jadi suka dengan judul postingan macam ini, diawali sebuah kata atau frasa, diberi titik dua dan diberi keterangan tambahan :p 

Besok Meisje-H menginjak tepat usia 7 bulan, artinya 1 bulan sudah sejak dia diperkenalkan dengan solid foods. Di sini gw menggunakan istilah solid foods karena secara internesyenel disebutnya memang demikian, tidak terlalu membesar-besarkan ke’ASI’-annya dengan menggunakan istilah yang populer di Indonesia Raya.

IMG_6586Meisje-H & her favorite menu so far (zucchini with cereal)

Reference
Acuan belajar gw adalah website yang disarankan oleh DSA pertamanya meisje-H di Indo – DSA yang menekankan orang tua buat banyak belajar sendiri -, yaitu dari MayoClinic dan BabyCenter yang memang kolomnya diisi oleh expert. Selain itu gw juga suka sama WebMD dan AskDrSears. Untuk lebih detail soal makanannya, gw mengacu ke wholesomebabyfood dan Homemade-babyfood-recipes. Keduanya menjelaskan secara detail setiap jenis makanan (karbo, sayur, buah, daging, dairy) mulai dari cara memilihnya (pentingkah organik dll dsb), cara memasaknya, usia yang disarankan, dan resep terkait. Yang jelas referensi-referensi di atas satu suara, all babies are different, jadi ya dicocok-cocokan saja dengan kondisi masing-masing. Setelah dijalani juga malah banyak dapet insight sendiri kok. Kalopun gw mau nanya pengalaman orang, gw nanya langsung ke orang yang gw percaya. Yang sering jadi korban adalah Ichamon, mamak pragmatis yang walaupun belajar juga tapi pada prakteknya banyak pake feeling, natural gitu. Baca lebih lanjut

Mommy’s Side: Cerita Nursing

Karena cerita kehamilan dan persalinan sudah dijelaskan lewat summary dari sisi suami dengan sangat baik – selalu jadi “aww… “ moment buat gw membaca tulisan suami dari dulu :”) – gw ga bakal nulis panjang lebar tentang kedua proses itu.

Salah satu yang gw highlight dari tulisan suami tentang persalinan adalah about us being jumawa bahwa sepertinya semua bisa didapat aja kalau berusaha.

Gw (dan suami) cukup optimis bisa lahiran normal. Gw sih kurang tau seoptimis apa suami, tapi gw sangat optimis. Kondisi kehamilan gw bisa dibilang tidak bermasalah – gw hanya mual di minggu pertama gw tau gw hamil, yang pada akhirnya gw curiga itu sugesti –, badan ini yang cukup aktif naik turun tangga setiap hari di rumah dan kantor Balikpapan, sampai keyakinan gw dengan badan pear shaped yang mitosnya gampang melahirkan.

Ternyata, setelah ditunggu 32 jam di RS gw harus dioperasi di hari ulang tahun gw untuk melahirkan sesosok kado istimewa. Hubby’s already told the story.

Masih belum ‘pinteran’, pikir gw kalau untuk hal yang gw optimis aja gak berhasil, apalagi yang gw rada-rada pesimis yaitu soal nursing. Pertama, gw tidak mengalami pembesaran yang signifikan pada cup selama kehamilan. I could still use the A cup, cuma angka saja saja yang bertambah karena perut membesar. Kemudian sama sekali tidak ada tanda-tanda ASI keluar di trimester ketiga yang dialami oleh beberapa teman yang hamil berdekatan. Last but not least, gw inverted. Lengkap sudah, aku cemas. Banyak sih blog yang gw baca soal size and shape don’t matter, tapi tetep pesimis ditambah mengingat gw pun waktu kecil anak sufor. Baca lebih lanjut

Being a Father: The Early Days

Gua sempet mengikuti TV Series Parenthood. Di awal season 5, Crosby, salah satu tokoh mereka untuk pertama kalinya mendampingi istrinya dalam kelahiran anaknya. Hubungan dia dan istrinya cukup rumit karena mereka sudah punya anak di luar nikah dan begni dan begitu dan begini dan begitu. Anyway, gua tidak berniat membahas serial ini. Hal yang menarik bagi gua adalah ketika si Crosby di hari-hari awal kehadiran anaknya merasa mengalami kesulitan untuk merasakan sesuatu dengan anaknya. Dia melihat bagaimana istrinya langsung memiliki instant connection sementara dia selalu bingung dengan apa yang harus dia rasakan saat dia bersama anaknya. Crosby pun memanggil kakaknya, Adam si family man sejati, untuk meminta nasihat. Adam, bukan istrinya Inul, pun memberi nasihat agar Crosby take-it-easy sembari menerangkan kalau dalam kasus si Adam sendiri dia langsung memiliki koneksi dengan anaknya semenjak lahir.

Awal-awal kelahiran bayi memang hari-hari yang cukup unik buat seorang bapak. Seorang ibu biasanya memiliki rasa terhubung yang sangat kuat dengan anaknya karena, well, bayinya tumbuh di dalam perutnya dan begitu lahir bayinya menyambung hidup dengan menyusui dari si Ibu. Agak aneh kalau aktivitas-aktivitas itu tidak menjamin hubungan perasaan yang kuat antara ibu dan anak (baby blues aside).

Lalau bagaimana dengan hubungan bapak dan anak?

Gua baru punya satu anak dan belum lama menjalani pengalaman sebagai bapak, tapi gua bisa tebak kalau setiap bapak pasti memiliki kondisi yang berbeda. Jika seorang bapak ditanya apakah dia sayang/tidak dengan anaknya, jawabannya tentu jelas. Tapi sayang bukan berarti seorang Bapak sudah merasa terkoneksi dengan anaknya. Waktu istri mulai mengandung, perasaan kebapakan gua belum terlalu muncul. Perasaan yang dominan hanyalah perasaan sebagai seorang suami yang merasa harus lebih perhatian  dan menjaga istri yang sedang hamil. Kalau di film-film, sering digambarkan sepasang suami (dan istri) yang begitu terharu melihat sonogram janin yang akan menjadi anak mereka. Gua tidak begitu. Pertama kali istri di-USG, reaksi gua cuma: oh. Berikutnya gua pun cuma berusaha fokus dengan bagian dari gambar yang harus gua lihat dan bertanya pada dokter apakah semua normal. Anak gua yang pemalu pun selalu memalingkan wajahnya setiap akan diambil foto atau direkam, maka tidak pernah ada momen di mana gua terharu melihat gambar sonogram. Baca lebih lanjut

Being a Father: Persalinan

Semenjak mengetahui istri hamil, gua memang sudah membooking 2 minggu cuti untuk bisa menjadi suami siaga + mengurus bayi di hari-hari pertamanya. Semenjak berencana resign, gua tambah rencana cuti tersebut menjadi 2,5 minggu karena cuti tersisa kurang terasa kalau diuangkan, mending jadi hari libur ajah. Hari-hari tersisa di Balikpapan gua jalani dengan resah dan gelisah khawatir kalau malam-malam istri udah kontraksi atau kalau-kalau si anak udah mau lahir sebelum gua sampai di Jakarta. Istri pun punya kekhawatiran demikian, makanya dia sering bicara ke dalam perutnya supaya si anak menunggu bapaknya pulang dulu baru keluar. Ternyata terbukti sukses, si anak menanti bapaknya ke Jakarta. Sekitar 10 hari sebelum HPL gua udah stay tune di Jakarta. Sebelum ke Jakarta, gua udah ngasih tau ke kantor bahwa gua akan resign dan udah ngasih surat resign yang sekaligus menjadi one month notice. Intinya sih, pas gua cuti gua udah sama sekali nggak mikirin kerjaan lagi dan beneran cuma fokus ke masalah persalinan.

Setelah gua di Jakarta, tentunya tak ada lagi yang dikhawatirkan. Kita pun mulai melakukan hal-hal yang dianjurkan dokter untuk merangsang kontraksi. Rute jalan kaki pagi kita ambil di sekitaran rumah, sedangkan rute jalan kaki sore kita ambil di mall dekat rumah. Di hari sabtu, istri pun ikut senam ibu hamil di RS tempat kita berencana melakukan persalinan. Kontraksi-kontraksi kecil pun mulai terasa walaupun order of magnitudenya belum seperti kontraksi di film-film. Tidak cukup besar untuk membuat kita merasa harus langsung ke RS. Ketika kita mendatangi dokter (sesuai jadwal kontrol aja), beliau mengatakan bahwa kelahiran bisa terjadi 6-48 jam ke depan. Oke, gua dan istri pun menyiapkan barang-barang yang perlu di bawa kalau-kalau seketika kita harus ke RS. Baca lebih lanjut