Welcoming Banana: Part 2

We were allowed to go home in the evening after I delivered Banana in the morning. My case was considered long because I had to wait for the blood test result in the afternoon. I heard that some of my friends only spent 3-4 hours in the hospital. In Netherlands, pregnancy and birth are considered natural and need very little medical interventions (if not necessary). However, it doesn’t mean that they neglect the newborn babies and the mothers. That’s why they have “kraamzorg”, a postnatal care service for 8 days after labor. It’s a government program paid by the health insurance and run by private institutions. Moreover, a midwife also came to our house three times to check our condition.

Processed with VSCO with hb1 preset

Our kraamzorg with the girls

Our kraamzorg, let’s call her B, helped us taking care of Banana, “reminded” us how to bath her, monitored her growth, and helped me with breastfeeding. She also did some baby-unrelated stuff like cleaning the house, playing with Meisje-H, and kept telling me to get some rest while she’s around. Husband was a bit uncomfortable when once she did the laundry for his clothes; hence he did all the laundry in the end :p. I guess every mom will say the same about their kraamzorg, but I still want to say it.”B was the best!”. We’re so grateful to have her, and the timing was perfect because my parents came exactly the day after her last day. Baca lebih lanjut

Welcoming Banana: Part 1

Prologue: I once thought that I will never write on this blog again since writing is not my thing. I even consider linguistic as my worst of the seven Howard Gardner’s types of intelligence. But then I also think that weaknesses are something to overcome, hence this blog post. I write this post in English because IMO some parts would be too long if written in Bahasa Indonesia. Pardon my grammar 😉

___

Banana with Martini Toren background

This is the story about the pregnancy & delivery of our second born, another Meisje-H (a little girl whose name also started from ‘H’). Instead of calling her Meisje-H 2.0, let’s just call her Banana. My pregnancy with Banana was my third pregnancy after Meisje-H. We didn’t like the idea of contraception; thus, we only use the calendar for birth control. I got a miscarriage in June 2016, in the 12th week of an unplanned pregnancy. I was a bit relieved since I would start my Master year in September (not a feeling I’m proud of, but yes that’s my real feeling). The second one in October was a chemical pregnancy. I was late and had a feeling that I was pregnant, then the pregnancy test said so. My husband and I were both sad when I had my period the week after. From that moment on, we realized that we wanted another baby. Baca lebih lanjut

Being a Father: Persalinan

Semenjak mengetahui istri hamil, gua memang sudah membooking 2 minggu cuti untuk bisa menjadi suami siaga + mengurus bayi di hari-hari pertamanya. Semenjak berencana resign, gua tambah rencana cuti tersebut menjadi 2,5 minggu karena cuti tersisa kurang terasa kalau diuangkan, mending jadi hari libur ajah. Hari-hari tersisa di Balikpapan gua jalani dengan resah dan gelisah khawatir kalau malam-malam istri udah kontraksi atau kalau-kalau si anak udah mau lahir sebelum gua sampai di Jakarta. Istri pun punya kekhawatiran demikian, makanya dia sering bicara ke dalam perutnya supaya si anak menunggu bapaknya pulang dulu baru keluar. Ternyata terbukti sukses, si anak menanti bapaknya ke Jakarta. Sekitar 10 hari sebelum HPL gua udah stay tune di Jakarta. Sebelum ke Jakarta, gua udah ngasih tau ke kantor bahwa gua akan resign dan udah ngasih surat resign yang sekaligus menjadi one month notice. Intinya sih, pas gua cuti gua udah sama sekali nggak mikirin kerjaan lagi dan beneran cuma fokus ke masalah persalinan.

Setelah gua di Jakarta, tentunya tak ada lagi yang dikhawatirkan. Kita pun mulai melakukan hal-hal yang dianjurkan dokter untuk merangsang kontraksi. Rute jalan kaki pagi kita ambil di sekitaran rumah, sedangkan rute jalan kaki sore kita ambil di mall dekat rumah. Di hari sabtu, istri pun ikut senam ibu hamil di RS tempat kita berencana melakukan persalinan. Kontraksi-kontraksi kecil pun mulai terasa walaupun order of magnitudenya belum seperti kontraksi di film-film. Tidak cukup besar untuk membuat kita merasa harus langsung ke RS. Ketika kita mendatangi dokter (sesuai jadwal kontrol aja), beliau mengatakan bahwa kelahiran bisa terjadi 6-48 jam ke depan. Oke, gua dan istri pun menyiapkan barang-barang yang perlu di bawa kalau-kalau seketika kita harus ke RS. Baca lebih lanjut

Being a Father: Kehamilan

Menikah mengubah banyak hal. Tentunya hal ini umum diketahui sebagian besar orang yang sudah maupun yang belum menjalaninya. Sebelum menikah, gua pun sudah menyiapkan mental untuk menjalani perubahan-perubahan yang mungkin terjadi, mulai dari masalah membuat keputusan sampai masalah jadwal kehidupan sehari-hari. Salah satu perubahan terpenting adalah perubahan prioritas. Sebelum menikah, main basket adalah hal yang sangat penting buat gua dan sejujurnya gua pikir tidak akan gua tinggalkan. Setelah menikah, karena jadwal yang kurang cocok antara jadwal pulang kantor dan jemput istri   dan main basket maka gua harus meninggalkan prioritas yang lebih tidak utama, yaitu main basket. Yes, you heard me right, main basket kalah penting dibanding jadwal pulang ke rumah tepat waktu.

Kalau menikah saja telah mengubah prioritas gua, maka menikah dan mengetahui bahwa istri hamil meningkatkannya ke level yang berbeda. Kita mengetahui bahwa si kecil is on the way waktu kita lagi di rumah mertua di Bandung. Istri yang tadinya cuma mikir telat ajah karena stress LDR membeli test pack di apotek deket rumahnya di tengah acara lari pagi tak serius. Hasil tes menunjukkan positif. Sayangnya, kita nggak bisa langsung ke dokter untuk konfirmasi karena gua harus ke Balikpapan. Minggu depannya kita pergi ke dokter kandungan untuk cek. Hasilnya? Ya positif lah, baca aja judul postingannya. Kunjungan ke dokter ini memakan korban berupa partisipasi kita di Jakarta Marathon 2013 yang sudah dibayar (fyi, gua dan istri tidak daftar untuk kategori marathon.. biar ga ada fitnah aja ya :P). Mungkin buat sebagian orang, it’s an obvious decision. Tapi buat gua dan istri yang agak banci tampil di acara-acara lari ibukota, keputusan ini juga merupakan sebuah keputusan yang menunjukkan betapa prioritas kita telah bergeser. Baca lebih lanjut